Langsung ke konten utama

Cuplikan Perkamen Tua


Apa rencanamu selain menyakitiku dengan diammu? Sehingga aku meleleh dengan sendirinya, lalu tiada. Apa rencanamu selain duduk di depanku dengan diam tanpa tatapan hangat, bincangan lekat. Sehingga aku meratap di antara dingin dan sakit. Apa rencanamu selain menjauhkan ku dari masamu? Sehingga aku tersingkir karena aku belum siap melakukan pengambilan nafas terakhirku. Aku sungguh ada di sini, menyayangimu dari jauh.


Sayangku ke kamu, cukup rahasia ku saja. Tidak perlu banyak yang tahu, karena kagum ku ke kamu tidak ingin ku bagi dengan yang lain. Aku sayang kamu bukan tanpa alasan, tapi alasan pun juga tak mampu merasionalkan perasaan yang kini ku alami, sehingga aku tak akan bisa meninggalkanmu begitu saja tanpa luka.




Hatiku ke kamu utuh tanpa celah, satu bagian dengan yang lain erat, kadang ingin ku bagi, tapi tak kuat nurani. Jiwa ku melekat erat di pangkal hatimu, rautmu, dan sedikit saja, senyum yang mengepul ringan.


aku mengagumimu dri tempat yang cukup jauh, dari ujung yang tidak terlihat oleh panca meski kadang kau merasa. Aku menatapmu dari ufuk, tempat yang hanya bisa kau imajinasikan dengan sempurna.

Teruntukmu disana, yang setahun yang lalu mengerjaiku di bulan puasa.


Aku benci segala macam perpisahan. Meskipun bertemu di lain waktu, akan ada banyak bagian yang belum tentu kembali.


#sebuah catatan berarti

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Senin Malam

Tidak jauh dari jalan besar, sebuah mobil patroli polisi dengan suara dari pengerasnya melantang. Tidak ada suara lain yang membuyarkan malam selain bising-bising itu. Makin jauh makin hilang. Beberapa hewan kembali merintih kedinginan di balik kayu-kayu besar dan belukar. Sekali-dua kali rel beku kereta api menderu dan mendesis kepanasan diguyuri lokomotif dengan kecepatan penuh. Hawa dingin dari pohon-pohon berdaun lebat menyisakan banyak ruang sepi yang sengaja disiapkan untuk pagi yang silau. Lorong panjang dalam kereta yang memancarkan lampu remang berkilat berbarengan dengan deru laju. Tiba-tiba angin semilir beradu mau. Membisikkan cerita dari kota ke kota. Malam makin larut dan getir kenangan siang tadi masih nenyesakkan pipa-pipa saluran saraf ke otak. . Akan ada yang datang jika seseorang memutuskan untuk pergi.

Prof. Soepomo Poedjosoedarmo

Beliau linguis. Beliau bertempat tinggal di Jalan Kaliurang 4.5 Jogjakarta dan lahir di Wonosari, Gunungkidul. Beliau S-2 dan S-3 di Cornell, lalu menikah dengan orang New York (namanya Gloria Poedjosoedarmo) istrinya juga seorang linguis dan sempat mengajar di UGM. Beliau yang kemudian bersedia tinggal di Indonesia. Istri pertama Eyang Prof. Pomo telah meninggal ketika itu. Eyang dulu dilarang oleh Sang Ibu yang dari wonosari, yang awalnya dapat beasiswa ke Aussie, sudah ditunjukkan eyang Pomo Peta Aussie, dekat. Tetapi Sang Ibu tetap tidak mengizinkan. Kata Sang Ibu, tidak tega anak pergi jauh2 "nanti kalo gak punya uang saku bagaimana cara ibu mau kasih kamu uang". Akhirnya mbah buyut (Sang Ibu) Wonosari, tak lama setelah itu wafat. Jadi, eyang berangkatlah ke jakarta. Gak taunya, eyang dapat kabar bahwa dapat beasiswa S2-S3 di Cornell New York. Lalu eyang ambil sekalian aja ke situ, yg jauh sekalian. Tidak jadi ke Aussie. Dulu kata eyang Pomo, eyang tidak mahir bahasa Ing...

Kereta dan Roti Aroma Kopi

Pada sebuah sore, aromanya menempel di kerah-kerah baju. Benar kata salah satu kawan baru, jika tidak beli maka rasa dari roti itu akan terus terngiang-ngiang sampai besok lusa. Roti yang katanya aroma kopi meskipun di dalamnya ada pecahan keju yang lumer. Yang paling menyenangkan adalah beli dua dan mendapatkan tiga. Hari itu, lahir sebuah firasat. Seorang berkaos lengan panjang mengenakan topi baret warna hitam menenteng tas agak banyak. Biasanya berisi buku tulisannya yang akan dibagi-bagikan. Kami bertemu. Pertemuan yang tidak disengaja dan bukan seperti biasanya. Sebuah roti berbungkus warna kuning di tangan masing-masing. Bertatapan lama dan saling terbahak menertawakan firasat sore itu. Ada dua buah kereta dengan tujuan berbeda. Satu kereta menuju perjalanan biasanya dan satu lagi mengantarkan pada tugas negara. Kami berpisah di stasiun tua, stasiun yang kini kami sama-sama lupa kabarnya. Dia pergi lebih dahulu menenteng tas yang banyak jumlahnya dan masuk kereta eksklusif denga...