Persimpangan jalan aspal aus
berlumur oli bekas meyakinkan masing-masing dari kita untuk melajukan kembali
arah dan tujuan. Setiap sela perjalanan kau ceritakan buih-buih mesra antara
perapian dan dingin yang menyergap di ruang tamu berkarpet bahan katifah
lembut-halus. Karpet hijau lumut dengan aksen kuning kalem. Beberapa ruas
ventilasi yang tidak tertutup apapun menjadi pintu masuk rahasia angin malam.
Angin menusuk bagian tengkuk,
merinding.
Kaki-kaki kaku meringkuk dan masuk
ke dalam selimut. Beberapa cahaya menembus bagian depan rumah melalui celah
lubang kunci lawas. Di beberapa sudut ruang, menggelambirkan gorden-gorden yang
senteng, kurang panjang sedikit. Topi bulat sirkus dan mantel-mantel tebal juga
menggelantung mantab di rak kayu pelitur tua.
Musim tropis!
Saraf-saraf penyambung para sel
tubuh mulai kendur di angka-angka seperti ini. Jari-jemariku mulai pegal karena
dingin yang menusuk tidak karuan mainnya. Bahkan ujung para jari sampai tidak
terasa utuh. Begitu pula dengan punggung yang kelelahan menenteng tas ransel
seharian. Ransel warna biru kadar pekat dengan bordir merek internasional di bagian
tengahnya. Ransel itu mematung di ujung ruang tanpa alas.
Ransel biru, oh!
Tiba-tiba semua pilu dingin
terkalahkan dengan hawa pada andrenalin yang membuncah tak masuk akal. Teringat
pada secarik kertas di sisi sebelah kanan ransel yang belum sempat kubuka!
Kertas berwarna cokelat amplop. Seseorang memberikannya dengan sedikit paksa di
akhir pertemuan satu malam yang lalu. Malam
yang jauh lebih dingin daripada malam-malam yang seperti ini.
Meraba malam, mata sedikit
lengket. Kuraih kembali selimut biru
agak tipis itu. Kukaitkan ke leher, dan kembali meraba ransel biru. Masih
mencari secarik kertas titipan. Kembali meramal ingatan mengenai tata rupa dan bilik-bilik
ruang di ransel itu. Bahkan butuh beberapa sekon, untuk akhirnya mengubah mimik
muka panik ke arah sedikit lega. Tikungan berhasil, dan memang lega.
Beberapa potongan kertas akhirnya
ditemukan.
Resi pembayaran minimarket, karcis kereta, karcis parkir, dan kertas terlipat rapat-cenderung kaku dengan aksen khas karat besi. Kertas terakhir membawa energi paling sakral. Ada sebuah pesan yang ingin disampaikan, berbeda dengan energi pada resi dan karcis lainnya. Potongan kertas yang sedikit bercak karat besi staples. Kuning karat pun akhirnya membekas di ujung-ujung jari yang memaksanya keluar dari kertas lusuh kecokelatan. Butuh cahaya lebih untuk melihat dengan jelas isian kertas lusuh ini. Lebih dari sekadar remang dan cahaya yang masuk lewat celah pintu. Perlu sedikit bergeser pada sumber cahaya.
Resi pembayaran minimarket, karcis kereta, karcis parkir, dan kertas terlipat rapat-cenderung kaku dengan aksen khas karat besi. Kertas terakhir membawa energi paling sakral. Ada sebuah pesan yang ingin disampaikan, berbeda dengan energi pada resi dan karcis lainnya. Potongan kertas yang sedikit bercak karat besi staples. Kuning karat pun akhirnya membekas di ujung-ujung jari yang memaksanya keluar dari kertas lusuh kecokelatan. Butuh cahaya lebih untuk melihat dengan jelas isian kertas lusuh ini. Lebih dari sekadar remang dan cahaya yang masuk lewat celah pintu. Perlu sedikit bergeser pada sumber cahaya.
Akhirnya, sebuah cahaya lampu dari
minyak menawarkan sedikit remangnya yang lebih terang.
Membuka secarik kertas kecokelatan.
Kembali memutar lagu lama, dan
mengingat cerita lalu. Semua berjalan seperti cerita di skenario seorang
penulis amatir di kota tua. Setiap tata letak sudah diatur Tuhan dengan
pelbagai keinginannya. Satu persatu menempati posisi yang sudah ditentukan di
awal, dan kemana ia akan berada di akhir.
Apa yang bisa dilakukan oleh seorang
pujangga selain meramu kata-kata dalam tiap bait huruf. Seperti sebuah ujung
kesanggupan yang bisa dilakukan tanpa bisa berekspektasi lebih tinggi dari
gumulan awan di tataran homosfer.
Aku mencintaimu tanpa kata-kata,
dalam kamus di halaman muka sampai akhir. Jika ada satu lema dalam kamus yang
menunjukkan defisini cinta, maka ujung pikirku langsung tertuju padamu. Bedebah
kecil berhati mulia. Hatiku menjatuhkan pilihan pada hatimu!
Komentar
Posting Komentar