Bagaimana bisa aku mengaku mencintai air dan
goresan senja di antaranya, jika sampai saat ini aku belum bisa menggambarkan
benciku pada angin.
Aku membenci angin dengan bagaimana pun caranya
ia beradaptasi dalam tiap gelombang elektromagnetik. Ia bahkan kedar bersama
tiap halusinasi manusia di mana pun mereka berada. Di antara sisi-sisinya,
angin juga melampiaskan senti demi senti mantera pertahanan kuat dalam
menghalau sihir para pemilik sejarah.
Aku membenci angin dengan pelbagai bentuk dan
warnanya.
Sering kali ia menunjukkan diri dengan kekuatan
dan arogansi para pemegang elemen kehidupan manusia. Angin menerjang, membelai sepoi, menyentuh
rengkuh, bahkan memeluk sejuk. Aku membenci angin seketika Kau tidak memberiku
kabar maghrib ini. Maghrib ini kembali ku sendirian ditemani para gembala
perjalanan panjang.
Saat ini, waktu seperti ingin menyampaikan perselingkuhan
antaramu dan para bedebah. Beberapa hari yang lalu, temanku berteori tentang
relativitas definisi selingkuh. Bahkan, ojek langganan depan rumah pun bisa
dialibikan sebagai selingkuhan. Katanya, ojek adalah definisi selingkuh paling
margin.
Kembali lagi pada angin.
Hari ini, aku membenci angin di kala kabar
darimu tak kuterima di ufuk senja. Sebenarnya senja-senja kemarin kau pun
melupakan tuts angka nomor teleponku di handphonemu. Kau tidak datang, sampai
aku menyerah. Skakmat, aku menyerah dua kali.
Aku membenci angin maghrib ini.
Kau menjulurkan tangan seolah kau ada. Di sisi
lain, kau menghilang tanpa bayang segaris pun. Kau pikir dengan caramu ini kau
bisa membuatku bertahan? Jawabannya iya! Aku tetap bertahan dengan segala upaya
yang bisa kulakukan. Misalnya, memandangmu, membaca tulisanmu, bahkan sesekali
melihat kamu online whatsapp pun aku sudah bahagia. Meski online mu tidak
untukku. Kau tahu itu? Kau sukses! Kau sukses membuatku menunggu untuk malam ini.
Aku tidak tahu, kapan kau akan kembali muncul dan
menghiasi sisi lamunanku. Kau menggantung dalam diamku, diammu. Yang pasti
angin tahu semua itu. Aku iri pada angin yang membelai wajahmu erat, ia
menyentuhmu bak seorang paling mesra denganmu. Aku cemburu pada angin, ia tak
hanya memperhatikanmu, ia diam-diam memelukmu dari belakang. Bahkan, aku pernah
mendengar kata-kata cinta darinya untukmu. Kau kira aku tidak tahu?
Aku masih membenci angin sejak kau nyaman dalam
perjalanan dan dalam kesendirianmu. Kau melampiaskan semuanya pada angin,
ketika aku tak bisa bersamamu. Kau katakan pada angin tentang semua cerita
sendu, bahagia, dan malumu.
Aku ingin mejadi angin sejak kau redam waktu
yang panjang bersamanya, bukan bersamaku. Kau beri salam pada angin sejak
keberadaanku tak kau gubris. Kau berlari memeluk angin, sejak pandanganmu
padaku berakhir dengan pelarian mata.
Mana bisa aku menjadi angin, jika kabar
tentangmu saja hari ini aku tidak tahu.

Komentar
Posting Komentar