Sudut Kamar
Aku menceritakan mengenai dustaku pada sang penulis. Ia membaca tiap kata yang kumunculkan dalam mataku yang tak bisa diam.
Patahnya memang belum seberapa, belum juga berkeping-keping dan masih bisa disusun dalam urutan abjad latin. Aku mencoba mendalami tiap kata dari diksi-diksi yang disusun oleh si penulis. Aku memecahkan keheningan yang hati telah bangun dengan bata-bata tua.
Pada siapa sebenarnya hatiku betanggung jawab? Selain pada suara malam di ujung hari dan terik di siang.
Pada suatu hari, yang mana belukar setinggi lutut dan panas tidak terasa panas. Ada celah-celah daun yang mengizinkan cahaya melaluinya dengan perkara yang paling sederhana. Angin semilir yang menderu, pohon-pohon tinggi menyejukkan, dan pohonan semampai di perhimpunan ilalang.
Aku menyimpuhkan harap pada alam, jika berkenan maka terima kasih.
Kemudian sayup-sayup dibalasnya harap menjadi kabur atas peruntukan yang tidak seharusnya. Aku menyerah pada perasaan yang sedang kacau oleh apa yang sebetulnya diintuisikan Tuhan melalui cerita-cerita masa lalu.
Tuhan, aku patah hati.
Pada malam sebelum pagi
Pada senja sebelum gelap
Pada sayup sesudah subuh
Pada hujan sesudah gerimis gelap
Tuhan,
Aku mendendangkan nyanyian di telinga umatmu yang kurindu melalui doa. Apakah sehina itu aku yang memuja dengan rasa yang seadanya. Malam berlalu dan pagi mulai menyuarakan mimpi yang baru selesai ditiupkan dalam ruhku yang tertidur. Tertidur pulas. Oleh imajinasi. Para hati. Yang juga. Turut terluka.
Gelap saat itu, nyanyian kesedihan di lantunkan oleh ia yang berkuasa atas hati. Semu terdengar langkah kaki angin yang perlahan melangkah mendekat dan menjauh sesukanya. Di ujung timur, sesekali cahaya menyuap dengan cara paling mudah ditebak.
Tuham,
Aku
Patah
Hati.

Komentar
Posting Komentar