Ada perangkap yang disediakan para penembak jitu di selongsong kamera mereka. Karena yang tertembak mati ialah yang berdiri di garda terdepan untuk menyelamatkan yang terbunuh selanjutnya. Tuas ditarik, mata membidik.
Suara nyaring keluar dari cerobong peluru yang diakhiri desis suara senjata. Burung-burung yang singgah seketika berhambur, terbang, hilang sebisanya.
Lensa dipasang mengerucut pada ujung kamera. Dibidiknya pelan-pelan menghadap ke arah awan kebiruan. Nyali yang katanya berani meringkuk di akhir bait puisi berirama tanpa sajak pun menyaksikan kepiawaian tinta menggores kertas seperti melesat dalam aturan alam semesta.
Menyerang ke arah berlawanan. Dengan tanpa berhadapan seperti kubu para ilustrator beraliran abstrak semu.
Ada kabar baik seusai sejarah dibacakan. Seperti kisah tang akan terulang kembali dengan aktor yang berbeda. Pemeran memang diciptakan dengan kehati-hatian para sutradara amatirnya. Kisah selanjutnya ada di bagian tengah-tengah. Perangkap yang di awal telah disediakan sesajian tradisional menjadi makin menjadi seusai dilahap perlahan dengan resep sesukanya.
Pada rumput kehijauan yang menjadi parasit atas pohon-pohon berdaun runcing, ia mengatakan pelan mengenai wasiat sang surya. Ada cahaya yang sengaja tidak bisa mengintip, ada pula yang nekat melesat, tidak kena malah sia-sia.
Seperti bidikan kamera, ada perangkap yang sengaja dibuat.
Jaring laba-laba di tengah kuas menandai kanvas berdebu serdadu seniman bertangan kaku. Yang menjadi janji hilang menghampa, yang menjadi nyata adalah bualan anak-anak.
Komentar
Posting Komentar