Menunggu lapuk bersaut pada pohon-pohon tua berjajar meranggas. Daun-daun menjatuhkan dirinya tepat di altar berpusara sebuah hati yang ditenggelamkan pada bait puisi. Lima bait paling tidak satu karya ia sematkan rasa yang katanya jauh lebih sakit daripada baik keenam yang berkata-kata tentang jatuh atas pelukis yang salah imajinasi. Bergegas menuju sebuah pelabuhan bercamar muram. Semenjak cerita di masa lalu dianggap dongeng kekanak-kanakkan.
Bait pertama menyerat sebuah syair dengan awalan kisah sendu seorang pujangga yang patah hatinya. Ia tuliskan gempat yang ramai di antara cetakan kertas-kertas kuno dan patung berhiaskan warna jingga dan ungu di sela baju-bajunya.
Sore saat mentari memuncak di ujung beberapa bukit senja, ada satu garis di antara khalayak dedaunan yang berseteru memanggil kuasa Tuhan untuk mengadu tentang kisah sepenggal sepi karena rasa yang diujarkan. Sederhananya, batu di antara pohon berakar kekar pun membutuhkan perseteruan yang tidak ada henti-hentinya berkelakar tentang kepasrahan yang sengaja dikirim pada tangan yang secara langsung menerimanya.
Senja yang sengaja diciptakan saling bernuansa dan bersajak. senja mana yang ingin bercerita dengan mengangkat kepala bersendu dan berlari di antara kerling-kerlingan angin yang menggilir, menderu, dan menderai gabut. Lalu-lalang angin yang berakhir pada garis awal sebuah imajinasi akhirnya terkuak dengan spion-spion yang memantulkan dengan nyaring cahaya senja ke mata, yang bertatapan kosong, yang berhalusinasi, dan yang bergantung pada cerita kehidupan selanjutnya.
Ikrar dan akad dipenuhi kejenuhan pada sang pencatatan, perpisahan, dan perjanjian yang dimakzulkan dengan lantang oleh angin yang menderu di satu ujung kisah. Tuntutan yang disajikan menjelang pada ketakutan-kehilangan, sampai tua menjadi batas atas setiap definisi. Sebuah liang diketuk dengan lebih kuat untuk mengatakan ya.
Mengutarakan ketersungkuran pada jati diri yang masih kosong pada sekujur tubuh rapuh. Panas, menyengat. Dingin, mengerat. Kesaksianku dipersulit dengan kisah fiktif yang sengaja dipaparkan di peradilan dengan cara yang tak semestinya, dengan langkah yang tak sewajarnya, dengan sebuah halusinasi delusi.
Mengingat sajak saat menunggu musim yang bergugur. Kalang yang berserang, katanya terang di ujung sana. Menunggu senja seperti kepergian yang angin sentuh di awal kolong-kolong lautan. Berganti pada lembaran selanjutnya sampai kepergian itu sudah tidak ditangisi. Relung kehijauan yang disengaja pada kisah orang lain membelenggu membentuk kuasa sendiri dengan sedikit otodidak, kemunafikkan.
Ia adalah kayu, kayu yang tidak lapuk, kayu yang berada di posisinya sendiri, kayu yang kayu...
Sore saat mentari memuncak di ujung beberapa bukit senja, ada satu garis di antara khalayak dedaunan yang berseteru memanggil kuasa Tuhan untuk mengadu tentang kisah sepenggal sepi karena rasa yang diujarkan. Sederhananya, batu di antara pohon berakar kekar pun membutuhkan perseteruan yang tidak ada henti-hentinya berkelakar tentang kepasrahan yang sengaja dikirim pada tangan yang secara langsung menerimanya.
Senja yang sengaja diciptakan saling bernuansa dan bersajak. senja mana yang ingin bercerita dengan mengangkat kepala bersendu dan berlari di antara kerling-kerlingan angin yang menggilir, menderu, dan menderai gabut. Lalu-lalang angin yang berakhir pada garis awal sebuah imajinasi akhirnya terkuak dengan spion-spion yang memantulkan dengan nyaring cahaya senja ke mata, yang bertatapan kosong, yang berhalusinasi, dan yang bergantung pada cerita kehidupan selanjutnya.
Ikrar dan akad dipenuhi kejenuhan pada sang pencatatan, perpisahan, dan perjanjian yang dimakzulkan dengan lantang oleh angin yang menderu di satu ujung kisah. Tuntutan yang disajikan menjelang pada ketakutan-kehilangan, sampai tua menjadi batas atas setiap definisi. Sebuah liang diketuk dengan lebih kuat untuk mengatakan ya.
Mengutarakan ketersungkuran pada jati diri yang masih kosong pada sekujur tubuh rapuh. Panas, menyengat. Dingin, mengerat. Kesaksianku dipersulit dengan kisah fiktif yang sengaja dipaparkan di peradilan dengan cara yang tak semestinya, dengan langkah yang tak sewajarnya, dengan sebuah halusinasi delusi.
Mengingat sajak saat menunggu musim yang bergugur. Kalang yang berserang, katanya terang di ujung sana. Menunggu senja seperti kepergian yang angin sentuh di awal kolong-kolong lautan. Berganti pada lembaran selanjutnya sampai kepergian itu sudah tidak ditangisi. Relung kehijauan yang disengaja pada kisah orang lain membelenggu membentuk kuasa sendiri dengan sedikit otodidak, kemunafikkan.
Ia adalah kayu, kayu yang tidak lapuk, kayu yang berada di posisinya sendiri, kayu yang kayu...
Komentar
Posting Komentar