Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2018

Aku Lupa Caranya Mengeja

Ada belukar dan semak-semak yang mengelilingi sebuah rumah kayu kecil di pinggir sungai kecil kota itu. Sungai mengalir pelan-pelan, sesekali memiliki tekstur dari terpaan angin di atasnya. Kanan-kirinya tumbuhan air, ada kangkung, enceng gondok, dan  bunga-bungaan kali. Sore itu, pantulan cahaya matahari yang keemasan menjalar dari ujung selatan ke utara sungai kecil itu. Airnya tidak kecoklatan dan jernih kehijauan. Sungai yang lebarnya tidak selebar aspal-aspal ibukota, dan sungai yang syahdunya lebih syahdu dibandingkan cuit burung gereja pagi hari di taman kota. Bisa dibayangkan bagaimana malam di tepi sungai ini? Burung-burung beterbangan ringan di atas air yang tak beriak. Sesekali capung mencoba melawan pertahanan para burung, ketakutan, dan kembali ke jalur semula. Ikan-ikan sesekali menampakkkan diri di permukaan air yang terlihat dampai ke dalam, menembus rerumputan cokelat yang kehitaman. Menyimak lantunan senja, Menimbun lelayu syahdu. Burung merpati deng...

Perangkap

Ada perangkap yang disediakan para penembak jitu di selongsong kamera mereka. Karena yang tertembak mati ialah yang berdiri di garda terdepan untuk menyelamatkan yang terbunuh selanjutnya. Tuas ditarik, mata membidik. Suara nyaring keluar dari cerobong peluru yang diakhiri desis suara senjata. Burung-burung yang singgah seketika berhambur, terbang, hilang sebisanya. Lensa dipasang mengerucut pada ujung kamera. Dibidiknya pelan-pelan menghadap ke arah awan kebiruan. Nyali yang katanya berani meringkuk di akhir bait puisi berirama tanpa sajak pun menyaksikan kepiawaian tinta menggores kertas seperti melesat dalam aturan alam semesta. Menyerang ke arah berlawanan. Dengan tanpa berhadapan seperti kubu para ilustrator beraliran abstrak semu. Ada kabar baik seusai sejarah dibacakan. Seperti kisah tang akan terulang kembali dengan aktor yang berbeda. Pemeran memang diciptakan dengan kehati-hatian para sutradara amatirnya. Kisah selanjutnya ada di bagian tengah-tengah. Perangkap yang...

Aku berada di chapter berapa?

"ia mengintip melalui sela jendela kamar yang gordennya berwarna merah, ia melihat keluar dan seseorang tengah sibuk menjadi dirinya sendiri" Ada sebuah jilidan besar di rak buku kayu tua. Debu-debu di baris paling atas, seperti tempat yang susah disinggahi. Aku kemudian berpikir, "aku berada di chapter berapa dari sebuah buku". Kadang kala, manusia  hanya ditakdirkan menjadi tokoh figuran yang menempati 3-4 halaman dari sebuah buku, beruntungnya ada juga yang hanya menempati satu paragraf di tengah-tengah buku: membosankan. Manusia kemudian berpikir mengenai jumlah lembar yang harus diselesaikan untuk menghabiskan sebuah chapter buku tua. Adakah yang tidak bisa bahasa Turki, namun membaca buku-buku berbahasa Turki? Tidak ada, kan? Begitu pula dengan hidup, bahwa tidak semua orang bersedia "ikut campur" urusan orang lain yang tidak ia ketahuinya. Uniknya, kadang manusia ada yang terlahir sebagai kepala redaksi sebuah percetakan sebuah buku,...

Tentang Sebuah Persiapan Menjelang Perjanjian

Suara kipas memenuhi ruang kecil di bilik kecil tempat bernaung seorang pujangga yang gemar menulis kata rindu. Biar saja apa yang tertulis menjadi sebuah kisah katanya. Bait-bait berlari kecil, sekenanya, sesampainya. "Menepati tiap mimpi bersama yang dicipta dalam harmoni dan cinta. Mereka mengatakan bahwa langit masih tanpa batas, terbang bebas lepas!" Terkadang kita dipaksa memahami maksud. Sering kali terbangun dan tersadar, sebenarnya tiap manusia memberi dasar dan menunjukkan atas pemahaman yang mungkin tidak gamblang ia ingin beri tahu. Sekali lagi, memaksa orang memahami laju pemahaman orang lain adalah sebuah proses yang panjang. Seperti memahami senja, namun ia esok akan datang lagi dengan ujud yang belum tentu sama. Ada lipatan kerut di atas wajah sendu. Setiap orang menunjukkannya seolah menjadi tanda atas kepergian, kehilangan, dan ketiadaan yang semu. Alis terjinjing ke atas, di ujung-ujung mata ada bulir air yang terpaksa menetap. Dua kursi ...

Sajak Lama (Penulis Baru)

Aku kembali menulis sajak. Seperti sisa kerinduan pada cerita-cerita romansa yang ditulis para saudagar. Menceritakan kisah cinta seperti bercerita tentang transaksi jual beli yang berakhir dengan sama-sama tahu, sama-sama memahami, dan sama-sama mengiyakan. Karpet-karpet basah impor menjadi saksi dan beberapa helai bulu burung mahal. Aku kembali menyanyikan lagu di tiap bait. Seperti lantunan ayat suci di ujung maghrib surau-surau kecil di tengah sawah. Di pinggirnya  pagar-pagar bambu setinggi dada anak sekolah dasar dengan rongga selebar kucing bisa lewat leluasa. Senja menyingkap dari ujung sesawahan yang diakhiri dengan hutan pohon jati nan lebat. Dering suara aamiin lantang di tengah perapian para petani. Aku kadang kembali menyimak nestapa para pengemis tua Pagi yang berlalu seperti kisah yang sudah terlampaui dengan saksama oleh para penghuni lama. Berlama-lama dengan senja seperti mengulur waktu yang sedang dinanti orang lain dengan cara yang berbeda. Sepe...