Langsung ke konten utama

Aku berada di chapter berapa?


"ia mengintip melalui sela jendela kamar yang gordennya berwarna merah, ia melihat keluar dan seseorang tengah sibuk menjadi dirinya sendiri"

Ada sebuah jilidan besar di rak buku kayu tua. Debu-debu di baris paling atas, seperti tempat yang susah disinggahi. Aku kemudian berpikir, "aku berada di chapter berapa dari sebuah buku".

Kadang kala, manusia  hanya ditakdirkan menjadi tokoh figuran yang menempati 3-4 halaman dari sebuah buku, beruntungnya ada juga yang hanya menempati satu paragraf di tengah-tengah buku: membosankan.

Manusia kemudian berpikir mengenai jumlah lembar yang harus diselesaikan untuk menghabiskan sebuah chapter buku tua.

Adakah yang tidak bisa bahasa Turki, namun membaca buku-buku berbahasa Turki?
Tidak ada, kan?

Begitu pula dengan hidup,
bahwa tidak semua orang bersedia "ikut campur" urusan orang lain yang tidak ia ketahuinya.

Uniknya, kadang manusia ada yang terlahir sebagai kepala redaksi sebuah percetakan sebuah buku, yakni ia yang membuat regulasi atas kehidupan orang lain. Seakan-akan ia berhak penuh atas perubahan sisi kehidupan manusia lainnya.

Aku kemudian memikirkan tentang bungkus air mineral di atas meja.
Disana terdapat banyak informasi kandungan air dalam botol.
Dan manusia tertentu ditakdirkan menuliskannya di wadah botol itu,
ada pula yang ditakdirkan tidak membacanya.

Rak sepatu,
biasanya ada di paling depan. Agar mudah dijangkau kaki ketika terburu-buru ke kampus ketika bangun kesiangan. Diduduk-dudukkan berdampingan dan berpasangan antarsepatu.

Rak sepatu ada kalanya menempel di dinding, berupa rak, dan ada pula yang diselipkan di antara ruang-ruang kecil.

Tentunya manusia memang sudah diciptakan berpasang-pasangan, namun manusia diberi keterbatasan untuk mengetahui.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Senin Malam

Tidak jauh dari jalan besar, sebuah mobil patroli polisi dengan suara dari pengerasnya melantang. Tidak ada suara lain yang membuyarkan malam selain bising-bising itu. Makin jauh makin hilang. Beberapa hewan kembali merintih kedinginan di balik kayu-kayu besar dan belukar. Sekali-dua kali rel beku kereta api menderu dan mendesis kepanasan diguyuri lokomotif dengan kecepatan penuh. Hawa dingin dari pohon-pohon berdaun lebat menyisakan banyak ruang sepi yang sengaja disiapkan untuk pagi yang silau. Lorong panjang dalam kereta yang memancarkan lampu remang berkilat berbarengan dengan deru laju. Tiba-tiba angin semilir beradu mau. Membisikkan cerita dari kota ke kota. Malam makin larut dan getir kenangan siang tadi masih nenyesakkan pipa-pipa saluran saraf ke otak. . Akan ada yang datang jika seseorang memutuskan untuk pergi.

Prof. Soepomo Poedjosoedarmo

Beliau linguis. Beliau bertempat tinggal di Jalan Kaliurang 4.5 Jogjakarta dan lahir di Wonosari, Gunungkidul. Beliau S-2 dan S-3 di Cornell, lalu menikah dengan orang New York (namanya Gloria Poedjosoedarmo) istrinya juga seorang linguis dan sempat mengajar di UGM. Beliau yang kemudian bersedia tinggal di Indonesia. Istri pertama Eyang Prof. Pomo telah meninggal ketika itu. Eyang dulu dilarang oleh Sang Ibu yang dari wonosari, yang awalnya dapat beasiswa ke Aussie, sudah ditunjukkan eyang Pomo Peta Aussie, dekat. Tetapi Sang Ibu tetap tidak mengizinkan. Kata Sang Ibu, tidak tega anak pergi jauh2 "nanti kalo gak punya uang saku bagaimana cara ibu mau kasih kamu uang". Akhirnya mbah buyut (Sang Ibu) Wonosari, tak lama setelah itu wafat. Jadi, eyang berangkatlah ke jakarta. Gak taunya, eyang dapat kabar bahwa dapat beasiswa S2-S3 di Cornell New York. Lalu eyang ambil sekalian aja ke situ, yg jauh sekalian. Tidak jadi ke Aussie. Dulu kata eyang Pomo, eyang tidak mahir bahasa Ing...

Kereta dan Roti Aroma Kopi

Pada sebuah sore, aromanya menempel di kerah-kerah baju. Benar kata salah satu kawan baru, jika tidak beli maka rasa dari roti itu akan terus terngiang-ngiang sampai besok lusa. Roti yang katanya aroma kopi meskipun di dalamnya ada pecahan keju yang lumer. Yang paling menyenangkan adalah beli dua dan mendapatkan tiga. Hari itu, lahir sebuah firasat. Seorang berkaos lengan panjang mengenakan topi baret warna hitam menenteng tas agak banyak. Biasanya berisi buku tulisannya yang akan dibagi-bagikan. Kami bertemu. Pertemuan yang tidak disengaja dan bukan seperti biasanya. Sebuah roti berbungkus warna kuning di tangan masing-masing. Bertatapan lama dan saling terbahak menertawakan firasat sore itu. Ada dua buah kereta dengan tujuan berbeda. Satu kereta menuju perjalanan biasanya dan satu lagi mengantarkan pada tugas negara. Kami berpisah di stasiun tua, stasiun yang kini kami sama-sama lupa kabarnya. Dia pergi lebih dahulu menenteng tas yang banyak jumlahnya dan masuk kereta eksklusif denga...