Langsung ke konten utama

Sepenggal, jangan sampai mati


Ada kalanya merindu pada masa yang membawa perjalananku jauh lebih panjang!

Tahun lalu, ketika diberi kesempatan mengajar di salah satu kampus kebidanan di Yogyakarta pada hari Selasa, Rabu, dan Jumat (pukul 13.00), sedangkan di Solo punya jam mengajar Senin, Kamis, dan Jumat pagi.

Bangun di fajar hari dan memiliki rutinitas sholat subuh di Klaten -sampai saat ini masjid agung itu usai dibangun- adalah pengalaman yang menyenangkan.

Capek? Iya, terutama ketika hendak memulai perjalanan. Namun ketika ujung kedua headset telah menancap erat di kedua sisi lubang telinga, ketika menghirup udara subuh yang menyejuk, dan ketika Alloh memberi kode tentang alam-alamNya yang bernuansa, seketika itu pula semua lelah luluh menyatu dalam jiwa.
Menjadi pendidik, bukanlah satu-satunya keinginan yang menjadi cita. Jauh lebih tinggi mimpiku kala itu, menjadi akuntan atau ekonom di sebuah perusahaan dengan menyandang setelan jas warna hitam, sepatu mengilat, dasi rapi, dan rambut klimis.
---------
Hari ini, di instagram melihat salah seorang mahasiswiku mengunggah foto di perpustakaan kampusnya. Mengeluh-eluh kecil tentang tugas akhirnya yang belum kunjung selesai. Ah, aku benar-benar merindu pada mereka. Ada juga yang sedang patah hati karena pacarnya selingkuh dengan sahabatnya sendiri, satu-dua mengumbar cerita di berbagai media sosial.
Lihatlah polah tingkah anak itu, sampai-sampai pernah suatu hari, pihak kampus meneleponku, gara-gara seorang mahasiswi sedang melakukan "observasi" di bank kampus. Tugas mata kuliahku, seketika melongo kaget, dan WHAT!
----------
TIba-tiba ingatanku berujar, ketika sarapan di perempatan ringroad jalan wates (kalau tidak salah), sekadar mengecap rasa oseng-oseng simbah itu enak sekali. Terkesan jorok memang, di pinggir jalan dan tidak tertutup tembok rapat, tapi enak mbah oseng-osengnya. Atau indo*ar*t di jalan ringroad dekat kampus yang selalu menjadi tempat nongkrong favorit.
Sampai sekarang sering kesel sama ambulans kampus yang di parkir di lantai 1 dan seakan-akan berskenario di dalamnya ada penumpang.. hahaha...
ah..
-----------
Sekarang, dan sebentar lagi, mahasiswaku dari berbagai negara akan pulang kampungnya masing-masing. Hari ini pembelajaran berbicara, kutanya tentang kehidupannya setelah menyelesaikan program di Indonesia. Jawabannya berbeda-bermacam banyak. Bekerja di kedutaan negaranya, melanjutkan master degree, bekerja di Jakarta, atau "istirahat".
Mengajar bukanlah profesi, namun ibadah!


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Senin Malam

Tidak jauh dari jalan besar, sebuah mobil patroli polisi dengan suara dari pengerasnya melantang. Tidak ada suara lain yang membuyarkan malam selain bising-bising itu. Makin jauh makin hilang. Beberapa hewan kembali merintih kedinginan di balik kayu-kayu besar dan belukar. Sekali-dua kali rel beku kereta api menderu dan mendesis kepanasan diguyuri lokomotif dengan kecepatan penuh. Hawa dingin dari pohon-pohon berdaun lebat menyisakan banyak ruang sepi yang sengaja disiapkan untuk pagi yang silau. Lorong panjang dalam kereta yang memancarkan lampu remang berkilat berbarengan dengan deru laju. Tiba-tiba angin semilir beradu mau. Membisikkan cerita dari kota ke kota. Malam makin larut dan getir kenangan siang tadi masih nenyesakkan pipa-pipa saluran saraf ke otak. . Akan ada yang datang jika seseorang memutuskan untuk pergi.

Prof. Soepomo Poedjosoedarmo

Beliau linguis. Beliau bertempat tinggal di Jalan Kaliurang 4.5 Jogjakarta dan lahir di Wonosari, Gunungkidul. Beliau S-2 dan S-3 di Cornell, lalu menikah dengan orang New York (namanya Gloria Poedjosoedarmo) istrinya juga seorang linguis dan sempat mengajar di UGM. Beliau yang kemudian bersedia tinggal di Indonesia. Istri pertama Eyang Prof. Pomo telah meninggal ketika itu. Eyang dulu dilarang oleh Sang Ibu yang dari wonosari, yang awalnya dapat beasiswa ke Aussie, sudah ditunjukkan eyang Pomo Peta Aussie, dekat. Tetapi Sang Ibu tetap tidak mengizinkan. Kata Sang Ibu, tidak tega anak pergi jauh2 "nanti kalo gak punya uang saku bagaimana cara ibu mau kasih kamu uang". Akhirnya mbah buyut (Sang Ibu) Wonosari, tak lama setelah itu wafat. Jadi, eyang berangkatlah ke jakarta. Gak taunya, eyang dapat kabar bahwa dapat beasiswa S2-S3 di Cornell New York. Lalu eyang ambil sekalian aja ke situ, yg jauh sekalian. Tidak jadi ke Aussie. Dulu kata eyang Pomo, eyang tidak mahir bahasa Ing...

Kereta dan Roti Aroma Kopi

Pada sebuah sore, aromanya menempel di kerah-kerah baju. Benar kata salah satu kawan baru, jika tidak beli maka rasa dari roti itu akan terus terngiang-ngiang sampai besok lusa. Roti yang katanya aroma kopi meskipun di dalamnya ada pecahan keju yang lumer. Yang paling menyenangkan adalah beli dua dan mendapatkan tiga. Hari itu, lahir sebuah firasat. Seorang berkaos lengan panjang mengenakan topi baret warna hitam menenteng tas agak banyak. Biasanya berisi buku tulisannya yang akan dibagi-bagikan. Kami bertemu. Pertemuan yang tidak disengaja dan bukan seperti biasanya. Sebuah roti berbungkus warna kuning di tangan masing-masing. Bertatapan lama dan saling terbahak menertawakan firasat sore itu. Ada dua buah kereta dengan tujuan berbeda. Satu kereta menuju perjalanan biasanya dan satu lagi mengantarkan pada tugas negara. Kami berpisah di stasiun tua, stasiun yang kini kami sama-sama lupa kabarnya. Dia pergi lebih dahulu menenteng tas yang banyak jumlahnya dan masuk kereta eksklusif denga...