Langsung ke konten utama

Malam Kemarau di Hutan Pohon Jati

Hari ini aku tengah giat belajar untuk melupakanmu. Dengan cara beberapa kali aku menghindari aktivitas denganmu atau bahkan tidak lagi memandang fotomu seperti penantianku kemarin sore. Hari ini aku belajar banyak dari tiap kenangan yang sebenarnya biasa saja. Kamu pun lumayan banyak online dibandingkan hari sebelumnya.

Aku memandangi kontak whatsapp mu demi memastikan apa yang sedang kau lakukan. Rindu? Tentu iya. Bahkan aku menahan untuk tidak mengetik sepatah huruf pun demi menyukseskan program move-on ku dari kamu! Program move-on ini kutulis dalam deretan yang agak panjang, agar aku segera menyadari hadirmu bakal segera kulupakan. Hadirmu saja sudah membuatku berantakan, mendengar suaramu setengah berbisik apa lagi.

Aku berantakan, porak poranda. Seperti pohon jati yang berguguran di musim kemarau. Rontok! Luluh! Lantak! Kering! Apakah kau tahu, bagaimana ujudnya hutan pohon jati di malam hari kala purnama? Bentuknya sangat menyeramkan! Aku akan coba untuk mendeskripsikan!

Sebuah hutan yang luas, dan kau di dalamnya!  Kau tidak tahu kemana arah dan tujuan! Malam hari yang mana terdengar suara burung hantu bernyiur merdu. Cahaya bulan menembus dedaunan robek para jati tua. Coba tengoklah pohon jati, rantingnya terpecah di atas-atas. Membelah diri dan memberikan rindang. Tapi, ketika ia berdiri menjulang tanpa daun karena kemarau! Kau akan melihat nyinyir kesedihan. Suasana malam, sewaktu kau berdiri dengan semua cara bulan memergokimu. Kau berdiri dengan sesekali berputar, untuk memastikan ini bukan mimpi.

Kemudian, lihatlah ke bawah. Daun-daun bergumul dan berserakan dengan acak. Mereka tergeletak tak berdaya menunggu api menyambar dan hangus. Atau lebih beruntung ketika hujan terlanjur datang, mereka akan bertumpukan dengan mesra bersama teman-temannya. Bahkan daun pohon jati pun akan terdengar galau saat malam sudah tiba. Sesekali kau akan mendengar dayu suara daun jati terinjak. Kau akan kaget.

Itu yang kurasakan! Kamu pikir gampang menjadi aku? Menjadi seseorang yang lebih dulu jatuh cinta? Dibanding kamu yang tinggal memilih untuk menerima atau menolaknya.

Kita akan kembali berimaji.
Pada kemarau malam di hutan pohon jati, tiba-tiba kau mendengar suara dari sosok yang tak kau tahu. Anggap saja, kau menerima telepon dari nomor yang belum kau simpan. Lantas, suara ini kau kenal dengan baik, suara pelan yang menenangkan. Meski suara ini pelan, kau tetap akan terhenyak kaget. Kaget ini bukan kaget ketakutan, tapi kaget excited karena munculnya seseorang di tengah hutan yang kau tak bisa bayangkan sebelumnya. Kau mencari suara ini datangnya darimana! Bayangkan jika di hutan itu, dia hanya punya waktu 2 menit untuk menyapamu.

Apa yang ingin kau katakan? Selain seribu kata yang semuanya gugup dan berestafet minta segera dilafalkan. Yang pada akhirnya semua berantakan, tak ada yang keluar bahkan sepatah pun. Kemudian, aku memandangi sepi di ujung hutan.

Beberapa saat 2 menit dari suaramu tadi muncul, aku sempat berpikir bahwa ini imajinasiku semata. Suara ini hanya lamunan yang sengaja aku ciptakan untuk menemaniku. Suara yang hanya ingin kudengar meski bukan fenomena realita. Tapi setidaknya, 2 menit itu bisa menginspirasiku untuk lebih kuat menghadapi malam kemarau di hutan pohon jati.

Aku gugup.
Aku kemudian berjalan beberapa meter dari titik dimana aku tersadar di hutan ini. Aku mencari pohon jati terbesar di sekelilingku, yang bisa kutemukan. Aku bersandar, dan terduduk menepi.

