Langsung ke konten utama

Tentang Sebuah Persiapan Menjelang Perjanjian

Suara kipas memenuhi ruang kecil di bilik kecil tempat bernaung seorang pujangga yang gemar menulis kata rindu. Biar saja apa yang tertulis menjadi sebuah kisah katanya. Bait-bait berlari kecil, sekenanya, sesampainya. "Menepati tiap mimpi bersama yang dicipta dalam harmoni dan cinta. Mereka mengatakan bahwa langit masih tanpa batas, terbang bebas lepas!"

Terkadang kita dipaksa memahami maksud.

Sering kali terbangun dan tersadar, sebenarnya tiap manusia memberi dasar dan menunjukkan atas pemahaman yang mungkin tidak gamblang ia ingin beri tahu. Sekali lagi, memaksa orang memahami laju pemahaman orang lain adalah sebuah proses yang panjang. Seperti memahami senja, namun ia esok akan datang lagi dengan ujud yang belum tentu sama.

Ada lipatan kerut di atas wajah sendu. Setiap orang menunjukkannya seolah menjadi tanda atas kepergian, kehilangan, dan ketiadaan yang semu. Alis terjinjing ke atas, di ujung-ujung mata ada bulir air yang terpaksa menetap.

Dua kursi terisi, dan satu kursi kosong sempat menyaksikan dan menyangsikan. Setidaknya, setelahnya, ada gedung-gedung menjulang tinggi yang menutup segmen satu kisah yang akan ditutup oleh tudung kehidupan yang manusia buat sendiri. Kesendirian adalah sebuah situasi yang kadang bisa mengobati atas rindu yang menghampa di sela jemari tangan yang kesepian.

Ada tawa di antara beberapa kisah yang tertulis di skenario. Dan sekali lagi, pemahaman yang susah dipaksakan untuk sebuah perpisahan.

Ada sebuah ruang gelap di sudut bangunan lawas, ia berpintu rapuh, dan berjendela pengap. Begitu pula sebuah kisah yang sengaja dan tidak sengaja didesain pada sebuah bangunan arsitek tua. Penonton di sebuah teater berkursi merah marun tertawa terbahak-bahak. Seketika menangis dan menutup mulutnya dengan sapu tangan aus di sebelah kiri.

Pada akhirnya setiap manusia mengembalikan hakikat pada kesederhanaan. Ada makna yang tidak bisa dijelaskan dengan kalimat menye-menye syahdu ala pujangga kelaparan kata-kata. Suara serak basah, seperti ada batu yang mengganjal di rongga tenggorokan. Manusia di saat ini sudah tiada mampu berkata-kata. Sendu menyelimuti nada suara dan beberapa pita yang kedinginan.

Panik di antara haru-biru perpisahan, ada di sela-sela nafas yang tersengal-sengal kelelahan.

Mulai membuat batasan, menghindar, pergi, melalu dan sesekali beranjak. Nada-nada di kabel telepon menghantarkan kisah yang disepakati. Gedung berkaca-kaca menjelang tengah gelap mulai membuat kisahnya menjadi syahdu yang tidak dibuat-buat. "Semuanya tidak apa-apa," kata per kata dipersuarakan dengan yakin namun ada getar di pita suaranya. Air mata sedikit menetes, meski tidak banyak.  Meyakinkan hati diri sendiri jika semuanya baik-baik saja akan menjadi sesuatu yang lebih sulit.

Ada yang turut merasakan sendu. Di saat ada yang memanggil hampa di kepergian merupakan sebuah perjalanan.

Sedikit demi sedikit, sejarah memaparkan cerita, ia yang kehilangan secara mendadak dan harus merelakan. Setiap orang menggunakan haknya untuk sebuah kepergian. Meski setiapnya memaksakan tawa demi kembali mendengarkan kisah. Duduk di masing-masing meja dan kursi yang disiapkan. Menghitung cela yang dideskripsikan para pelaku adalah cara paling tepat untuk mengenang sejarah. Pada suatu malam, ada cahaya dari api-api kecil di atas gelas. Tiap cahaya mengapung seperti teratai di tengah sebuah danau kecil.

Pamit
dan kepergian.

Tidak ada yang menyangka tentang perpisahan, membutuhkan, dan kata-kata berpesan-kesan.  Sejarah kembali dinarasikan dengan saksama. Hiruk-pikuk berubah menjadi dingin di kala malam menjadi puncak sebuah kisah.

Mereka berbaju biru, ada cangkir-cangkir berisi kopi dan teh yang dipesan.
Seorang sahabat berlalu dan menceritakan kepergian, akan ada yang kehilangan lebih dalam dari biasanya.

