Langsung ke konten utama

Analogi




Bawalah kehidupan seperti smartphone dengan aplikasi clean master. Sebanyak apapun aktivitas aplikasi yang sudah dibuka, dengan sekali 'klik' dapat menghapus lelah dan menyegarkan kembali semua pengoperasian RAM. Ketika flashback pada zaman HP Java, sungguh pun untuk menyegarkan telepon genggam, harus dilakukan penghidupan kembali, atau restart. Menyita waktu? Iya. Tapi yang perlu dicatat adalah, suatu hal yang instan seperti mie sekalipun, memiliki kadar kemanfaatan yang tidak lama dibandingkan dengan pencapaian target dari proses berkelanjutan dan terstruktur.
One click : clean master!
Ingin rasanya menekan tombol clean master dalam hidup saya di tahun 2015. Ingat, pada aplikasi tersebut, aplikasi utama tidak terhapus. Hanya saja, beberapa catatan atau history akan hilang. Bukankah wajar? Tapi ingat, ketika HP sudah diklik clean master, berarti pengguna kembali siap menempuh perjalanan panjang.
Menyambut 2016

Jika hidup seperti laman facebook. Dengan mudah, seseorang bisa log-out dan sign-in dengan nama baru. Membuat status baru dengan mengharap like dan komentar yang disukai, jika tidak, bisa hapus komentar atau malah sekalian diblokir orang yang bersangkutan.
Suatu hari, bisa mengambil quote orang dan pura2 lupa mencantumkan sumber biar kelihatan kadar manusiawinya tinggi. Membuat nama2 lebay bin alay yang panjang dan toada terbaca demi eksistensi dan alasan kekinian. Mengunggah foto dan gambar kesukaan demi kepuasan pribadi.
Yanf jangan sampai terjadi adalah, (1) HPmu diambil orang; dimainkan sesuka hatinya dan diremukkan sebisanya, (2) lupa kata kunci untuk membuka laman utama. Jika lupa, perlu acting mulai dari nol.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Senin Malam

Tidak jauh dari jalan besar, sebuah mobil patroli polisi dengan suara dari pengerasnya melantang. Tidak ada suara lain yang membuyarkan malam selain bising-bising itu. Makin jauh makin hilang. Beberapa hewan kembali merintih kedinginan di balik kayu-kayu besar dan belukar. Sekali-dua kali rel beku kereta api menderu dan mendesis kepanasan diguyuri lokomotif dengan kecepatan penuh. Hawa dingin dari pohon-pohon berdaun lebat menyisakan banyak ruang sepi yang sengaja disiapkan untuk pagi yang silau. Lorong panjang dalam kereta yang memancarkan lampu remang berkilat berbarengan dengan deru laju. Tiba-tiba angin semilir beradu mau. Membisikkan cerita dari kota ke kota. Malam makin larut dan getir kenangan siang tadi masih nenyesakkan pipa-pipa saluran saraf ke otak. . Akan ada yang datang jika seseorang memutuskan untuk pergi.

Prof. Soepomo Poedjosoedarmo

Beliau linguis. Beliau bertempat tinggal di Jalan Kaliurang 4.5 Jogjakarta dan lahir di Wonosari, Gunungkidul. Beliau S-2 dan S-3 di Cornell, lalu menikah dengan orang New York (namanya Gloria Poedjosoedarmo) istrinya juga seorang linguis dan sempat mengajar di UGM. Beliau yang kemudian bersedia tinggal di Indonesia. Istri pertama Eyang Prof. Pomo telah meninggal ketika itu. Eyang dulu dilarang oleh Sang Ibu yang dari wonosari, yang awalnya dapat beasiswa ke Aussie, sudah ditunjukkan eyang Pomo Peta Aussie, dekat. Tetapi Sang Ibu tetap tidak mengizinkan. Kata Sang Ibu, tidak tega anak pergi jauh2 "nanti kalo gak punya uang saku bagaimana cara ibu mau kasih kamu uang". Akhirnya mbah buyut (Sang Ibu) Wonosari, tak lama setelah itu wafat. Jadi, eyang berangkatlah ke jakarta. Gak taunya, eyang dapat kabar bahwa dapat beasiswa S2-S3 di Cornell New York. Lalu eyang ambil sekalian aja ke situ, yg jauh sekalian. Tidak jadi ke Aussie. Dulu kata eyang Pomo, eyang tidak mahir bahasa Ing...

Kereta dan Roti Aroma Kopi

Pada sebuah sore, aromanya menempel di kerah-kerah baju. Benar kata salah satu kawan baru, jika tidak beli maka rasa dari roti itu akan terus terngiang-ngiang sampai besok lusa. Roti yang katanya aroma kopi meskipun di dalamnya ada pecahan keju yang lumer. Yang paling menyenangkan adalah beli dua dan mendapatkan tiga. Hari itu, lahir sebuah firasat. Seorang berkaos lengan panjang mengenakan topi baret warna hitam menenteng tas agak banyak. Biasanya berisi buku tulisannya yang akan dibagi-bagikan. Kami bertemu. Pertemuan yang tidak disengaja dan bukan seperti biasanya. Sebuah roti berbungkus warna kuning di tangan masing-masing. Bertatapan lama dan saling terbahak menertawakan firasat sore itu. Ada dua buah kereta dengan tujuan berbeda. Satu kereta menuju perjalanan biasanya dan satu lagi mengantarkan pada tugas negara. Kami berpisah di stasiun tua, stasiun yang kini kami sama-sama lupa kabarnya. Dia pergi lebih dahulu menenteng tas yang banyak jumlahnya dan masuk kereta eksklusif denga...