Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juli, 2019

Masih di Sore Hari

Pohon-pohon lapuk bersemayam di angan pria tua di sebelahku. Ia menceritakan kisah lalunya yang penuh tawa dan gelak candar. Kemudian dahinya mengernyit, Ia tampak merapalkan mantera-matera yang dingin. Ia menengok ke arahku, dan sebulir air mata menetes tanpa sebab. Matanya berkata, "Sakit ini bukan karena tubuhku yang didera, tapi hatiku luluh lantak oleh masa. Waktu menggulirkan pilihan demi pilihan yang mengejar pertanggungjawaban. Aku harus memilih. Aku meninggalkan." Ia menyibakkan air mata yang sesekali turun dari hatinya. "Jika waktu itu datang kembali, kuhaturkan semua pilihan pada sang penjaga".

Menjelang Sore

Hari berlalu, di barat senja meluruh di antara rel kereta. Ia bersembunyi di bilah keduanya. Senja lirih berbisik tentang kenangan dan perjalanan panjang menuju sore di kota tua. Aku lelaki yang berdiri menghadap ke barat dengan badan tegap. Aku dengan hati yang terluka masih mengusung luka di antara kedua pundak tuaku. Aku memaparkan cerita lama seorang kakek tua pada teman hidupnya. Mereka bersenda gurau tentang masa muda. Mereka berpegang tangan menatap laut lepas. Kurasakan sebuah denyut melemah, masih di sebuah kota tua, dan sisi-sisi rel kereta. . Sepuluh meter di sisi utara rel kereta, pohon angsana gugur menderu angin perlahan. Angin mendengkur lirih dengan nafas tersengal-sengal. Angin berkeliaran di sisi-sisi ruang kosong bangunan tua. . Pohon tua di sisi selatan, bergelayutan menari bersama angin. Senja melepaskan temaram dengan nada-nada minor piano tua.