Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juli, 2016

Di Sebuah Altitud dan Gubuk Tua

Hallo, selamat pagi hey pemuja kesendirian. Tadi malam aku berada di ufuk ketakutan ku akan dirilku sendiri. Aku membayangkan diriku di antara gelap pekatnya belantara dan dikelilingi awan dingin. Rasa yang sampai saat ini masih menusuk bagian tertentu kulitku. Pagi ini, di antara embun yang berbaris rapi, di kala rintihan burung-burung perkutut di sangkar  tua, dan di antara ulu hati serta paru-paru. Aku berjanji aku akan melupakanmu. Kemarin, aku membawamu ke hutan pohon jati saat bulan purnama. Disana, aku benar-benar merasakan kesakitan yang mendalam, penuh luka dan trauma. Kini, aku sudah merasakan kepulanganku di gubuk kecil tengah sawah dan empang berwarna hijau lumut. Apakah kau tau? Tadi malam saat kudengar suaramu di antara jajaran pohon jati, aku duduk menepi pada salah satu jati terbesar dan diam. Aku diam dalam waktu yang cukup lama. Dan kau perlu tahu. Aku menaruh kenangan kita di antara semak belukar dan aku memilih yang paling jauh dari jangkauan ma...

Malam Kemarau di Hutan Pohon Jati

Hari ini aku tengah giat belajar untuk melupakanmu. Dengan cara beberapa kali aku menghindari aktivitas denganmu atau bahkan tidak lagi memandang fotomu seperti penantianku kemarin sore. Hari ini aku belajar banyak dari tiap kenangan yang sebenarnya biasa saja. Kamu pun lumayan banyak online dibandingkan hari sebelumnya. Aku memandangi kontak whatsapp mu demi memastikan apa yang sedang kau lakukan. Rindu? Tentu iya. Bahkan aku menahan untuk tidak mengetik sepatah huruf pun demi menyukseskan program move-on ku dari kamu! Program move-on ini kutulis dalam deretan yang agak panjang, agar aku segera menyadari hadirmu bakal segera kulupakan. Hadirmu saja sudah membuatku berantakan, mendengar suaramu setengah berbisik apa lagi. Aku berantakan, porak poranda. Seperti pohon jati yang berguguran di musim kemarau. Rontok! Luluh! Lantak! Kering! Apakah kau tahu, bagaimana ujudnya hutan pohon jati di malam hari kala purnama? Bentuknya sangat menyeramkan! Aku akan coba untuk mendeskri...

Angin Membawamu dan Meninggalkanku.

Bagaimana bisa aku mengaku mencintai air dan goresan senja di antaranya, jika sampai saat ini aku belum bisa menggambarkan benciku pada angin. Aku membenci angin dengan bagaimana pun caranya ia beradaptasi dalam tiap gelombang elektromagnetik. Ia bahkan kedar bersama tiap halusinasi manusia di mana pun mereka berada. Di antara sisi-sisinya, angin juga melampiaskan senti demi senti mantera pertahanan kuat dalam menghalau sihir para pemilik sejarah. Aku membenci angin dengan pelbagai bentuk dan warnanya. Sering kali ia menunjukkan diri dengan kekuatan dan arogansi para pemegang elemen kehidupan manusia.  Angin menerjang, membelai sepoi, menyentuh rengkuh, bahkan memeluk sejuk. Aku membenci angin seketika Kau tidak memberiku kabar maghrib ini. Maghrib ini kembali ku sendirian ditemani para gembala perjalanan panjang. Saat ini, waktu seperti ingin menyampaikan perselingkuhan antaramu dan para bedebah. Beberapa hari yang lalu, temanku berteori tentang relativitas defi...

Aku dan Para Penjaga Bersedia

Embun pagi kali ini lebih lebat. Pekatnya menutupi pandangan di antara tinggi dataran di atas gedung-gedung menjulang rendah. Beberapa erat masuk ke sela lubang hidung yang tergenang air mata semalam. Kemudian, ada isak tangis yang masih terasa. Di luar, sedikit demi sedikit semburat kuning menelusuri celah pohon-pohon lebat berkayu sisik. Pandanganku masih lurus ke depan, sesekali menengok ke arah spion dan membuang ke kanan-kiri semaunya. Bodo amat pada rasa dingin yang menusuk-nusuk setiap pori yang menganga. Kemudian mengusap kaca samping, demi memperjelas pandangan. Pixel pada tipologi jalanan ibu kota menunjukkan kerekatan ganda. Masing-masing terlihat jernih dan makin ketara dengan jelas. Begitu pula bayangan dirimu di antara warna cat kuning tembok pada emper toko yang jaraknya sekitar tiga blok dari area utama. Bayanganmu kembali lepas seperti anak panah. Kehadiranmu masih dicurigai oleh para penjaga masa lalu. Jejak langkahmu di waktu kemarin terbaca oleh mereka. Saa...

