Solo merupakan salah satu kota di Jawa Tengah yang identik
dengan beberapa kasus teroris. Setelah adanya bentrok sosial antara pemuka
agama dengan masyarakat daerah sekitar (solopos.com)
di Jalan R. E. Martandinata, Solo kembali diguncang dengan kasus penembakan
oleh terduga teroris yang menewaskan salah seorang polisi di Pos Penjagaan
Matahari Singosaren, selang beberapa hari terjadi baku tembak antara polisi dan
terduga teroris di daerah Tipes, Solo dan beberapa penggebrakan yang sukses
membuat warga was-was. Merupakan kegiatan beruntut yang masih cukup terkenang
di benak masyarakat Solo.
Kriminalitas kecil di wilayah kampus pun masih perlu
untuk diperhatikan. Kehilangan motor di wilayah kos-kosan mahasiswa cukup
sering, perampokan, pencurian, dan berbagai kasus yang sempat menghinggapi
benak warga Solo menjadi perhatian khusus. Bukan lagi masalah pemerintah
apabila hal tersebut terjadi berturut-turut. Masyarakat pun perlu untuk turut
menyelesaikan masalah yang ada tersebut, karena dapat dikatakan, masyarakat
adalah penyebab utama perselisihan dan penyimpangan sosial.
Berbagai bentuk penyimpangan moral yang ada di Indonesia
adalah dampak keras dari degradasi moral bangsa. Moral bangsa menurun akibat
kurang kokohnya benteng pertahanan mereka dari pengaruh budaya barat yang
notabene bukan budaya asli Indonesia. Menurunnya moral tersebutlah yang
sering-sering disebut bahwa karakter bangsa Indonesia mulai buram dan kurang
kuat. Sedangkan berbagai bentuk potensi dimiliki oleh bangsa Indonesia. Potensi
fisik maupun non-fisik sebenarnya telah dikuasai Indonesia. Indonesia
mengantongi emas yang berlimpah di dasar tanahnya, Indonesia memiliki sumber
daya manusia yang penuh dengan semangat, Indonesia memiliki sejarah yang hebat,
dan Indonesia berada di lokasi geografi yang sangat baik.
Indonesia merupakan negara yang beragam.
Keberanekaragaman yang unik dan menarik mendukung Indonesia untuk maju di
segala bidang. Di sisi lain, perbedaan yang ada menjadi selisih paham yang
paling rentan di masyarakat. Jika diamanati dari berbagai sudut pandang
pengambilan keputusan dan penyelesaian masalah, pemerintah tidak kurang langkah
untuk menyelesaikan masalah yang ada. Seyogyanya masalah yang ada di masyarakat
akan lebih terselesaikan apabila masyarakat itu sendiri yang menemukan solusi
terbaik dalam penanganannya. Dengan begitu, pemerintah hanya berlaku sebagai
fasilitator dan pihak ketiga dalam penyelesaian tersebut.
Kunci pemahaman pada pengabdian masyarakat ini adalah,
penyelesaian masalah dari masyarakat untuk masyarakat. Secara otomatis,
masyarakatlah penyebab dan solutor dari keadaan yang ada. Diharapkan dengan
kunci pengabdian inilah, seluruh masalah yang ada dapat terselesaikan dengan
lebih cepat dan mudah. Dengan kondisi semacam ini, masyarakat tidak perlu
bergantung kepada pemerintah, namun pemerintah akan menjadi pihak yang
mengendalikan dan memfasilitasi seluruh kebutuhan masyarakat.
Salah satu masalah yang paling krusial yang ada di
masyarakat saat ini adalah keadaan psikologis dan kepribadian moral
individunya. Berbicara masalah moral tidak lepas dari realitas masyarakat saat
ini. Relaitas tersebut dapat dilihat dari pemberitaan yang ada di sosial media.
Pemberitaan tersebutlah gambaran masyarakat yang ada saat ini. Jika ditilik,
lebih dari setengah pemberitaan yang ada di surat kabar memberikan gambaran
kasar bentuk masyarakat saat ini. Lantas langkah jitu seperti apa yang paling
tepat dalam penanganan masalah di Indonesia? Hal tersebut inilah yang akan
menjadi satu pengembangan penyelesaian maslaah masyarakat.
Di sisi lain, pendidikan
karakter masih menjadi polemik di masyarakat Solo.
Aplikasi yang kurang tepat menyudutkan setiap pihak untuk membenahi diri dan
selalu mengubah struktur dan pola pengembangan anak. Beberapa pihak merasa pendidikan
karakter hanya membuang alokasi biaya pada hal yang kurang begitu penting,
selain itu, pendidikan karakter juga digadang-gadang kurang bermanfaat untuk
seluruh pihak, hanya kaum terpelajar saja yang merasakan penting dan manfaatnya
pendidikan karakter. Bagi pihak di luar kependidikan, pentingnya pendidikan
karakter masih kurang berasa. Pentingnya pendidikan karakter sebagai salah satu
motor revolusi perubahan bangsa masih kurang dipahami oleh pihak tertentu.
Pemerintah menindak tegas pendidikan karakter dengan
caranya sendiri. Pemerintah khususnya di bidang pendidikan mengimplisitkan
setiap nilai karakter dalam pembelajaran di dalam kelas. Selain itu, acap kali pemerintah
mengadakan seminar, lokakarya, pendidikan dan pelatihan, perlombaan, dan
berbagai kegiatan penggerak motivasi kebangsaan masyaraka. Tapi, sayangnya
kesempatan baik yang disediakan oleh pemerintah tidak dimanfaatkan dengan baik
oleh masyarakat dalam mengembangkan dan menata keterampulan dan bakat yang
mereka miliki. Padahal, apabila kesempatan itu dimanfaatkan dengan baik, tentu
saja semua akan berjalan dengan baik.
Hal tersebut belum tentu efektif
apabila anak kurang memahami tujuan dari hal tersebut, dengan
ketidaktersampaikannya karakter di setiap peserta didik, hal ini dinilai zero,
atau tidak bermanfaat. Pendidikan
karakter perlu ditanamkan sejak dini, kepada setiap anak Indonesia. Pendidikan
karakter dalam kemendiknas, terdiri dari 18 nilai karakter, yang kesemuanya
harus dimiliki setiap pribadi anak. Pendidikan
karakter belum tercapai salah satu penyebabnya adalah media yang tidak mumpuni dan kurang dirasakan keberadaannya oleh
masyarakat sasaran. Masyarakat masih merasakan senggang antara media dan
keberadaan mereka sebagai anggota dari masyarakat marginal.
Wagadhewe adalah sebauh terobosan baru sosialisasi dan penanamanan serta
pengembangan karakter peserta didik yang akan diaplikasikan secara langsung di
dalam masyarakat. Dengan terobosan Wagadhewe di dalam pengelolaan masyarakat, tentunya masyarakat yang akan menentukan
langkah awal penyelesaian permasalahan mereka. Konsep yang ditawarkan oleh Wagadhewe adalah sebuah pelatihan menggunakan wayang yang dibuat
oleh anak-anak daerah Bantaran Bengawan Solo. Wayang dibuat berdasarkan pada
karakter setiap peserta didik. Mereka boleh memilih karakter anak nakal, anak
pandai, anak bodoh, anak miskin, anak malas, dan sebagainya. Namun pada intinya
nanti mereka yang akan meluruskan setiap karakter dari aktor yang dibuatnya.
Yakni melalui modeling pembuatan
cerita dan beserta naskah konkritnya.
Komentar
Posting Komentar