Ada belukar dan semak-semak yang mengelilingi sebuah rumah kayu kecil di pinggir sungai kecil kota itu. Sungai mengalir pelan-pelan, sesekali memiliki tekstur dari terpaan angin di atasnya. Kanan-kirinya tumbuhan air, ada kangkung, enceng gondok, dan bunga-bungaan kali. Sore itu, pantulan cahaya matahari yang keemasan menjalar dari ujung selatan ke utara sungai kecil itu. Airnya tidak kecoklatan dan jernih kehijauan. Sungai yang lebarnya tidak selebar aspal-aspal ibukota, dan sungai yang syahdunya lebih syahdu dibandingkan cuit burung gereja pagi hari di taman kota. Bisa dibayangkan bagaimana malam di tepi sungai ini? Burung-burung beterbangan ringan di atas air yang tak beriak. Sesekali capung mencoba melawan pertahanan para burung, ketakutan, dan kembali ke jalur semula. Ikan-ikan sesekali menampakkkan diri di permukaan air yang terlihat dampai ke dalam, menembus rerumputan cokelat yang kehitaman. Menyimak lantunan senja, Menimbun lelayu syahdu. Burung merpati deng...
Karena keberadaanku disini, sudah didesain oleh Tuhan!