Langsung ke konten utama

Opini Para Pena

Entah kapan saat pertama kali kau memutuskan untuk membuka surat ini. Setidaknya, izinkan aku mengelak, dan mengatakan bahwa bukan aku yang menulisnya. Tulisan ini memang ideku, semuanya sudah dalam barisan alfabetis dan deret ukur ketentuan di awal yang kita sepakati beberapa dekade silam.

Surat ini tidak akan berbicara mengenai diksi-diksi perpisahan lawas, atau susunan kata puitis dengan sajak yang bergantung pada ritme yang ditentukan. Semua kata dalam bait ini, tertulis rapi dengan skema yang jauh lebih taktis. Jika pena dalam bait yang kutulis ini berkuasa untuk bicara dan menyampaikan kejujurannya, maka ia akan berkata lain. Mungkin ia mengaduh-mengeluh dan beropini bebas mengenai kata per kata yang kurangkai! Semua demi membuktikan para kebohongan ini benar adanya.

Para pena liar menyebutkan kata per kata dalam paragraf yang jauh lebih sepi. Opini para pena! Kurang lebih begini asumsinya!
………
Hai Serangga, Kuda-kuda liar, dan Bebek yang berarak di pelipir sawah.

Beranjak pada inti masalah,
tentang dakwaanmu mengenai perasaanku! Kau berkata kosong seputar dilematis yang kau buat. Kau berbohong dan mengaduh-peluh seakan-akan aku yang mengarang perasaan ini! Kau susun cerita di muka publik mengenai betapa sakitnya aku dan perasaan yang kuurutkan sendiri. Sedangkan kau tahu! Kau duduk di sampingku menyaksikan tiap jengkal tawa hati terpaut.
Saat ini, kau telah tiada! Kau seakan-akan dibumikan dalam abjad-abjad terukir di sebuah kijing berwarna gelap pualam. Aku menyaksikan ragamu dalam sebuah untaian upacara pemakaman liar! Aku menderita dalam tangis, Kau tahu? Aku mulai menyesali perkenalan kita, ketika deru sebuah rasa menjadi satu kesatuan utuh dan dihempaskan di sebuah daun-daun nyinyir! Tubuhku memar dicambuk para ujung daun itu.

Sakit!

Aku mohon, sungguhpun kau ada di sini bantu aku merasakannya. Merasakan sakit yang ku unduh dari perasaan kita yang terlanjur terpaut dalam diorama. Kau tahu mengenai hati? Mengenai hati yang tertinggal dalam hati yang lain? Semua sudah kusebutkan lengkap di sepucuk cerita ini.
Kapan  kau akan membaca sepucuk surat ini, jika di akherat tidak ada lagi alfabet.

Setengah windu pertemuan kita, berakhir dengan tautan-tautan manis ucapanmu. Setengah windu kau habiskan semua masa-masa indahmu dalam lantunan ayat rindu kepadaku. Kau berdusta kepada khalayak mengenai adegan-adegan cinta kita. Kau buat, seakan-akan aku naratornya.

Kau menduga perasaanku dengan semena-mena, dengan abjad-abjad kosong yang berhamburan di udara para bedebah. Sekali lagi kau menduga perasaan ini berkepentingan. Semua tiada berkala, semua tiba-tiba.  Setelah akhir dari setengah windu, kau menyepikan semua rasa kita. Hanya butuh triwulan akhir saja, semua setengah windu kau bayar lunas. Seakan-akan kita sudah tiada berapa-apa. 
Sampai aku rapuh, berpuing, hancur, dan sedikit lenyap.

Kau beristirahat dalam rindang, limpahan air yang meresap pelan, partikel-partikel tanah.
Adakah tidak jauh dari tubuhmu, para akar mencari mangsa? Apakah sesekali mereka menyentuhmu dengan lembut, bertanya mengenai keberadaanmu? Apakah kau merindu pada udara di antara subuh dan fajar?

Aku merindumu, dan dimana adamu?
Aku sudah mencoba berserah dari kehilanganmu. Merasakan ujung di akhir sebuah cerita. Mana ada hayat pada sebuah reda hujan? Bukankah kau menawariku payung pada awal dan ujung sebuah perjalanan? Tapi kenapa juga kau yang memintaku menikmati hujan?

