Langsung ke konten utama

Tik TOk 2# rasa

kemarin aku mengunduh lagu latar dari sebuah iklan, yang buatku itu sangat berarti dan memiliki kedalaman makna. berlandaskan darinya, aku ingin menulis sebuah catatan baru.
senin lalu, aku bertemu dengan seorang ketua program studi ku, beliau adalah Dr. wanita yang sangat ku kagumi, karena beliau pernah berkata "tidak ada ibu yang tidak peduli pada anaknya(mahasiswa)"

oleh beliau, aku diminta untuk mendaftar sebuah ajang bergengsi di Indonesia, yang bermula dari hal yang kecil -Mawapres-

namun, di dalam catatan ini, akan ku ceritakan sebuah hal yang jauh sebelum ini semua terjadi.

aku mahasiswa biasa saja tanpa alasan untuk menjadi yang spesial. yang aku tahu,aku cuma 'beda' aku suka mudik, aku suka diem, aku suka ngomong dan aku suka diriku sendiri.
semua bermula dari menjadinya korting dan kenal dengan beberapa motivator kehidupanku....

setelah itu, seorang kakak tingkat mulai mengglamorkan kehidupanku, dengan nafas yang disebut PKM dan karya tulis. aku yang semula hanya ingin menjadi mahasiswa biasa, akhirnya tertarik untuk mengabdi untuk masyarakat. aku mulai mengenal anak jalanan dan mengenal orang-orang hebat lainnya. ternyata aku sadar, aku tak hidup seorang diri.
aku semakin mengenal kakak tingkatku ini, aku semakiin tidak bisa lepas dari dunia yang tidak aku suka..

menulis, adalah hal yang sejak dulu tak aku suka, dan kini, aku memiliki hobi menulis karya ilmiah dalam bentuk apapun.

ia mengenalkanku masyarakat yang marginal, anak jalanan dan seanteronya.

ia mengenalkanku pada orang gila! seseorang yang berbeda, dan aku tidak suka. kini, aku mengabdi untuknya, dan aku menyukainya.

kini, aku diminta menjadi seorang mawa, dan dulu aku tak menyukainya. hal yang paling penting adalah, bukan dengan gelar apa kamu hidup, namun dengan apa kamu bisa menjadi orang yang ada? bagi orang lain!!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Senin Malam

Tidak jauh dari jalan besar, sebuah mobil patroli polisi dengan suara dari pengerasnya melantang. Tidak ada suara lain yang membuyarkan malam selain bising-bising itu. Makin jauh makin hilang. Beberapa hewan kembali merintih kedinginan di balik kayu-kayu besar dan belukar. Sekali-dua kali rel beku kereta api menderu dan mendesis kepanasan diguyuri lokomotif dengan kecepatan penuh. Hawa dingin dari pohon-pohon berdaun lebat menyisakan banyak ruang sepi yang sengaja disiapkan untuk pagi yang silau. Lorong panjang dalam kereta yang memancarkan lampu remang berkilat berbarengan dengan deru laju. Tiba-tiba angin semilir beradu mau. Membisikkan cerita dari kota ke kota. Malam makin larut dan getir kenangan siang tadi masih nenyesakkan pipa-pipa saluran saraf ke otak. . Akan ada yang datang jika seseorang memutuskan untuk pergi.

Prof. Soepomo Poedjosoedarmo

Beliau linguis. Beliau bertempat tinggal di Jalan Kaliurang 4.5 Jogjakarta dan lahir di Wonosari, Gunungkidul. Beliau S-2 dan S-3 di Cornell, lalu menikah dengan orang New York (namanya Gloria Poedjosoedarmo) istrinya juga seorang linguis dan sempat mengajar di UGM. Beliau yang kemudian bersedia tinggal di Indonesia. Istri pertama Eyang Prof. Pomo telah meninggal ketika itu. Eyang dulu dilarang oleh Sang Ibu yang dari wonosari, yang awalnya dapat beasiswa ke Aussie, sudah ditunjukkan eyang Pomo Peta Aussie, dekat. Tetapi Sang Ibu tetap tidak mengizinkan. Kata Sang Ibu, tidak tega anak pergi jauh2 "nanti kalo gak punya uang saku bagaimana cara ibu mau kasih kamu uang". Akhirnya mbah buyut (Sang Ibu) Wonosari, tak lama setelah itu wafat. Jadi, eyang berangkatlah ke jakarta. Gak taunya, eyang dapat kabar bahwa dapat beasiswa S2-S3 di Cornell New York. Lalu eyang ambil sekalian aja ke situ, yg jauh sekalian. Tidak jadi ke Aussie. Dulu kata eyang Pomo, eyang tidak mahir bahasa Ing...

Kereta dan Roti Aroma Kopi

Pada sebuah sore, aromanya menempel di kerah-kerah baju. Benar kata salah satu kawan baru, jika tidak beli maka rasa dari roti itu akan terus terngiang-ngiang sampai besok lusa. Roti yang katanya aroma kopi meskipun di dalamnya ada pecahan keju yang lumer. Yang paling menyenangkan adalah beli dua dan mendapatkan tiga. Hari itu, lahir sebuah firasat. Seorang berkaos lengan panjang mengenakan topi baret warna hitam menenteng tas agak banyak. Biasanya berisi buku tulisannya yang akan dibagi-bagikan. Kami bertemu. Pertemuan yang tidak disengaja dan bukan seperti biasanya. Sebuah roti berbungkus warna kuning di tangan masing-masing. Bertatapan lama dan saling terbahak menertawakan firasat sore itu. Ada dua buah kereta dengan tujuan berbeda. Satu kereta menuju perjalanan biasanya dan satu lagi mengantarkan pada tugas negara. Kami berpisah di stasiun tua, stasiun yang kini kami sama-sama lupa kabarnya. Dia pergi lebih dahulu menenteng tas yang banyak jumlahnya dan masuk kereta eksklusif denga...