Malam ini adalah malam minggu, malam yang mana aku akan memandangi foto whatsappmu jauh lebih lama dari waktu-waktu sebelumnya. Malam yang mana aku akan menjatuhkan air mataku lebih pelan dibandingkan malam sendu lainnya. Malam yang mana aku akan menghapuskan kamu dari emosi sesaatku kemarin.


Aku terlalu mudah jatuh cinta, dan aku mengasosiasikan kamu sebagai bayangan kehidupan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Senin Malam

Tidak jauh dari jalan besar, sebuah mobil patroli polisi dengan suara dari pengerasnya melantang. Tidak ada suara lain yang membuyarkan malam selain bising-bising itu. Makin jauh makin hilang. Beberapa hewan kembali merintih kedinginan di balik kayu-kayu besar dan belukar. Sekali-dua kali rel beku kereta api menderu dan mendesis kepanasan diguyuri lokomotif dengan kecepatan penuh. Hawa dingin dari pohon-pohon berdaun lebat menyisakan banyak ruang sepi yang sengaja disiapkan untuk pagi yang silau. Lorong panjang dalam kereta yang memancarkan lampu remang berkilat berbarengan dengan deru laju. Tiba-tiba angin semilir beradu mau. Membisikkan cerita dari kota ke kota. Malam makin larut dan getir kenangan siang tadi masih nenyesakkan pipa-pipa saluran saraf ke otak. . Akan ada yang datang jika seseorang memutuskan untuk pergi.

Prof. Soepomo Poedjosoedarmo

Beliau linguis. Beliau bertempat tinggal di Jalan Kaliurang 4.5 Jogjakarta dan lahir di Wonosari, Gunungkidul. Beliau S-2 dan S-3 di Cornell, lalu menikah dengan orang New York (namanya Gloria Poedjosoedarmo) istrinya juga seorang linguis dan sempat mengajar di UGM. Beliau yang kemudian bersedia tinggal di Indonesia. Istri pertama Eyang Prof. Pomo telah meninggal ketika itu. Eyang dulu dilarang oleh Sang Ibu yang dari wonosari, yang awalnya dapat beasiswa ke Aussie, sudah ditunjukkan eyang Pomo Peta Aussie, dekat. Tetapi Sang Ibu tetap tidak mengizinkan. Kata Sang Ibu, tidak tega anak pergi jauh2 "nanti kalo gak punya uang saku bagaimana cara ibu mau kasih kamu uang". Akhirnya mbah buyut (Sang Ibu) Wonosari, tak lama setelah itu wafat. Jadi, eyang berangkatlah ke jakarta. Gak taunya, eyang dapat kabar bahwa dapat beasiswa S2-S3 di Cornell New York. Lalu eyang ambil sekalian aja ke situ, yg jauh sekalian. Tidak jadi ke Aussie. Dulu kata eyang Pomo, eyang tidak mahir bahasa Ing...

Kereta dan Roti Aroma Kopi

Pada sebuah sore, aromanya menempel di kerah-kerah baju. Benar kata salah satu kawan baru, jika tidak beli maka rasa dari roti itu akan terus terngiang-ngiang sampai besok lusa. Roti yang katanya aroma kopi meskipun di dalamnya ada pecahan keju yang lumer. Yang paling menyenangkan adalah beli dua dan mendapatkan tiga. Hari itu, lahir sebuah firasat. Seorang berkaos lengan panjang mengenakan topi baret warna hitam menenteng tas agak banyak. Biasanya berisi buku tulisannya yang akan dibagi-bagikan. Kami bertemu. Pertemuan yang tidak disengaja dan bukan seperti biasanya. Sebuah roti berbungkus warna kuning di tangan masing-masing. Bertatapan lama dan saling terbahak menertawakan firasat sore itu. Ada dua buah kereta dengan tujuan berbeda. Satu kereta menuju perjalanan biasanya dan satu lagi mengantarkan pada tugas negara. Kami berpisah di stasiun tua, stasiun yang kini kami sama-sama lupa kabarnya. Dia pergi lebih dahulu menenteng tas yang banyak jumlahnya dan masuk kereta eksklusif denga...