Langsung ke konten utama

Tuhan, Aku Patah Hati

Sudut Kamar

Aku menceritakan mengenai dustaku pada sang penulis. Ia membaca tiap kata yang kumunculkan dalam mataku yang tak bisa diam.
Patahnya memang belum seberapa, belum juga berkeping-keping dan masih bisa disusun dalam urutan abjad latin. Aku mencoba mendalami tiap kata dari diksi-diksi yang disusun oleh si penulis. Aku memecahkan keheningan yang hati telah bangun dengan bata-bata tua.
Pada siapa sebenarnya hatiku betanggung jawab? Selain pada suara malam di ujung hari dan terik di siang.
Pada suatu hari, yang mana belukar setinggi lutut dan panas tidak terasa panas. Ada celah-celah daun yang mengizinkan cahaya melaluinya dengan perkara yang paling sederhana. Angin semilir yang menderu, pohon-pohon tinggi menyejukkan, dan pohonan semampai di perhimpunan ilalang.
Aku menyimpuhkan harap pada alam, jika berkenan maka terima kasih.
Kemudian sayup-sayup dibalasnya harap menjadi kabur atas peruntukan yang tidak seharusnya. Aku menyerah pada perasaan yang sedang kacau oleh apa yang sebetulnya diintuisikan Tuhan melalui cerita-cerita masa lalu.
Tuhan, aku patah hati.
Pada malam sebelum pagi
Pada senja sebelum gelap
Pada sayup sesudah subuh
Pada hujan sesudah gerimis gelap
Tuhan,
Aku mendendangkan nyanyian di telinga umatmu yang kurindu melalui doa. Apakah sehina itu aku yang memuja dengan rasa yang seadanya. Malam berlalu dan pagi mulai menyuarakan mimpi yang baru selesai ditiupkan dalam ruhku yang tertidur. Tertidur pulas. Oleh imajinasi. Para hati. Yang juga. Turut terluka.
Gelap saat itu, nyanyian kesedihan di lantunkan oleh ia yang berkuasa atas hati. Semu terdengar langkah kaki angin yang perlahan melangkah mendekat dan menjauh sesukanya. Di ujung timur, sesekali cahaya menyuap dengan cara paling mudah ditebak.
Tuham,
Aku
Patah
Hati.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Senin Malam

Tidak jauh dari jalan besar, sebuah mobil patroli polisi dengan suara dari pengerasnya melantang. Tidak ada suara lain yang membuyarkan malam selain bising-bising itu. Makin jauh makin hilang. Beberapa hewan kembali merintih kedinginan di balik kayu-kayu besar dan belukar. Sekali-dua kali rel beku kereta api menderu dan mendesis kepanasan diguyuri lokomotif dengan kecepatan penuh. Hawa dingin dari pohon-pohon berdaun lebat menyisakan banyak ruang sepi yang sengaja disiapkan untuk pagi yang silau. Lorong panjang dalam kereta yang memancarkan lampu remang berkilat berbarengan dengan deru laju. Tiba-tiba angin semilir beradu mau. Membisikkan cerita dari kota ke kota. Malam makin larut dan getir kenangan siang tadi masih nenyesakkan pipa-pipa saluran saraf ke otak. . Akan ada yang datang jika seseorang memutuskan untuk pergi.

Prof. Soepomo Poedjosoedarmo

Beliau linguis. Beliau bertempat tinggal di Jalan Kaliurang 4.5 Jogjakarta dan lahir di Wonosari, Gunungkidul. Beliau S-2 dan S-3 di Cornell, lalu menikah dengan orang New York (namanya Gloria Poedjosoedarmo) istrinya juga seorang linguis dan sempat mengajar di UGM. Beliau yang kemudian bersedia tinggal di Indonesia. Istri pertama Eyang Prof. Pomo telah meninggal ketika itu. Eyang dulu dilarang oleh Sang Ibu yang dari wonosari, yang awalnya dapat beasiswa ke Aussie, sudah ditunjukkan eyang Pomo Peta Aussie, dekat. Tetapi Sang Ibu tetap tidak mengizinkan. Kata Sang Ibu, tidak tega anak pergi jauh2 "nanti kalo gak punya uang saku bagaimana cara ibu mau kasih kamu uang". Akhirnya mbah buyut (Sang Ibu) Wonosari, tak lama setelah itu wafat. Jadi, eyang berangkatlah ke jakarta. Gak taunya, eyang dapat kabar bahwa dapat beasiswa S2-S3 di Cornell New York. Lalu eyang ambil sekalian aja ke situ, yg jauh sekalian. Tidak jadi ke Aussie. Dulu kata eyang Pomo, eyang tidak mahir bahasa Ing...

Kereta dan Roti Aroma Kopi

Pada sebuah sore, aromanya menempel di kerah-kerah baju. Benar kata salah satu kawan baru, jika tidak beli maka rasa dari roti itu akan terus terngiang-ngiang sampai besok lusa. Roti yang katanya aroma kopi meskipun di dalamnya ada pecahan keju yang lumer. Yang paling menyenangkan adalah beli dua dan mendapatkan tiga. Hari itu, lahir sebuah firasat. Seorang berkaos lengan panjang mengenakan topi baret warna hitam menenteng tas agak banyak. Biasanya berisi buku tulisannya yang akan dibagi-bagikan. Kami bertemu. Pertemuan yang tidak disengaja dan bukan seperti biasanya. Sebuah roti berbungkus warna kuning di tangan masing-masing. Bertatapan lama dan saling terbahak menertawakan firasat sore itu. Ada dua buah kereta dengan tujuan berbeda. Satu kereta menuju perjalanan biasanya dan satu lagi mengantarkan pada tugas negara. Kami berpisah di stasiun tua, stasiun yang kini kami sama-sama lupa kabarnya. Dia pergi lebih dahulu menenteng tas yang banyak jumlahnya dan masuk kereta eksklusif denga...