Langsung ke konten utama

Pesawat dung dung

Aku tau judul catatn ini memalukan, namun ku coba goreskan sedikt masa yang ingin ku bagi!
pertema kalinya ke luar pulau pakai pesawat, seneng banget, apalagi ditemani saudara2ku, yang baru namun sungguh mengena. mereka adalah kontingen PIMNAS 24, dari UNS,... membanggakan, adallah kata kedua yang kuucapkan. naik pesawat dibayari negara. :D
niat awal lomba, eh malah mlancong...hoo...kami tiba dibandara adi sutjipto pukul 5 pagi dan harus bersiap terbang ke makasar, hatiku deg-deg an,...namun inilah yang harus dilakukan,,, pesawat! badan.e GD bgt,,, bisa ngelihat awan diatas sana,,,sama bisa ngelihat puncak-puncak gunung....
ketika naik pesawat kudu di sensor dulu, bawa alat berbahaya eggak...habis itu, kudu masuk kabin, keburu2 semuanya, namun tastenya ya disitu...hohoh....diatas awan, masih ada awan...tentu saja...itulah awan impianku dengan teman2....
kami dulu sempat bernafsu untuk membawa 18 emas...namun Tuhan merencanakan lain,...
sahabatku,,aku ingin cerita, bahwa bangganya aku mengenal kalian...tak dapat ku kira dan duga.,.kalian ada, ku kira kalian orang yang menyebalkan..namun ternyata kalian mampu mencuri emas hatiku,,,,great..buat mbak widi..selamat buat perunggunya,,,buat teman2 yang belum ada rejeki,,semangat! buat mbak2 yang udah angkatan 2006-2007-2008 udah,,stop aja mpe disini,,,kalian udah tua :D :D
sahabatkku,,,ku ucapkan maaf jika ada tutur kata ku yang salah, perbuatAnku yang tak sopan, dan kesemuanya,,maafkan aku,..,,
ini adalah memori terindah yang pernah ku ukir bersama orang hebat,,aku bangga ada dianatara kalian, dan aku bangga,,,,aku ada dan kalian ada buatku,,,buat semuanya, perjuangan kita tak hanya sampai disini,,,tahun depan, adalah awal dari epeprangan lagi,,,kita tidak kalah,,namun kita msih juara...
UNS....HEBAT
UNS.,...DAHSYAT
UNS.....LUAR BIASA...
PIMNAS,.,,MASIH JUARA
ini adalah memori terindah yang pernah ku ukir bersama orang hebat,,aku bangga ada dianatara kalian, dan aku bangga,,,,aku ada dan kalian ada buatku,,,buat semuanya, perjuangan kita tak hanya sampai disini,,,tahun depan, adalah awal dari epeprangan lagi,,,kita tidak kalah,,namun kita msih juara... UNS....HEBAT UNS.,...DAHSYAT UNS.....LUAR BIASA... PIMNAS,.,,MASIH JUARA

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Senin Malam

Tidak jauh dari jalan besar, sebuah mobil patroli polisi dengan suara dari pengerasnya melantang. Tidak ada suara lain yang membuyarkan malam selain bising-bising itu. Makin jauh makin hilang. Beberapa hewan kembali merintih kedinginan di balik kayu-kayu besar dan belukar. Sekali-dua kali rel beku kereta api menderu dan mendesis kepanasan diguyuri lokomotif dengan kecepatan penuh. Hawa dingin dari pohon-pohon berdaun lebat menyisakan banyak ruang sepi yang sengaja disiapkan untuk pagi yang silau. Lorong panjang dalam kereta yang memancarkan lampu remang berkilat berbarengan dengan deru laju. Tiba-tiba angin semilir beradu mau. Membisikkan cerita dari kota ke kota. Malam makin larut dan getir kenangan siang tadi masih nenyesakkan pipa-pipa saluran saraf ke otak. . Akan ada yang datang jika seseorang memutuskan untuk pergi.

Prof. Soepomo Poedjosoedarmo

Beliau linguis. Beliau bertempat tinggal di Jalan Kaliurang 4.5 Jogjakarta dan lahir di Wonosari, Gunungkidul. Beliau S-2 dan S-3 di Cornell, lalu menikah dengan orang New York (namanya Gloria Poedjosoedarmo) istrinya juga seorang linguis dan sempat mengajar di UGM. Beliau yang kemudian bersedia tinggal di Indonesia. Istri pertama Eyang Prof. Pomo telah meninggal ketika itu. Eyang dulu dilarang oleh Sang Ibu yang dari wonosari, yang awalnya dapat beasiswa ke Aussie, sudah ditunjukkan eyang Pomo Peta Aussie, dekat. Tetapi Sang Ibu tetap tidak mengizinkan. Kata Sang Ibu, tidak tega anak pergi jauh2 "nanti kalo gak punya uang saku bagaimana cara ibu mau kasih kamu uang". Akhirnya mbah buyut (Sang Ibu) Wonosari, tak lama setelah itu wafat. Jadi, eyang berangkatlah ke jakarta. Gak taunya, eyang dapat kabar bahwa dapat beasiswa S2-S3 di Cornell New York. Lalu eyang ambil sekalian aja ke situ, yg jauh sekalian. Tidak jadi ke Aussie. Dulu kata eyang Pomo, eyang tidak mahir bahasa Ing...

Kereta dan Roti Aroma Kopi

Pada sebuah sore, aromanya menempel di kerah-kerah baju. Benar kata salah satu kawan baru, jika tidak beli maka rasa dari roti itu akan terus terngiang-ngiang sampai besok lusa. Roti yang katanya aroma kopi meskipun di dalamnya ada pecahan keju yang lumer. Yang paling menyenangkan adalah beli dua dan mendapatkan tiga. Hari itu, lahir sebuah firasat. Seorang berkaos lengan panjang mengenakan topi baret warna hitam menenteng tas agak banyak. Biasanya berisi buku tulisannya yang akan dibagi-bagikan. Kami bertemu. Pertemuan yang tidak disengaja dan bukan seperti biasanya. Sebuah roti berbungkus warna kuning di tangan masing-masing. Bertatapan lama dan saling terbahak menertawakan firasat sore itu. Ada dua buah kereta dengan tujuan berbeda. Satu kereta menuju perjalanan biasanya dan satu lagi mengantarkan pada tugas negara. Kami berpisah di stasiun tua, stasiun yang kini kami sama-sama lupa kabarnya. Dia pergi lebih dahulu menenteng tas yang banyak jumlahnya dan masuk kereta eksklusif denga...