Pohon-pohon lapuk bersemayam di angan pria tua di sebelahku. Ia menceritakan kisah lalunya yang penuh tawa dan gelak candar. Kemudian dahinya mengernyit, Ia tampak merapalkan mantera-matera yang dingin. Ia menengok ke arahku, dan sebulir air mata menetes tanpa sebab. Matanya berkata, "Sakit ini bukan karena tubuhku yang didera, tapi hatiku luluh lantak oleh masa. Waktu menggulirkan pilihan demi pilihan yang mengejar pertanggungjawaban. Aku harus memilih. Aku meninggalkan." Ia menyibakkan air mata yang sesekali turun dari hatinya. "Jika waktu itu datang kembali, kuhaturkan semua pilihan pada sang penjaga".
Karena keberadaanku disini, sudah didesain oleh Tuhan!