Gedung tua dengan beberapa
jendela lapuk menganga sempit, berderit sepanjang waktu, terdengar menyedihkan
dan sedikit sendu. Di pelipis jendela, bergayuh-gayuh rapuh, ronta, batang
bunga lapuk enggan mati, segan bersambut. Di sampingnya, berhias-berjajar sedikit
lemah mainan lawas dan patung-patung ornamen kaca. Gesekan merdu lantunan batang-batang pohon di sekelilingnya menyuarakan perpisahan, kesakitan, dan beberapa rasa yang belum sempat disampaikan dengan cara yang apik, selain tetesan air mata di sela-sela hujan musim kemarau.
Sepanjang cerita, di kaki-kaki
meja patah di ujung karena lapuk. Sesekali rapuhnya terinjak kasar, merelung di
antara angin-angin yang bersepoi ringan. Sesekali daun jatuh dari pohon tua di
sampingnya, menelusup masuk lewat rongga di atas jendela. Ventilasi kecil
beratap kayu-kayu tipis berdecit seperti engsel rapuh jendela berkaca bingkai
kayu plitur yang mulai luntur di makan usianya sendiri. Ada sebuah cerita yang katanya lebih sakit dibandingkan kolase sederhana pecah karena dipaksa memahami sebuah cerita tanpa plot, tanpa tokoh, dan tanpa setting.
Dedaunan yang jatuh sesekali
bimbang terkoyak angin lalu-lalang di antara sore menuju malam. Daun bertumpuk
mesra, sesekali terpisah karena waktu. Daun bertulang kecil akhirnya kembali
jatuh ke tanah gersang. Daun tersebar lepas di sepanjang meja dan lantai-lantai
dasar ruang tamu sempit yang dikelilingi bupet-bupet tua berdinding karpet
yang lemnya terkelupas. Daun yang berbeda jatuh di ujung-ujung ruang yang selalu menceritakan kisah. Kisah anak-anak kecil yang berlari riang di sebuah ruang beralaskan kayu, berstruktur kasar.
Di siang hari, temperatur tidak terlalu
membuncahkan termohidro pada penguapannya. Genangan air pun menjadi bercak di
beberapa pojokan rumah. Di bawah pohon tua, genangan paling besar sesekali
menggema berpola lingkaran karena daun yang jatuh. Akar-akar pohon besar
mengeluarkan porinya mencari nafkah untuk akar-akar kecil di dalamnya.
Burung-burung mungil warna-warni mengepakkan sayap, mengeringkan bulunya, usai
berkungkung di genangan.
Pada sore hari, senja menelisik melalui
celah daun pintu dan engap-engap jendela di timur ruang tamu. Sebuah lemari
besar menonjol di antara dinding-dinding luar rumah yang dilapisi cat luntur. Vas
bunga kering sesekali berkabar tentang dirinya dan laparnya. Vas bercerita pada
rerontokan daun yang jatuh, melebur di tanah renggas. Ia berbicara lantang
mengenai nafasnya yang tersengal-sengal.
Senja selalu punya cara yang sama untuk memasuki sebuah cela, yang disebut kenangan. Ia bisa memasuki tiap ventilasi dengan sempurna, sedikit membeberkan cerita kecil yang didramatisir ulang untuk mengangkat ide-ide konyol tentang perpisahan yang akan disengaja. Jejak-jejak berpisah pada sebuah alur cerita tanpa naskah. Sengaja menyembunyikan awalan dan akhirannya, agar cerita itu dikatakan sempurna.
Senja selalu punya cara yang sama untuk memasuki sebuah cela, yang disebut kenangan. Ia bisa memasuki tiap ventilasi dengan sempurna, sedikit membeberkan cerita kecil yang didramatisir ulang untuk mengangkat ide-ide konyol tentang perpisahan yang akan disengaja. Jejak-jejak berpisah pada sebuah alur cerita tanpa naskah. Sengaja menyembunyikan awalan dan akhirannya, agar cerita itu dikatakan sempurna.
Malamnya, setitik cahaya di langit
berkode. Sesekali berkedip karena cahayanya berbinar terang. Si pohon tua tiada
meranggas lagi, dirinya tenang dan mendengkur pelan dalam tidurnya. Beberapa burung
kecil tahu diri, menghilang untuk kembali esok.
Bagaimana dengan secangkir kopi?
Yang diseduh dengan air panas matang, ceret tua berbokong arang.
Ia tumpahkan sedikit bubuk kopi mengelilingi mulut cangkir dengan presisi. Semua ia tentukan dengan sebuah perhitungan hati. Hati yang sengaja dibuat kosong lebih dulu, untuk sekadar mengisi cerita di bagian tengahnya. Serbuk kopi yang di pinggir gelas, menyisakan pahit yang berbeda di akhir seduhan.
Kopimu, kusiapkan dengan sedikit berbeda. Ada getir yang mengelilingi lidahmu ketika meminumnya dengan hati yang tak kau siapkan pada hakikatnya. Kesedihan? Ya.. Ada pula di sudut kecil cangkirmu, kusiapkan kesedihan yang hanya aku dan kamu yang tahu. Betapa dalam sebuah rasa, sengaja ku pendam untuk membuatnya jauh lebih baik.
Melepas sesuatu yang hampir digenggam, memang sulit.
Pada ujung ruang di sebuah koridor rumah tua, kau tepuk pundakku dengan mesra. Kau utarakan maksud dan akhir dari sebuah perpisahan yang di sengaja sore itu. Sore di sana, di sebuah rumah tua dengan sepaket senjanya.
Kau bubuhkan senyum kecil, dan sedikit tatap hangat di antara kacamatamu. Ku sentuh tanganmu, dan membisikkan ketiada-an mu yang sempat menyakitkan.
Bagaimana dengan secangkir kopi?
Yang diseduh dengan air panas matang, ceret tua berbokong arang.
Ia tumpahkan sedikit bubuk kopi mengelilingi mulut cangkir dengan presisi. Semua ia tentukan dengan sebuah perhitungan hati. Hati yang sengaja dibuat kosong lebih dulu, untuk sekadar mengisi cerita di bagian tengahnya. Serbuk kopi yang di pinggir gelas, menyisakan pahit yang berbeda di akhir seduhan.
Kopimu, kusiapkan dengan sedikit berbeda. Ada getir yang mengelilingi lidahmu ketika meminumnya dengan hati yang tak kau siapkan pada hakikatnya. Kesedihan? Ya.. Ada pula di sudut kecil cangkirmu, kusiapkan kesedihan yang hanya aku dan kamu yang tahu. Betapa dalam sebuah rasa, sengaja ku pendam untuk membuatnya jauh lebih baik.
Melepas sesuatu yang hampir digenggam, memang sulit.
Pada ujung ruang di sebuah koridor rumah tua, kau tepuk pundakku dengan mesra. Kau utarakan maksud dan akhir dari sebuah perpisahan yang di sengaja sore itu. Sore di sana, di sebuah rumah tua dengan sepaket senjanya.
Kau bubuhkan senyum kecil, dan sedikit tatap hangat di antara kacamatamu. Ku sentuh tanganmu, dan membisikkan ketiada-an mu yang sempat menyakitkan.
Komentar
Posting Komentar