Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2018

Perangkap

Ada perangkap yang disediakan para penembak jitu di selongsong kamera mereka. Karena yang tertembak mati ialah yang berdiri di garda terdepan untuk menyelamatkan yang terbunuh selanjutnya. Tuas ditarik, mata membidik. Suara nyaring keluar dari cerobong peluru yang diakhiri desis suara senjata. Burung-burung yang singgah seketika berhambur, terbang, hilang sebisanya. Lensa dipasang mengerucut pada ujung kamera. Dibidiknya pelan-pelan menghadap ke arah awan kebiruan. Nyali yang katanya berani meringkuk di akhir bait puisi berirama tanpa sajak pun menyaksikan kepiawaian tinta menggores kertas seperti melesat dalam aturan alam semesta. Menyerang ke arah berlawanan. Dengan tanpa berhadapan seperti kubu para ilustrator beraliran abstrak semu. Ada kabar baik seusai sejarah dibacakan. Seperti kisah tang akan terulang kembali dengan aktor yang berbeda. Pemeran memang diciptakan dengan kehati-hatian para sutradara amatirnya. Kisah selanjutnya ada di bagian tengah-tengah. Perangkap yang...

Aku berada di chapter berapa?

"ia mengintip melalui sela jendela kamar yang gordennya berwarna merah, ia melihat keluar dan seseorang tengah sibuk menjadi dirinya sendiri" Ada sebuah jilidan besar di rak buku kayu tua. Debu-debu di baris paling atas, seperti tempat yang susah disinggahi. Aku kemudian berpikir, "aku berada di chapter berapa dari sebuah buku". Kadang kala, manusia  hanya ditakdirkan menjadi tokoh figuran yang menempati 3-4 halaman dari sebuah buku, beruntungnya ada juga yang hanya menempati satu paragraf di tengah-tengah buku: membosankan. Manusia kemudian berpikir mengenai jumlah lembar yang harus diselesaikan untuk menghabiskan sebuah chapter buku tua. Adakah yang tidak bisa bahasa Turki, namun membaca buku-buku berbahasa Turki? Tidak ada, kan? Begitu pula dengan hidup, bahwa tidak semua orang bersedia "ikut campur" urusan orang lain yang tidak ia ketahuinya. Uniknya, kadang manusia ada yang terlahir sebagai kepala redaksi sebuah percetakan sebuah buku,...

Tentang Sebuah Persiapan Menjelang Perjanjian

Suara kipas memenuhi ruang kecil di bilik kecil tempat bernaung seorang pujangga yang gemar menulis kata rindu. Biar saja apa yang tertulis menjadi sebuah kisah katanya. Bait-bait berlari kecil, sekenanya, sesampainya. "Menepati tiap mimpi bersama yang dicipta dalam harmoni dan cinta. Mereka mengatakan bahwa langit masih tanpa batas, terbang bebas lepas!" Terkadang kita dipaksa memahami maksud. Sering kali terbangun dan tersadar, sebenarnya tiap manusia memberi dasar dan menunjukkan atas pemahaman yang mungkin tidak gamblang ia ingin beri tahu. Sekali lagi, memaksa orang memahami laju pemahaman orang lain adalah sebuah proses yang panjang. Seperti memahami senja, namun ia esok akan datang lagi dengan ujud yang belum tentu sama. Ada lipatan kerut di atas wajah sendu. Setiap orang menunjukkannya seolah menjadi tanda atas kepergian, kehilangan, dan ketiadaan yang semu. Alis terjinjing ke atas, di ujung-ujung mata ada bulir air yang terpaksa menetap. Dua kursi ...