Langsung ke konten utama

Perangkap


Ada perangkap yang disediakan para penembak jitu di selongsong kamera mereka. Karena yang tertembak mati ialah yang berdiri di garda terdepan untuk menyelamatkan yang terbunuh selanjutnya. Tuas ditarik, mata membidik.
Suara nyaring keluar dari cerobong peluru yang diakhiri desis suara senjata. Burung-burung yang singgah seketika berhambur, terbang, hilang sebisanya.

Lensa dipasang mengerucut pada ujung kamera. Dibidiknya pelan-pelan menghadap ke arah awan kebiruan. Nyali yang katanya berani meringkuk di akhir bait puisi berirama tanpa sajak pun menyaksikan kepiawaian tinta menggores kertas seperti melesat dalam aturan alam semesta.

Menyerang ke arah berlawanan. Dengan tanpa berhadapan seperti kubu para ilustrator beraliran abstrak semu.

Ada kabar baik seusai sejarah dibacakan. Seperti kisah tang akan terulang kembali dengan aktor yang berbeda. Pemeran memang diciptakan dengan kehati-hatian para sutradara amatirnya. Kisah selanjutnya ada di bagian tengah-tengah. Perangkap yang di awal telah disediakan sesajian tradisional menjadi makin menjadi seusai dilahap perlahan dengan resep sesukanya.

Pada rumput kehijauan yang menjadi parasit atas pohon-pohon berdaun runcing, ia mengatakan pelan mengenai wasiat sang surya. Ada cahaya yang sengaja tidak bisa mengintip, ada pula yang nekat melesat, tidak kena malah sia-sia.

Seperti bidikan kamera, ada perangkap yang sengaja dibuat.
Jaring laba-laba di tengah kuas menandai kanvas berdebu serdadu seniman bertangan kaku. Yang menjadi janji hilang menghampa, yang menjadi nyata adalah bualan anak-anak.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Senin Malam

Tidak jauh dari jalan besar, sebuah mobil patroli polisi dengan suara dari pengerasnya melantang. Tidak ada suara lain yang membuyarkan malam selain bising-bising itu. Makin jauh makin hilang. Beberapa hewan kembali merintih kedinginan di balik kayu-kayu besar dan belukar. Sekali-dua kali rel beku kereta api menderu dan mendesis kepanasan diguyuri lokomotif dengan kecepatan penuh. Hawa dingin dari pohon-pohon berdaun lebat menyisakan banyak ruang sepi yang sengaja disiapkan untuk pagi yang silau. Lorong panjang dalam kereta yang memancarkan lampu remang berkilat berbarengan dengan deru laju. Tiba-tiba angin semilir beradu mau. Membisikkan cerita dari kota ke kota. Malam makin larut dan getir kenangan siang tadi masih nenyesakkan pipa-pipa saluran saraf ke otak. . Akan ada yang datang jika seseorang memutuskan untuk pergi.

Prof. Soepomo Poedjosoedarmo

Beliau linguis. Beliau bertempat tinggal di Jalan Kaliurang 4.5 Jogjakarta dan lahir di Wonosari, Gunungkidul. Beliau S-2 dan S-3 di Cornell, lalu menikah dengan orang New York (namanya Gloria Poedjosoedarmo) istrinya juga seorang linguis dan sempat mengajar di UGM. Beliau yang kemudian bersedia tinggal di Indonesia. Istri pertama Eyang Prof. Pomo telah meninggal ketika itu. Eyang dulu dilarang oleh Sang Ibu yang dari wonosari, yang awalnya dapat beasiswa ke Aussie, sudah ditunjukkan eyang Pomo Peta Aussie, dekat. Tetapi Sang Ibu tetap tidak mengizinkan. Kata Sang Ibu, tidak tega anak pergi jauh2 "nanti kalo gak punya uang saku bagaimana cara ibu mau kasih kamu uang". Akhirnya mbah buyut (Sang Ibu) Wonosari, tak lama setelah itu wafat. Jadi, eyang berangkatlah ke jakarta. Gak taunya, eyang dapat kabar bahwa dapat beasiswa S2-S3 di Cornell New York. Lalu eyang ambil sekalian aja ke situ, yg jauh sekalian. Tidak jadi ke Aussie. Dulu kata eyang Pomo, eyang tidak mahir bahasa Ing...

Kereta dan Roti Aroma Kopi

Pada sebuah sore, aromanya menempel di kerah-kerah baju. Benar kata salah satu kawan baru, jika tidak beli maka rasa dari roti itu akan terus terngiang-ngiang sampai besok lusa. Roti yang katanya aroma kopi meskipun di dalamnya ada pecahan keju yang lumer. Yang paling menyenangkan adalah beli dua dan mendapatkan tiga. Hari itu, lahir sebuah firasat. Seorang berkaos lengan panjang mengenakan topi baret warna hitam menenteng tas agak banyak. Biasanya berisi buku tulisannya yang akan dibagi-bagikan. Kami bertemu. Pertemuan yang tidak disengaja dan bukan seperti biasanya. Sebuah roti berbungkus warna kuning di tangan masing-masing. Bertatapan lama dan saling terbahak menertawakan firasat sore itu. Ada dua buah kereta dengan tujuan berbeda. Satu kereta menuju perjalanan biasanya dan satu lagi mengantarkan pada tugas negara. Kami berpisah di stasiun tua, stasiun yang kini kami sama-sama lupa kabarnya. Dia pergi lebih dahulu menenteng tas yang banyak jumlahnya dan masuk kereta eksklusif denga...