Ada sesuatu yang memang terkadang tidak bisa diterima. Satu kalimat perpisahan kembali dilafalkan.
Belajar melepaskan juga proses  yang jauh lebih panjang.
Bersikeras memahami kisah  yang harus berakhir memang proses yang sulit.

Ada gema suara yang akhirnya dihentikan pada notasi terakhir. Biji kopi di pojok ruang, menghangatkan suasana. Bunga-bunga hias menyaksikan kalimat perpisahan dengan momen-momen yang dipilih lakon pada skenario sutradara. Mempersembahkan bait-bait lawas. Mengenang masa lalu. Menangis seperlunya. Memasukkan tiap bagian cerita di saat yang tepat. Garis tapal batas sudah mulai naik ke atas.

Persembahan terakhir dan selamat jalan. Selamat tinggal aktor terbaik pada kisah terbaik.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Senin Malam

Tidak jauh dari jalan besar, sebuah mobil patroli polisi dengan suara dari pengerasnya melantang. Tidak ada suara lain yang membuyarkan malam selain bising-bising itu. Makin jauh makin hilang. Beberapa hewan kembali merintih kedinginan di balik kayu-kayu besar dan belukar. Sekali-dua kali rel beku kereta api menderu dan mendesis kepanasan diguyuri lokomotif dengan kecepatan penuh. Hawa dingin dari pohon-pohon berdaun lebat menyisakan banyak ruang sepi yang sengaja disiapkan untuk pagi yang silau. Lorong panjang dalam kereta yang memancarkan lampu remang berkilat berbarengan dengan deru laju. Tiba-tiba angin semilir beradu mau. Membisikkan cerita dari kota ke kota. Malam makin larut dan getir kenangan siang tadi masih nenyesakkan pipa-pipa saluran saraf ke otak. . Akan ada yang datang jika seseorang memutuskan untuk pergi.

Prof. Soepomo Poedjosoedarmo

Beliau linguis. Beliau bertempat tinggal di Jalan Kaliurang 4.5 Jogjakarta dan lahir di Wonosari, Gunungkidul. Beliau S-2 dan S-3 di Cornell, lalu menikah dengan orang New York (namanya Gloria Poedjosoedarmo) istrinya juga seorang linguis dan sempat mengajar di UGM. Beliau yang kemudian bersedia tinggal di Indonesia. Istri pertama Eyang Prof. Pomo telah meninggal ketika itu. Eyang dulu dilarang oleh Sang Ibu yang dari wonosari, yang awalnya dapat beasiswa ke Aussie, sudah ditunjukkan eyang Pomo Peta Aussie, dekat. Tetapi Sang Ibu tetap tidak mengizinkan. Kata Sang Ibu, tidak tega anak pergi jauh2 "nanti kalo gak punya uang saku bagaimana cara ibu mau kasih kamu uang". Akhirnya mbah buyut (Sang Ibu) Wonosari, tak lama setelah itu wafat. Jadi, eyang berangkatlah ke jakarta. Gak taunya, eyang dapat kabar bahwa dapat beasiswa S2-S3 di Cornell New York. Lalu eyang ambil sekalian aja ke situ, yg jauh sekalian. Tidak jadi ke Aussie. Dulu kata eyang Pomo, eyang tidak mahir bahasa Ing...

Kereta dan Roti Aroma Kopi

Pada sebuah sore, aromanya menempel di kerah-kerah baju. Benar kata salah satu kawan baru, jika tidak beli maka rasa dari roti itu akan terus terngiang-ngiang sampai besok lusa. Roti yang katanya aroma kopi meskipun di dalamnya ada pecahan keju yang lumer. Yang paling menyenangkan adalah beli dua dan mendapatkan tiga. Hari itu, lahir sebuah firasat. Seorang berkaos lengan panjang mengenakan topi baret warna hitam menenteng tas agak banyak. Biasanya berisi buku tulisannya yang akan dibagi-bagikan. Kami bertemu. Pertemuan yang tidak disengaja dan bukan seperti biasanya. Sebuah roti berbungkus warna kuning di tangan masing-masing. Bertatapan lama dan saling terbahak menertawakan firasat sore itu. Ada dua buah kereta dengan tujuan berbeda. Satu kereta menuju perjalanan biasanya dan satu lagi mengantarkan pada tugas negara. Kami berpisah di stasiun tua, stasiun yang kini kami sama-sama lupa kabarnya. Dia pergi lebih dahulu menenteng tas yang banyak jumlahnya dan masuk kereta eksklusif denga...