Hari berlalu, di barat senja meluruh di antara rel kereta. Ia bersembunyi di bilah keduanya. Senja lirih berbisik tentang kenangan dan perjalanan panjang menuju sore di kota tua.
Aku lelaki yang berdiri menghadap ke barat dengan badan tegap.
Aku dengan hati yang terluka masih mengusung luka di antara kedua pundak tuaku.
Aku memaparkan cerita lama seorang kakek tua pada teman hidupnya.
Mereka bersenda gurau tentang masa muda.
Mereka berpegang tangan menatap laut lepas.
Kurasakan sebuah denyut melemah, masih di sebuah kota tua, dan sisi-sisi rel kereta.
.
Sepuluh meter di sisi utara rel kereta, pohon angsana gugur menderu angin perlahan.
Angin mendengkur lirih dengan nafas tersengal-sengal.
Angin berkeliaran di sisi-sisi ruang kosong bangunan tua.
.
Pohon tua di sisi selatan, bergelayutan menari bersama angin.
Senja melepaskan temaram dengan nada-nada minor piano tua.

Komentar
Posting Komentar