Langsung ke konten utama

Sepenggal kisah tentang cokelat-dingin-gelap

Dari cermin cembung spion sore itu, kembali kutemukan dia di sana. Menggunakan helm seperti biasa dan kacamata yang mungkin lupa dilepas. Tampak beda dan sedikit tergesa-gesa. Satu-dua kali sinar yang menyilaukan sempat mampir di spionku, tapi wajahnya masih sama: lebih bersinar.


Kuperbaiki posisi spionku untuk memperjelas pandangan. Terlalu pendek, terlalu tinggi, terlalu ke dalam, terlalu ke luar, dan tunggu. Aku melihat sesuatu yang berbeda (lagi). Yaa, Sepatu itu! Sepatu warna merah padam dengan hak sangat tinggi. Sepatu yang berbeda dengan biasanya. Untuk pertama kalinya, septu-sepatu tepos itu tergantikan sepatu berhak tinggi.


Yang benar saja, sepatu itu bukan miliknya. Atau setidaknya baru dibeli tadi siang untuk dikenakan di satu sore ini saja. Sore ini, yaa sabtu sore. Lebih jelasnya waktu yang tepat untuk hangout bagi sebagian gadis. Tapi, kenapa harus dia?


Aku tidak pantas untuk membuntutinya, pikir dalam benakku. Gadis di spion ini pasti curiga dengan tingkah laku anehku.Tetapi sungguh hati ini mengajak tuk sedikit bermain interogasi ala detektif kekinian.


Sabtu malam dengan ekspresi yang tidak tepat dan baju yang bukan dia banget. Aku terus mengkhayal, sampai gadis di spion itu sudah menghilang dari sepasang spion motor buntutku.


Lagi-lagi aku harus kehilangan dia dari kaca spionku. Dia melesat cepat, dan benar saja, saat ini tepat di depan truk berwarna merah gelap. Sekadar info, aku di belakang truk berselisih 1 mobil panther. Ku lihat, pakaiannya mewah dan aduhai lebat rambutnya yang hitam pekat mampu menjerat tubuhku bak di serial horor Indonesia. Dia menarik hatiku dan kutertarik memilikinya. Dia melesat dan aku di belakangnya. Bukan aku yang membuntutinya, tapi gadis itu melesat lebih dulu. Dia masih gadis di spionku.


Perjalanan kembali siap dimulai. Sebelum masuk gerbang, tiket perlu dibeli. Bukankah menerobos pagar sudah masuk perbuatan tidak terpuji? Kemudian, di ujung jalan sebelah barat terlihat samar terkena fatamorgana uap air dari aspal yang terlalu panas. Tampak sebuah bangunan besar nan mewah-megah. Perjalanan masih panjang, namun menunggu Tuhan merencanakan adalah terbaik. Bukankah ter- dari kata terbaik merupakan imbuhan yang bermakna paling? Begitu pula tercantik. Tapi jangan lupa, ada kata yang jauh lebih mujarab yakni kata lebih.


Meski ia tercantik, ada yang lebih...


Kembali menengok jalan, ujung barat masih jauh.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Senin Malam

Tidak jauh dari jalan besar, sebuah mobil patroli polisi dengan suara dari pengerasnya melantang. Tidak ada suara lain yang membuyarkan malam selain bising-bising itu. Makin jauh makin hilang. Beberapa hewan kembali merintih kedinginan di balik kayu-kayu besar dan belukar. Sekali-dua kali rel beku kereta api menderu dan mendesis kepanasan diguyuri lokomotif dengan kecepatan penuh. Hawa dingin dari pohon-pohon berdaun lebat menyisakan banyak ruang sepi yang sengaja disiapkan untuk pagi yang silau. Lorong panjang dalam kereta yang memancarkan lampu remang berkilat berbarengan dengan deru laju. Tiba-tiba angin semilir beradu mau. Membisikkan cerita dari kota ke kota. Malam makin larut dan getir kenangan siang tadi masih nenyesakkan pipa-pipa saluran saraf ke otak. . Akan ada yang datang jika seseorang memutuskan untuk pergi.

Prof. Soepomo Poedjosoedarmo

Beliau linguis. Beliau bertempat tinggal di Jalan Kaliurang 4.5 Jogjakarta dan lahir di Wonosari, Gunungkidul. Beliau S-2 dan S-3 di Cornell, lalu menikah dengan orang New York (namanya Gloria Poedjosoedarmo) istrinya juga seorang linguis dan sempat mengajar di UGM. Beliau yang kemudian bersedia tinggal di Indonesia. Istri pertama Eyang Prof. Pomo telah meninggal ketika itu. Eyang dulu dilarang oleh Sang Ibu yang dari wonosari, yang awalnya dapat beasiswa ke Aussie, sudah ditunjukkan eyang Pomo Peta Aussie, dekat. Tetapi Sang Ibu tetap tidak mengizinkan. Kata Sang Ibu, tidak tega anak pergi jauh2 "nanti kalo gak punya uang saku bagaimana cara ibu mau kasih kamu uang". Akhirnya mbah buyut (Sang Ibu) Wonosari, tak lama setelah itu wafat. Jadi, eyang berangkatlah ke jakarta. Gak taunya, eyang dapat kabar bahwa dapat beasiswa S2-S3 di Cornell New York. Lalu eyang ambil sekalian aja ke situ, yg jauh sekalian. Tidak jadi ke Aussie. Dulu kata eyang Pomo, eyang tidak mahir bahasa Ing...

Kereta dan Roti Aroma Kopi

Pada sebuah sore, aromanya menempel di kerah-kerah baju. Benar kata salah satu kawan baru, jika tidak beli maka rasa dari roti itu akan terus terngiang-ngiang sampai besok lusa. Roti yang katanya aroma kopi meskipun di dalamnya ada pecahan keju yang lumer. Yang paling menyenangkan adalah beli dua dan mendapatkan tiga. Hari itu, lahir sebuah firasat. Seorang berkaos lengan panjang mengenakan topi baret warna hitam menenteng tas agak banyak. Biasanya berisi buku tulisannya yang akan dibagi-bagikan. Kami bertemu. Pertemuan yang tidak disengaja dan bukan seperti biasanya. Sebuah roti berbungkus warna kuning di tangan masing-masing. Bertatapan lama dan saling terbahak menertawakan firasat sore itu. Ada dua buah kereta dengan tujuan berbeda. Satu kereta menuju perjalanan biasanya dan satu lagi mengantarkan pada tugas negara. Kami berpisah di stasiun tua, stasiun yang kini kami sama-sama lupa kabarnya. Dia pergi lebih dahulu menenteng tas yang banyak jumlahnya dan masuk kereta eksklusif denga...