Rapuhkah aku sehingga kau ditiadakan? Atau jangan-jangan tiap doaku, telah dicampakkan dengan semena-mena. Jika suatu masa aku berhasil tumbang dalam sebuah hamparan keluasan ikhlas. Maka izinkan ku bersanding dalam lantunan rindu, saling rindu. Rindu yang tandus tidak menyenangkan!


Jika kau sudah membaca ini dengan lantang, maka aku ada disana. Mendengarmu, bersamamu, dan menyepi di tepi-tepi tanah bersamamu. Terimakasih sudah berkenan membaca sajakku dalam lantunan yang kita buat sendiri. Untuk hadirmu pula, aku ucap yang sama.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Senin Malam

Tidak jauh dari jalan besar, sebuah mobil patroli polisi dengan suara dari pengerasnya melantang. Tidak ada suara lain yang membuyarkan malam selain bising-bising itu. Makin jauh makin hilang. Beberapa hewan kembali merintih kedinginan di balik kayu-kayu besar dan belukar. Sekali-dua kali rel beku kereta api menderu dan mendesis kepanasan diguyuri lokomotif dengan kecepatan penuh. Hawa dingin dari pohon-pohon berdaun lebat menyisakan banyak ruang sepi yang sengaja disiapkan untuk pagi yang silau. Lorong panjang dalam kereta yang memancarkan lampu remang berkilat berbarengan dengan deru laju. Tiba-tiba angin semilir beradu mau. Membisikkan cerita dari kota ke kota. Malam makin larut dan getir kenangan siang tadi masih nenyesakkan pipa-pipa saluran saraf ke otak. . Akan ada yang datang jika seseorang memutuskan untuk pergi.

Prof. Soepomo Poedjosoedarmo

Beliau linguis. Beliau bertempat tinggal di Jalan Kaliurang 4.5 Jogjakarta dan lahir di Wonosari, Gunungkidul. Beliau S-2 dan S-3 di Cornell, lalu menikah dengan orang New York (namanya Gloria Poedjosoedarmo) istrinya juga seorang linguis dan sempat mengajar di UGM. Beliau yang kemudian bersedia tinggal di Indonesia. Istri pertama Eyang Prof. Pomo telah meninggal ketika itu. Eyang dulu dilarang oleh Sang Ibu yang dari wonosari, yang awalnya dapat beasiswa ke Aussie, sudah ditunjukkan eyang Pomo Peta Aussie, dekat. Tetapi Sang Ibu tetap tidak mengizinkan. Kata Sang Ibu, tidak tega anak pergi jauh2 "nanti kalo gak punya uang saku bagaimana cara ibu mau kasih kamu uang". Akhirnya mbah buyut (Sang Ibu) Wonosari, tak lama setelah itu wafat. Jadi, eyang berangkatlah ke jakarta. Gak taunya, eyang dapat kabar bahwa dapat beasiswa S2-S3 di Cornell New York. Lalu eyang ambil sekalian aja ke situ, yg jauh sekalian. Tidak jadi ke Aussie. Dulu kata eyang Pomo, eyang tidak mahir bahasa Ing...

Kereta dan Roti Aroma Kopi

Pada sebuah sore, aromanya menempel di kerah-kerah baju. Benar kata salah satu kawan baru, jika tidak beli maka rasa dari roti itu akan terus terngiang-ngiang sampai besok lusa. Roti yang katanya aroma kopi meskipun di dalamnya ada pecahan keju yang lumer. Yang paling menyenangkan adalah beli dua dan mendapatkan tiga. Hari itu, lahir sebuah firasat. Seorang berkaos lengan panjang mengenakan topi baret warna hitam menenteng tas agak banyak. Biasanya berisi buku tulisannya yang akan dibagi-bagikan. Kami bertemu. Pertemuan yang tidak disengaja dan bukan seperti biasanya. Sebuah roti berbungkus warna kuning di tangan masing-masing. Bertatapan lama dan saling terbahak menertawakan firasat sore itu. Ada dua buah kereta dengan tujuan berbeda. Satu kereta menuju perjalanan biasanya dan satu lagi mengantarkan pada tugas negara. Kami berpisah di stasiun tua, stasiun yang kini kami sama-sama lupa kabarnya. Dia pergi lebih dahulu menenteng tas yang banyak jumlahnya dan masuk kereta eksklusif denga...