Angka mampu dihitung, huruf bisa dieja, angin lancar terasa, tanah pun mudah dipijak. Tidak dengan hati, ia yang ada di dalam tidak tersentuh masa tidak terlihat mata, ia yang ada di dalam sembunyi menyelidiki waktu menentukan masa yang akan dilalu.Aku pernah bersuka, pada yang menawan. Ia sempat tawarkan sekejap tatapan yang tidak butuh waktu pun hati tlah terpaut. Ia juga beri sedikit waktu luang untuk ku menikmati punggung yang teduh, di baliknya. Ada kala ia berseteru dengan angin, demi menjadi diri sendiri dan aku terduduk menikmati. Ia datang kembali, tawarkan senyum lama. Sekelebat masa bukan menjadi penentu. Aku dan dia punya jalan sendiri-sendiri dan lurusnya beda. Dia berani menentu, aku tersendiri dan di satu sisi. Dia, aku, dan rabu. Masih berbaju hijau dahulu.Kala panggilan merdu tersebut tidak sengaja terucap olehnya. Awan gelap bersenandung syahdu menerang, semakin terang. Mengeja iya dan iya, mana bisa berkata tak. Ada awalan yang perlu diakhiri karena ada panggilan itu. Sekejap saja, semua hanyut dengan lamunan.
Sepoi dan sepoi dilewati jari-jemari seketika telunjuk berdiri menunjuk arah yang tidak diingin, masa bantu aku melupakan.
Senyumnya renyah dan sedikit sering menggelitik, ia juga yang memesona dengan sagenap tawa, biasa saja namun masuk dan menelusup dengan seksama. Ia yang bernama indah dan menempuh masa melalui permadani biasa. AKu tertegun melihat keindahan dan beberapa panorama tepat di tengah warna hitam lensa matanya. Seakan menawarkan paket liburan dan bersamanya menikmati malam. Ia seperti angin rindu dan iklas menampakkan diri di depan cermin tua.
Sepoi dan sepoi dilewati jari-jemari seketika telunjuk berdiri menunjuk arah yang tidak diingin, masa bantu aku melupakan.
Senyumnya renyah dan sedikit sering menggelitik, ia juga yang memesona dengan sagenap tawa, biasa saja namun masuk dan menelusup dengan seksama. Ia yang bernama indah dan menempuh masa melalui permadani biasa. AKu tertegun melihat keindahan dan beberapa panorama tepat di tengah warna hitam lensa matanya. Seakan menawarkan paket liburan dan bersamanya menikmati malam. Ia seperti angin rindu dan iklas menampakkan diri di depan cermin tua.
Komentar
Posting Komentar