"ia mengintip melalui sela jendela kamar yang gordennya berwarna merah, ia melihat keluar dan seseorang tengah sibuk menjadi dirinya sendiri"
Ada sebuah jilidan besar di rak buku kayu tua. Debu-debu di baris paling atas, seperti tempat yang susah disinggahi. Aku kemudian berpikir, "aku berada di chapter berapa dari sebuah buku".
Kadang kala, manusia hanya ditakdirkan menjadi tokoh figuran yang menempati 3-4 halaman dari sebuah buku, beruntungnya ada juga yang hanya menempati satu paragraf di tengah-tengah buku: membosankan.
Manusia kemudian berpikir mengenai jumlah lembar yang harus diselesaikan untuk menghabiskan sebuah chapter buku tua.
Adakah yang tidak bisa bahasa Turki, namun membaca buku-buku berbahasa Turki?
Tidak ada, kan?
Begitu pula dengan hidup,
bahwa tidak semua orang bersedia "ikut campur" urusan orang lain yang tidak ia ketahuinya.
Uniknya, kadang manusia ada yang terlahir sebagai kepala redaksi sebuah percetakan sebuah buku, yakni ia yang membuat regulasi atas kehidupan orang lain. Seakan-akan ia berhak penuh atas perubahan sisi kehidupan manusia lainnya.
Aku kemudian memikirkan tentang bungkus air mineral di atas meja.
Disana terdapat banyak informasi kandungan air dalam botol.
Dan manusia tertentu ditakdirkan menuliskannya di wadah botol itu,
ada pula yang ditakdirkan tidak membacanya.
Rak sepatu,
biasanya ada di paling depan. Agar mudah dijangkau kaki ketika terburu-buru ke kampus ketika bangun kesiangan. Diduduk-dudukkan berdampingan dan berpasangan antarsepatu.
Rak sepatu ada kalanya menempel di dinding, berupa rak, dan ada pula yang diselipkan di antara ruang-ruang kecil.
Tentunya manusia memang sudah diciptakan berpasang-pasangan, namun manusia diberi keterbatasan untuk mengetahui.
Komentar
Posting Komentar