Langsung ke konten utama

BIPA???

          Pelaksanaan pembelajaran BIPA terdiri atas kegiatan pendahuluan, kegiatan inti, dan kegiatan penutup. Kegiatan pendahuluan dalam pembelajaran dilakukan dengan membuka pelajaran meliputi pengucapan salam, menanyakan keadaan pelajar, dan mengadakan game. Dalam membuka pelajaran pengajar mengutamakan bagaimana suasana berlangsung hangat dan komunikatif sehingga pengajar dapat mengetahui seberapa banyak kata yang telah dikuasai pelajar. Namun ada beberapa hal yang kurang diperhatikan pengajar yaitu pengajar tidak menjelaskan terlebih dahulu hal-hal apa yang akan dilakukan hari itu dan hari selanjutnya terkait dengan pokok bahasan yang akan dipelajari. Tahapan yang dilakukan pengajar pada kegiatan inti yaitu(1) pelajar diminta untuk membacakan teks surat, (2) mengidentifikasi kata-kata sulit yang terdapat dalam teks surat dengan pembahasan secara lisan, (3) pengajar menjelaskan mengenai surat pembaca dan surat resmi, (4) pelajar ditugasi secara individual untuk membuat surat pembaca dan surat resmi,(5) pengajar memberikan balikan dengan memeriksa tugas pelajar dan merevisi bagian-bagian yang kurang tepat, (6) pengajar menjelaskan tentang subtitusi dengan terlebih dahulu meminta pelajar untuk membacakan contoh-contoh subtitusi, (7) pelajar diminta untuk mengerjakan latihan soal subtitusi, dan (8) pembahasan soal subtitusi dengan meminta pelajar untuk membacakan hasil pekerjaannya dan langsung dibahas oleh pengajar apabila terdapat kesalahan. Kegiatan penutup hanya sebatas pada pengucapan salam untuk mengakhiri pelajaran. Pengajar tidak melakukan refleksi, membuat kesimpulan atau pemantapan materi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Senin Malam

Tidak jauh dari jalan besar, sebuah mobil patroli polisi dengan suara dari pengerasnya melantang. Tidak ada suara lain yang membuyarkan malam selain bising-bising itu. Makin jauh makin hilang. Beberapa hewan kembali merintih kedinginan di balik kayu-kayu besar dan belukar. Sekali-dua kali rel beku kereta api menderu dan mendesis kepanasan diguyuri lokomotif dengan kecepatan penuh. Hawa dingin dari pohon-pohon berdaun lebat menyisakan banyak ruang sepi yang sengaja disiapkan untuk pagi yang silau. Lorong panjang dalam kereta yang memancarkan lampu remang berkilat berbarengan dengan deru laju. Tiba-tiba angin semilir beradu mau. Membisikkan cerita dari kota ke kota. Malam makin larut dan getir kenangan siang tadi masih nenyesakkan pipa-pipa saluran saraf ke otak. . Akan ada yang datang jika seseorang memutuskan untuk pergi.

Prof. Soepomo Poedjosoedarmo

Beliau linguis. Beliau bertempat tinggal di Jalan Kaliurang 4.5 Jogjakarta dan lahir di Wonosari, Gunungkidul. Beliau S-2 dan S-3 di Cornell, lalu menikah dengan orang New York (namanya Gloria Poedjosoedarmo) istrinya juga seorang linguis dan sempat mengajar di UGM. Beliau yang kemudian bersedia tinggal di Indonesia. Istri pertama Eyang Prof. Pomo telah meninggal ketika itu. Eyang dulu dilarang oleh Sang Ibu yang dari wonosari, yang awalnya dapat beasiswa ke Aussie, sudah ditunjukkan eyang Pomo Peta Aussie, dekat. Tetapi Sang Ibu tetap tidak mengizinkan. Kata Sang Ibu, tidak tega anak pergi jauh2 "nanti kalo gak punya uang saku bagaimana cara ibu mau kasih kamu uang". Akhirnya mbah buyut (Sang Ibu) Wonosari, tak lama setelah itu wafat. Jadi, eyang berangkatlah ke jakarta. Gak taunya, eyang dapat kabar bahwa dapat beasiswa S2-S3 di Cornell New York. Lalu eyang ambil sekalian aja ke situ, yg jauh sekalian. Tidak jadi ke Aussie. Dulu kata eyang Pomo, eyang tidak mahir bahasa Ing...

Kereta dan Roti Aroma Kopi

Pada sebuah sore, aromanya menempel di kerah-kerah baju. Benar kata salah satu kawan baru, jika tidak beli maka rasa dari roti itu akan terus terngiang-ngiang sampai besok lusa. Roti yang katanya aroma kopi meskipun di dalamnya ada pecahan keju yang lumer. Yang paling menyenangkan adalah beli dua dan mendapatkan tiga. Hari itu, lahir sebuah firasat. Seorang berkaos lengan panjang mengenakan topi baret warna hitam menenteng tas agak banyak. Biasanya berisi buku tulisannya yang akan dibagi-bagikan. Kami bertemu. Pertemuan yang tidak disengaja dan bukan seperti biasanya. Sebuah roti berbungkus warna kuning di tangan masing-masing. Bertatapan lama dan saling terbahak menertawakan firasat sore itu. Ada dua buah kereta dengan tujuan berbeda. Satu kereta menuju perjalanan biasanya dan satu lagi mengantarkan pada tugas negara. Kami berpisah di stasiun tua, stasiun yang kini kami sama-sama lupa kabarnya. Dia pergi lebih dahulu menenteng tas yang banyak jumlahnya dan masuk kereta eksklusif denga...