Jogja, malam minggu, hujan, dan radio prambors. Lampu kamar mandi nyala temaram kekuningan. Jendela dibiarkan terbuka bercelah agak lebar. Minggu lalu, kecoa varian terbang bercangkang emas lolos masuk kamar melaluinya. Butuh nyali untuk membuatnya binasa!
Di seberang kamar, ada yang kebingungan hendak menunaikan tugas penting sebagai diri dan pembawaan kekeluargaan. Hujan yang ia prediksi bakal menentukkan arah dan tujuan. Motor masih terparkir di luar pintu keluar. Sudah bentuk petanda, ia akan keluar lagi meski belum pasti. Biasanya ia tidur dan pada tengah malam kubangunkan demi memasukkannya.
Tiba-tiba Coldplay menggitari lirik Up and Up mengindikasikan suksesnya malam yang makin sendu. Kadang malam sendu diciptakan Tuhan dengan lantaran radio prambors dan kipas angin menyala skala kecepatan 3.
Apa kabarmu yang jauh di tempat sana? Di kota yang dingin dan penuh cerita.
-Tempat yang susah kuraih-
Oh, iya.
Memang huruf A bisa menjadikan Api, Air, dan Angin. Urutan tiga unsur yang melegenda karena kekuatannya dan keseimbangan elemennya. Apa kau tahu, tentang penciptaan yang terakhir? Ia adalah sebuah pelabelan diri, dan sesuatu yang terpatri di awal menuju akhir. Huruf A sebagai prolog semua cerita menjadikan penciptaan ini lebih istimewa. Dan penciptaan terakhir itu adalah nama mu. Di setiap foto yang kausuka selalu memunculkan tanda keberadaanmu. Abjadmu membuatku mengingat tentang cerita yang dulu ku sengaja tinggalkan.
Kemarin, aku menceritakan tentangmu di muka umum. Di depan para khalayak yang menantikan kebohongan teoretis dalam abjad yang kau susun. Kuberi sedikit bumbu tentang baiknya kamu dan jeleknya kamu. Sedikit kelakar, meski akhirnya adalah sebuah renung di maghrib gelap. Ada seorang siswa yang bertanya, bagaimana bisa aku mendeskripsikanmu dalam ejaan lama bahasa hati yang kususun dalam sebuah alinea pembuka sampai epilog baru yang diciptakan menggantung?
Menurutmu, bagaimana jawab luguku?
Hipotesis pertama:
Keberadaanmu mendaki pelan di sebuah klimaks. Sebuah pencapaian yang membutuhkan pengadaan diri. Keberadaanmu ada di benak, mengendap lama.
Memang huruf A bisa menjadikan Api, Air, dan Angin. Urutan tiga unsur yang melegenda karena kekuatannya dan keseimbangan elemennya. Apa kau tahu, tentang penciptaan yang terakhir? Ia adalah sebuah pelabelan diri, dan sesuatu yang terpatri di awal menuju akhir. Huruf A sebagai prolog semua cerita menjadikan penciptaan ini lebih istimewa. Dan penciptaan terakhir itu adalah nama mu. Di setiap foto yang kausuka selalu memunculkan tanda keberadaanmu. Abjadmu membuatku mengingat tentang cerita yang dulu ku sengaja tinggalkan.
Kemarin, aku menceritakan tentangmu di muka umum. Di depan para khalayak yang menantikan kebohongan teoretis dalam abjad yang kau susun. Kuberi sedikit bumbu tentang baiknya kamu dan jeleknya kamu. Sedikit kelakar, meski akhirnya adalah sebuah renung di maghrib gelap. Ada seorang siswa yang bertanya, bagaimana bisa aku mendeskripsikanmu dalam ejaan lama bahasa hati yang kususun dalam sebuah alinea pembuka sampai epilog baru yang diciptakan menggantung?
Menurutmu, bagaimana jawab luguku?
Hipotesis pertama:
Keberadaanmu mendaki pelan di sebuah klimaks. Sebuah pencapaian yang membutuhkan pengadaan diri. Keberadaanmu ada di benak, mengendap lama.
Ketika memutuskan untuk terus melanjutkan cerita ini Shawn Mendes mendendangkan lagu "Treat You Better", apa yang ada di benakku mengenai subjek pada lagu tersebut? Jawabannya adalah kamu. Inilah yang tadi kujelaskan mengenai hipotesis pertama. Bahwa tanpa adanya kamu, benakmu sudah mengendap lebih dulu.
Hipotesis kedua:
Peluang.
Berbicara mengenai peluang maka lekat dengan istilah permutasi dan kolaborasi. Tentunya, permutasi keberadaanmu dan eksekusiku untuk menjadikanmu ada jauh lebih tinggi dari keinginanku menggantimu.
Maka, prinsip ekonomi tentang subtitusi dan komplementer luluh dalam hitungan sekon. Pada cerita ini, kuingin menyatakan hipotesis bahwa, adanya kamu adalah peluang masuk yang tinggi di tempat yang sedang sengaja kubiarkan kosong, dan aku sendiri yang lupa caranya mengeluarkanmu dari sana.
Di akhir sebuah imajinasi, beberapa degup perkusi memainkan instrumennya. Beberapa bait yang diciptakan seperti sengaja menggiringku ke arahmu. Tapi tunggu, ada satu kata yang menjadikanmu sama dan menjenuhkan. Ohiya, tentang sebuah cerpen, kau mengatakan padaku, akan segera kau kirim di akhir baris. Aku menunggu.
Hipotesis kedua:
Peluang.
Berbicara mengenai peluang maka lekat dengan istilah permutasi dan kolaborasi. Tentunya, permutasi keberadaanmu dan eksekusiku untuk menjadikanmu ada jauh lebih tinggi dari keinginanku menggantimu.
Maka, prinsip ekonomi tentang subtitusi dan komplementer luluh dalam hitungan sekon. Pada cerita ini, kuingin menyatakan hipotesis bahwa, adanya kamu adalah peluang masuk yang tinggi di tempat yang sedang sengaja kubiarkan kosong, dan aku sendiri yang lupa caranya mengeluarkanmu dari sana.
Di akhir sebuah imajinasi, beberapa degup perkusi memainkan instrumennya. Beberapa bait yang diciptakan seperti sengaja menggiringku ke arahmu. Tapi tunggu, ada satu kata yang menjadikanmu sama dan menjenuhkan. Ohiya, tentang sebuah cerpen, kau mengatakan padaku, akan segera kau kirim di akhir baris. Aku menunggu.
Komentar
Posting Komentar