Pembuka Cerita Pagi

Kita punya sebuah kotak ruangan yang di sisi sebelah kanan penuh dengan jendela kayu tua.  Tiap jendela memiliki aksen kotak sempurna dengan gradasi menipis di tengahnya. Empat jendela di sisi kanan, dan dua jendela di sisi kiri. Tidak seluas sebelah kanan, karena di sebelah kiri ada pintu yang menjulang tinggi sampai ujung tembok depan. Pintu itu tanpa ukiran, hanya saja dua kotak besar menjadikannya motif di antara warna abu tua yang catnya sedikit luntur karena cuaca. Batu ubin dari campuran pasir, semen, dan sebagainya yang dicampur menjadi bilah-bilah tegel per 20 cm berwarna abu kelam hitam. Ubin adem yang memberi efek gelap di ruangan ini tidak akan memantulkan cahaya matahari meski terik. Beberapa hiasan keramik kecil berjajar rapi dari ujung barat lemari ke pangkal satunya. Di sela-selanya ada beberapa pigura berisi foto sepasang kasih. Bahkan boneka kecil juga menduduki sela yang sebenarnya tidak pas, namun bisa dirasakan sebuah cerita tiap elemennya. Ujung r...

Perang di Akhir Baris Para Sondanco (Cerita dalam Strategem)

Film-film zaman dahulu tidak membicarakan perang di pantai, biasanya di hutan atau di tengah laut lepas. Mana ada sutradara yang berani menanam ranjau di putih buih pasir? Karena setiap orang memiliki cerita di pantai, si bibir laut. Siapa yang berani memainkan kata? Selain para pemula perang dengan pedang di tangan kanan, dan sebotol racun pada ujung belati di tangan sebelah kiri. Yang semula kata-kata prolog tentang perbincangan persaudaraan masa lalu yang pasti berujung cerita sedih salah satu. Mereka mulai membahas mengenai awal dan akhir, hingga mereka menyatakan kebencian masing-masing aktor dalam dunia nyata. Kadang salah satu rela membongkar nafsu dunia demi menjunjung kebenaran diri. Sebotol sampanye dari sari anggur terbaik dituangkan sedikit demi sedikit pada perbincangan menuju tengah malam. Apa yang terlihat selain rasa canggung dalam diri masing-masing. Perang sebelumnya belum usai, sesuai janji dalam meja prasasti yang sengaja dibeli akhir waktu masa ...

Perjalanan Malam

Kapan kau mulai menyadari adaku? Atau hanya aku yang termangu terlalu lama, duduk termenung, lantas diam saja di benakmu. “Kamu sedang apa?” Di saat-saat terakhir perpisahan malam itu, aku sedih dan melihat ke luar kaca mobil. Aku bahkan selalu menunggumu memulai percakapan masalah perkamen tua di lorong perpustaakaan angker pojok kanan atas. Rak-rak buku menjadi saksi bisunya saat itu, aku menunggu dan kau enggan memulai. Laju kendaraan masih pelan-pelan, keluar dari pintu pajak yang semua orang rela mengantre demi keluar dari ruang tunggu searah. Sesekali aku sengaja melirikmu, menyamakan irama pandangan, dan mencoba memasuki sesuatu yang tidak aku ketahui. Perlahan kau mengambil alih perhatian dan aku salah tingkah. Kau bertanya, “Ada apa?”. Tangkasku selalu sama, “Tak apa,” jawaban ini akan aku pertahankan sampai perjalanan berakhir. Sore itu, kita sepakat untuk saling menunggu tanpa konfirmasi siapa yang memulai. Senja menyamarkan wajahmu, meski lelahmu masih terl...

Malam ini, dia menggangguku.

Luasnya hati tetap tak bisa menampung satu perasaan yang di dalamnya berdiri tegak seseorang dengan ketulusan yang dimiliki. Mata kejujuran yang ia sampaikan dalam kata perkamen warna tanah. Ia sempat berbincang masalah hati yang kemudian menyapu aroma kesepian dan keganjalan mengenai kata. Ia melanjutkan dengan nada penyesalan di akhir baris. Jika saja malam itu ada yang menepati janji untuk datang tepat waktu. Senja berkata yang sebenarnya, ia tidak bisa membantu menemani menunggu. Padahal, di balik awan, hujan terburu turun. Masih ingat senyumnya yang masih basah di ingatan? Jika saja manusia kecil itu menyatakan lelah, maka ku akan menemaninya sampai kotanya. Jika saja manusia jujur itu memintaku menginap, aku akan berjanji dengan sepenuh hati. Bahkan, jika ia memintaku menggantikannya, aku akan melakukannya. Ketakutan? Bahkan aku ketakutan menanyakan kabarnya, sampai dimana dan bagaimana ia menjalani harinya. Ketika rasa ini tiba-tiba datang. Hujan menyapu ri...