Apa rencanamu selain menyakitiku dengan diammu? Sehingga aku meleleh dengan sendirinya, lalu tiada. Apa rencanamu selain duduk di depanku dengan diam tanpa tatapan hangat, bincangan lekat. Sehingga aku meratap di antara dingin dan sakit. Apa rencanamu selain menjauhkan ku dari masamu? Sehingga aku tersingkir karena aku belum siap melakukan pengambilan nafas terakhirku. Aku sungguh ada di sini, menyayangimu dari jauh.
Sayangku ke kamu, cukup rahasia ku saja. Tidak perlu banyak yang tahu, karena kagum ku ke kamu tidak ingin ku bagi dengan yang lain. Aku sayang kamu bukan tanpa alasan, tapi alasan pun juga tak mampu merasionalkan perasaan yang kini ku alami, sehingga aku tak akan bisa meninggalkanmu begitu saja tanpa luka.
Hatiku ke kamu utuh tanpa celah, satu bagian dengan yang lain erat, kadang ingin ku bagi, tapi tak kuat nurani. Jiwa ku melekat erat di pangkal hatimu, rautmu, dan sedikit saja, senyum yang mengepul ringan.
aku mengagumimu dri tempat yang cukup jauh, dari ujung yang tidak terlihat oleh panca meski kadang kau merasa. Aku menatapmu dari ufuk, tempat yang hanya bisa kau imajinasikan dengan sempurna.
Teruntukmu disana, yang setahun yang lalu mengerjaiku di bulan puasa.
Aku benci segala macam perpisahan. Meskipun bertemu di lain waktu, akan ada banyak bagian yang belum tentu kembali.
#sebuah catatan berarti
Komentar
Posting Komentar