Langsung ke konten utama

Angin Membawamu dan Meninggalkanku.


Bagaimana bisa aku mengaku mencintai air dan goresan senja di antaranya, jika sampai saat ini aku belum bisa menggambarkan benciku pada angin.

Aku membenci angin dengan bagaimana pun caranya ia beradaptasi dalam tiap gelombang elektromagnetik. Ia bahkan kedar bersama tiap halusinasi manusia di mana pun mereka berada. Di antara sisi-sisinya, angin juga melampiaskan senti demi senti mantera pertahanan kuat dalam menghalau sihir para pemilik sejarah.

Aku membenci angin dengan pelbagai bentuk dan warnanya.
Sering kali ia menunjukkan diri dengan kekuatan dan arogansi para pemegang elemen kehidupan manusia.  Angin menerjang, membelai sepoi, menyentuh rengkuh, bahkan memeluk sejuk. Aku membenci angin seketika Kau tidak memberiku kabar maghrib ini. Maghrib ini kembali ku sendirian ditemani para gembala perjalanan panjang.

Saat ini, waktu seperti ingin menyampaikan perselingkuhan antaramu dan para bedebah. Beberapa hari yang lalu, temanku berteori tentang relativitas definisi selingkuh. Bahkan, ojek langganan depan rumah pun bisa dialibikan sebagai selingkuhan. Katanya, ojek adalah definisi selingkuh paling margin.

Kembali lagi pada angin.
Hari ini, aku membenci angin di kala kabar darimu tak kuterima di ufuk senja. Sebenarnya senja-senja kemarin kau pun melupakan tuts angka nomor teleponku di handphonemu. Kau tidak datang, sampai aku menyerah. Skakmat, aku menyerah dua kali.

Aku membenci angin maghrib ini.
Kau menjulurkan tangan seolah kau ada. Di sisi lain, kau menghilang tanpa bayang segaris pun. Kau pikir dengan caramu ini kau bisa membuatku bertahan? Jawabannya iya! Aku tetap bertahan dengan segala upaya yang bisa kulakukan. Misalnya, memandangmu, membaca tulisanmu, bahkan sesekali melihat kamu online whatsapp pun aku sudah bahagia. Meski online mu tidak untukku. Kau tahu itu? Kau sukses! Kau sukses membuatku menunggu untuk malam ini.

Aku  tidak tahu, kapan kau akan kembali muncul dan menghiasi sisi lamunanku. Kau menggantung dalam diamku, diammu. Yang pasti angin tahu semua itu. Aku iri pada angin yang membelai wajahmu erat, ia menyentuhmu bak seorang paling mesra denganmu. Aku cemburu pada angin, ia tak hanya memperhatikanmu, ia diam-diam memelukmu dari belakang. Bahkan, aku pernah mendengar kata-kata cinta darinya untukmu. Kau kira aku tidak tahu?

Aku masih membenci angin sejak kau nyaman dalam perjalanan dan dalam kesendirianmu. Kau melampiaskan semuanya pada angin, ketika aku tak bisa bersamamu. Kau katakan pada angin tentang semua cerita sendu, bahagia, dan malumu.

Aku ingin mejadi angin sejak kau redam waktu yang panjang bersamanya, bukan bersamaku. Kau beri salam pada angin sejak keberadaanku tak kau gubris. Kau berlari memeluk angin, sejak pandanganmu padaku berakhir dengan pelarian mata.


Mana bisa aku menjadi angin, jika kabar tentangmu saja hari ini aku tidak tahu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Senin Malam

Tidak jauh dari jalan besar, sebuah mobil patroli polisi dengan suara dari pengerasnya melantang. Tidak ada suara lain yang membuyarkan malam selain bising-bising itu. Makin jauh makin hilang. Beberapa hewan kembali merintih kedinginan di balik kayu-kayu besar dan belukar. Sekali-dua kali rel beku kereta api menderu dan mendesis kepanasan diguyuri lokomotif dengan kecepatan penuh. Hawa dingin dari pohon-pohon berdaun lebat menyisakan banyak ruang sepi yang sengaja disiapkan untuk pagi yang silau. Lorong panjang dalam kereta yang memancarkan lampu remang berkilat berbarengan dengan deru laju. Tiba-tiba angin semilir beradu mau. Membisikkan cerita dari kota ke kota. Malam makin larut dan getir kenangan siang tadi masih nenyesakkan pipa-pipa saluran saraf ke otak. . Akan ada yang datang jika seseorang memutuskan untuk pergi.

Prof. Soepomo Poedjosoedarmo

Beliau linguis. Beliau bertempat tinggal di Jalan Kaliurang 4.5 Jogjakarta dan lahir di Wonosari, Gunungkidul. Beliau S-2 dan S-3 di Cornell, lalu menikah dengan orang New York (namanya Gloria Poedjosoedarmo) istrinya juga seorang linguis dan sempat mengajar di UGM. Beliau yang kemudian bersedia tinggal di Indonesia. Istri pertama Eyang Prof. Pomo telah meninggal ketika itu. Eyang dulu dilarang oleh Sang Ibu yang dari wonosari, yang awalnya dapat beasiswa ke Aussie, sudah ditunjukkan eyang Pomo Peta Aussie, dekat. Tetapi Sang Ibu tetap tidak mengizinkan. Kata Sang Ibu, tidak tega anak pergi jauh2 "nanti kalo gak punya uang saku bagaimana cara ibu mau kasih kamu uang". Akhirnya mbah buyut (Sang Ibu) Wonosari, tak lama setelah itu wafat. Jadi, eyang berangkatlah ke jakarta. Gak taunya, eyang dapat kabar bahwa dapat beasiswa S2-S3 di Cornell New York. Lalu eyang ambil sekalian aja ke situ, yg jauh sekalian. Tidak jadi ke Aussie. Dulu kata eyang Pomo, eyang tidak mahir bahasa Ing...

Kereta dan Roti Aroma Kopi

Pada sebuah sore, aromanya menempel di kerah-kerah baju. Benar kata salah satu kawan baru, jika tidak beli maka rasa dari roti itu akan terus terngiang-ngiang sampai besok lusa. Roti yang katanya aroma kopi meskipun di dalamnya ada pecahan keju yang lumer. Yang paling menyenangkan adalah beli dua dan mendapatkan tiga. Hari itu, lahir sebuah firasat. Seorang berkaos lengan panjang mengenakan topi baret warna hitam menenteng tas agak banyak. Biasanya berisi buku tulisannya yang akan dibagi-bagikan. Kami bertemu. Pertemuan yang tidak disengaja dan bukan seperti biasanya. Sebuah roti berbungkus warna kuning di tangan masing-masing. Bertatapan lama dan saling terbahak menertawakan firasat sore itu. Ada dua buah kereta dengan tujuan berbeda. Satu kereta menuju perjalanan biasanya dan satu lagi mengantarkan pada tugas negara. Kami berpisah di stasiun tua, stasiun yang kini kami sama-sama lupa kabarnya. Dia pergi lebih dahulu menenteng tas yang banyak jumlahnya dan masuk kereta eksklusif denga...