Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2019

Senin Malam

Tidak jauh dari jalan besar, sebuah mobil patroli polisi dengan suara dari pengerasnya melantang. Tidak ada suara lain yang membuyarkan malam selain bising-bising itu. Makin jauh makin hilang. Beberapa hewan kembali merintih kedinginan di balik kayu-kayu besar dan belukar. Sekali-dua kali rel beku kereta api menderu dan mendesis kepanasan diguyuri lokomotif dengan kecepatan penuh. Hawa dingin dari pohon-pohon berdaun lebat menyisakan banyak ruang sepi yang sengaja disiapkan untuk pagi yang silau. Lorong panjang dalam kereta yang memancarkan lampu remang berkilat berbarengan dengan deru laju. Tiba-tiba angin semilir beradu mau. Membisikkan cerita dari kota ke kota. Malam makin larut dan getir kenangan siang tadi masih nenyesakkan pipa-pipa saluran saraf ke otak. . Akan ada yang datang jika seseorang memutuskan untuk pergi.

Masih di Sore Hari

Pohon-pohon lapuk bersemayam di angan pria tua di sebelahku. Ia menceritakan kisah lalunya yang penuh tawa dan gelak candar. Kemudian dahinya mengernyit, Ia tampak merapalkan mantera-matera yang dingin. Ia menengok ke arahku, dan sebulir air mata menetes tanpa sebab. Matanya berkata, "Sakit ini bukan karena tubuhku yang didera, tapi hatiku luluh lantak oleh masa. Waktu menggulirkan pilihan demi pilihan yang mengejar pertanggungjawaban. Aku harus memilih. Aku meninggalkan." Ia menyibakkan air mata yang sesekali turun dari hatinya. "Jika waktu itu datang kembali, kuhaturkan semua pilihan pada sang penjaga".

Menjelang Sore

Hari berlalu, di barat senja meluruh di antara rel kereta. Ia bersembunyi di bilah keduanya. Senja lirih berbisik tentang kenangan dan perjalanan panjang menuju sore di kota tua. Aku lelaki yang berdiri menghadap ke barat dengan badan tegap. Aku dengan hati yang terluka masih mengusung luka di antara kedua pundak tuaku. Aku memaparkan cerita lama seorang kakek tua pada teman hidupnya. Mereka bersenda gurau tentang masa muda. Mereka berpegang tangan menatap laut lepas. Kurasakan sebuah denyut melemah, masih di sebuah kota tua, dan sisi-sisi rel kereta. . Sepuluh meter di sisi utara rel kereta, pohon angsana gugur menderu angin perlahan. Angin mendengkur lirih dengan nafas tersengal-sengal. Angin berkeliaran di sisi-sisi ruang kosong bangunan tua. . Pohon tua di sisi selatan, bergelayutan menari bersama angin. Senja melepaskan temaram dengan nada-nada minor piano tua.

Tuhan, Aku Patah Hati

Sudut Kamar Aku menceritakan mengenai dustaku pada sang penulis. Ia membaca tiap kata yang kumunculkan dalam mataku yang tak bisa diam. Patahnya memang belum seberapa, belum juga berkeping-keping dan masih bisa disusun dalam urutan abjad latin. Aku mencoba mendalami tiap kata dari diksi-diksi yang disusun oleh si penulis. Aku memecahkan keheningan yang hati telah bangun dengan bata-bata tua. Pada siapa sebenarnya hatiku betanggung jawab? Selain pada suara malam di ujung hari dan terik di siang. Pada suatu hari, yang mana belukar setinggi lutut dan panas tidak terasa panas. Ada celah-celah daun yang mengizinkan cahaya melaluinya dengan perkara yang paling sederhana. Angin semilir yang menderu, pohon-pohon tinggi menyejukkan, dan pohonan semampai di perhimpunan ilalang. Aku menyimpuhkan harap pada alam, jika berkenan maka terima kasih. Kemudian sayup-sayup dibalasnya harap menjadi kabur atas peruntukan yang tidak seharusnya. Aku menyerah pada perasaan yang sedang kacau oleh apa...

Yah... Aku terjebak, lagi.

Sore kali ini berbeda. Beberapa gelas bekas susu, langit temaram, dan deru kendaran pelan. Sedikit demi sedikit angin berjalan tergesa-gesa. Semua sudah berakhir. Perjalanan panjang menjadi cerita kekanak-kanakan para pelakunya. Beberapa sibuk membenarkan pola dasi ke kanan, melapisi rambut dengan pomade, mengelap sepatu, dan.. Oh iya ini malam minggu. Ada sebuah jalan di tepi sungai, kecil dan digarisi rerumputan liar di kanan-kirinya. Potongan kerikil dari aspal rusak menjadi satu-dua hiasan jalan. Klakson tiba-tiba dibunyikan. Lamunan masih di kepala, berlari, beranjak, dan kemudian otak memaksa logika untuk menancap tuas gas sampai dalam-dalam. ------ Para bangunan menengadah ke langit-langit alam.  Mereka saling bersenyawa menawarkan taat, bangunan rapuh pun tak kalah syahdu. Antarjejaring sinyal di langit bertabrakan: banyak burung kecil tak terbang dengan bahagia.