Menunggu lapuk bersaut pada pohon-pohon tua berjajar meranggas. Daun-daun menjatuhkan dirinya tepat di altar berpusara sebuah hati yang ditenggelamkan pada bait puisi. Lima bait paling tidak satu karya ia sematkan rasa yang katanya jauh lebih sakit daripada baik keenam yang berkata-kata tentang jatuh atas pelukis yang salah imajinasi. Bergegas menuju sebuah pelabuhan bercamar muram. Semenjak cerita di masa lalu dianggap dongeng kekanak-kanakkan. Bait pertama menyerat sebuah syair dengan awalan kisah sendu seorang pujangga yang patah hatinya. Ia tuliskan gempat yang ramai di antara cetakan kertas-kertas kuno dan patung berhiaskan warna jingga dan ungu di sela baju-bajunya. Sore saat mentari memuncak di ujung beberapa bukit senja, ada satu garis di antara khalayak dedaunan yang berseteru memanggil kuasa Tuhan untuk mengadu tentang kisah sepenggal sepi karena rasa yang diujarkan. Sederhananya, batu di antara pohon berakar kekar pun membutuhkan perseteruan yang tidak ada henti-hen...
Karena keberadaanku disini, sudah didesain oleh Tuhan!