Ada perangkap yang disediakan para penembak jitu di selongsong kamera mereka. Karena yang tertembak mati ialah yang berdiri di garda terdepan untuk menyelamatkan yang terbunuh selanjutnya. Tuas ditarik, mata membidik. Suara nyaring keluar dari cerobong peluru yang diakhiri desis suara senjata. Burung-burung yang singgah seketika berhambur, terbang, hilang sebisanya. Lensa dipasang mengerucut pada ujung kamera. Dibidiknya pelan-pelan menghadap ke arah awan kebiruan. Nyali yang katanya berani meringkuk di akhir bait puisi berirama tanpa sajak pun menyaksikan kepiawaian tinta menggores kertas seperti melesat dalam aturan alam semesta. Menyerang ke arah berlawanan. Dengan tanpa berhadapan seperti kubu para ilustrator beraliran abstrak semu. Ada kabar baik seusai sejarah dibacakan. Seperti kisah tang akan terulang kembali dengan aktor yang berbeda. Pemeran memang diciptakan dengan kehati-hatian para sutradara amatirnya. Kisah selanjutnya ada di bagian tengah-tengah. Perangkap yang...
Karena keberadaanku disini, sudah didesain oleh Tuhan!