Aku kembali menulis sajak.
Seperti sisa kerinduan pada cerita-cerita romansa yang
ditulis para saudagar. Menceritakan kisah cinta seperti bercerita tentang
transaksi jual beli yang berakhir dengan sama-sama tahu, sama-sama memahami,
dan sama-sama mengiyakan. Karpet-karpet basah impor menjadi saksi dan beberapa helai bulu burung mahal.
Aku kembali menyanyikan lagu di tiap bait.
Seperti lantunan ayat suci di ujung maghrib surau-surau
kecil di tengah sawah. Di pinggirnya
pagar-pagar bambu setinggi dada anak sekolah dasar dengan rongga selebar
kucing bisa lewat leluasa. Senja menyingkap dari ujung sesawahan yang diakhiri
dengan hutan pohon jati nan lebat. Dering suara aamiin lantang di tengah perapian para petani.
Aku kadang kembali menyimak nestapa para pengemis tua
Pagi yang berlalu seperti kisah yang sudah terlampaui dengan saksama oleh para penghuni lama. Berlama-lama dengan senja seperti mengulur waktu yang sedang dinanti orang lain dengan cara yang berbeda. Seperti ada kisah di balik cerita yang kemarin, lusa, dan cerita berikutnya. Penyair dengan tulisan yang sama pun mengisahkan sudut pandangnya.
Aku kembali kadang-kadang ke padang ilalang.
Sore harinya, pohon ilalang di pelipir sawah tua menguning. Di sela-selanya dibuat parit kecil untuk jalan kaki santai dan beberapa ular hidup di bawahnya, mendesis pelan kadang-kadang.
Aku kembali kadang-kadang ke padang ilalang.
Sore harinya, pohon ilalang di pelipir sawah tua menguning. Di sela-selanya dibuat parit kecil untuk jalan kaki santai dan beberapa ular hidup di bawahnya, mendesis pelan kadang-kadang.

Komentar
Posting Komentar