“Cukup! Sudah seharusnya hening yang
kita cipta mengalah di frasa terakhir alinea penutup ini.” Mungkin bebek tak
lagi sedia mendekap masa-masa lalu di jajaran kenangan para bebatuan. Para
bebatuan lupa membentuk perspektif. Sudut pandang kalut pada rasa yang mereka
pendam di waktu yang terkata lama. Waktu bersilih, angan berganti, dan bebatuan
beristighfar.
..........................
Batu memiliki jiwa dalam
masing-masing kesendiriannya. Kadang mereka sempat bercakap mengenai mitos dan
elegi di kisah kedua sampai perbincangan berakhir di flakon-flakon kotor yang terserak
di belah sisi kanan mereka. Flakon terbesar terisi air hujan, pada deras
beberapa kali yang lebat. Endap tanah, lumut ringan, karat-karat kaca menjadi
motif ringan para pembeda di merek yang sama.
Kepergian dalam waktu yang terlalu
tiba-tiba!
Ia memutuskan untuk menyisakan isak
dan sedikit sendu di pojok kanan jantung yang masih dibiarkan kosong untuk
sementara waktu. Beberapa arteria berperan mahir sebagai pembuluh nadi. Ia
alirkan darah-darah kesepian-kegundahan-kecemasan untuk menderu serentak ke
seluruh bagian tubuh. Sampai pada titik puncak hipotesisnya, ia akan mengalami
arteriosklerosis! Simpelnya, arteriosklerosis adalah pemberontakan para
pembuluh nadi. Ia potong para
jalan-jalan raya dan menyumbatnya! Ia tebalkan dinding-dinding jalan nadi
sampai jantung tak bisa berkutik-menyerah-dan menghilangkan rasa yang kemarin
lusa sempat ada.
“Kemana?”
Jika tanya ini sempat disampaikan di
rotasi setir ke arah 60 derajat, maka otot pergelangan tangan setidaknya mampu
memberi sinyal kepada otak untuk bertahan lebih lama. Mengecap rindu di
persimpangan jalan, bukan memilih jalan pulang. Karena pada masa yang sama
ilustrasi lampu-lampu belakang mobil membentuk kedip yang disengaja sebagai
pengakuan. Peluang tanya adalah refleksi dari pengada yang kucipta oleh izinmu.
Lusa, beberapa angsa menghampiri
pucuk beringin rindang menganyam kenyamanan. Hinggap dan menangkap makna dalam
haluan irama pada daun yang jatuh dan kekuningan. Beberapa dekade terakhir,
daun yang jatuh bertumpuk di satu himpunan yang sama. Mereka menyudahkan riwayat
dan narasi bersambung.
Para batu mengidentifikasi flakon. Sesekali
mengernyitkan dahi, sembari mengumbar cerita lama, dan akhirnya kembali
tertawa. Di akhir tawa pertama, cerita kembali dimulai dengan gertakkan yang
lebih tinggi pada akhir cerita. Ini sebuah kisah baru.
“Bebek yang kemarin sore, tidak lagi
datang”
Seperti sebuah ideogram (huruf
pelambang bagian ujaran-red) di kode-kode berwarna monokrom, mereka kembali
berbisik dengan nada melirih. Menanya-mengena dan beberapa kali mengisyaratkan sinopsis
lama. Kotorannya masih menempel di saku batu sebelah kanan. Ada juga beberapa
bulu yang bersempat menempel dan mengelus-elus lembut batu sebelah kiri. Dan
bebek membiarkan para batu jatuh cinta dengan satu diorama sejuk di batas malam
sebelumnya.
“Kau dulu yang meledekku, rasa ini
adalah klausabilitas dari apa yang kau rencanakan di awal perjanjian!”
Intonasi bersitegang dengan cerita
di prolog cerita horor di sebuah kota di Tokyo. Salju yang hinggap dengan
perasaan bersalah menyuarakan kebijakan para awan yang mengudara,
mengestimasikan waktu paling sahih. “Kita berada di sebuah situasi yang tidak
tepat”. Mereka melanjutkan halusinasi wangi tahi bebek. Serat-serat yang
menggumpal di tonjolan-tonjolannya, yang tidak seencer biasanya.
Lumut yang menempel di
dinding-dinding batu keheranan. Para lumut bersandiwara, menguping perbincangan
para batu. Menengadah kali-kali hujan datang sore ini. Bebek tak kuasa
membuatnya jatuh cinta. Para lumut bersangsi pada plot cerita bebek dan para
bebatuan. Mereka kembali memainkan drama tiga babak.
“pada akhirnya para batu
bersedimentasi, dan kitalah yang ditaubatkan sebagai pemangku kemenangan.”
Bisik lumut di sentimeter ketiga dari pojok kiri atas. Lumut terlalu sering
berasumsi dalam diam, mereka menerka hal-ikhwal tanpa menanya usia. Pada
kenyataannya, masa nyawa lumut akan tereliminasi oleh kemarau panjang di akhir
musim ini. Mereka kadang berasumsi diri suci, menganggap lahirnya adalah simbol keberadaan. Pada kenyataannya,
gambut adalah tanah lunak dan basah yang terdiri dari lumut dan bahan tanaman
lain yang membusuk. Para lumut lupa teori geologi ini.
“Bebek akan kembali! Semua berhati-hatilah,
berjaga-jagalah!” Seru batu terkecil yang warnanya keputihan pucat pasi. Mereka
bertatapan, menunggu cemas, menanti panik, waspada-curiga, mengendap senyap.
Dan, nyatanya setelah sekian waktu, bebek tak pula datang. Tak lagi menghampiri,
menghapus kenang. Si sulung sengaja
membuat gaduh.
Menunggu! Menunggu! Sampai penantian
berada di penghujung terang. Para batu melingkup semua rindu, menggulung
kenangan dan sekian sekon kisah. Sedikit angan-angan para batu memecah hening.
Langit teduh tak berasa sama. Baginya, cukup mereka membentang merdu dengan
semburat rindu. Kegelisahan dalam cemas, kerinduan membuncah!
Pohon-pohon sepah di atas gundukan
para batu tertawa, mereka tahu bebek dimana.
Komentar
Posting Komentar