“ Cukup ! Sudah seharusnya hening yang kita cipta mengalah di frasa terakhir alinea penutup ini.” Mungkin bebek tak lagi sedia mendekap masa-masa lalu di jajaran kenangan para bebatuan. Para bebatuan lupa membentuk perspektif. Sudut pandang kalut pada rasa yang mereka pendam di waktu yang terkata lama. Waktu bersilih, angan berganti, dan bebatuan beristighfar. .......................... Batu memiliki jiwa dalam masing-masing kesendiriannya. Kadang mereka sempat bercakap mengenai mitos dan elegi di kisah kedua sampai perbincangan berakhir di flakon-flakon kotor yang terserak di belah sisi kanan mereka. Flakon terbesar terisi air hujan, pada deras beberapa kali yang lebat. Endap tanah, lumut ringan, karat-karat kaca menjadi motif ringan para pembeda di merek yang sama. Kepergian dalam waktu yang terlalu tiba-tiba! Ia memutuskan untuk menyisakan isak dan sedikit sendu di pojok kanan jantung yang masih dibiarkan kosong untuk sementara waktu. Beberapa arteria berperan mah...
Karena keberadaanku disini, sudah didesain oleh Tuhan!