Langsung ke konten utama

Perjalanan Malam


Kapan kau mulai menyadari adaku? Atau hanya aku yang termangu terlalu lama, duduk termenung, lantas diam saja di benakmu. “Kamu sedang apa?”

Di saat-saat terakhir perpisahan malam itu, aku sedih dan melihat ke luar kaca mobil. Aku bahkan selalu menunggumu memulai percakapan masalah perkamen tua di lorong perpustaakaan angker pojok kanan atas. Rak-rak buku menjadi saksi bisunya saat itu, aku menunggu dan kau enggan memulai. Laju kendaraan masih pelan-pelan, keluar dari pintu pajak yang semua orang rela mengantre demi keluar dari ruang tunggu searah.

Sesekali aku sengaja melirikmu, menyamakan irama pandangan, dan mencoba memasuki sesuatu yang tidak aku ketahui. Perlahan kau mengambil alih perhatian dan aku salah tingkah. Kau bertanya, “Ada apa?”. Tangkasku selalu sama, “Tak apa,” jawaban ini akan aku pertahankan sampai perjalanan berakhir.

Sore itu, kita sepakat untuk saling menunggu tanpa konfirmasi siapa yang memulai. Senja menyamarkan wajahmu, meski lelahmu masih terlihat nyata di kaca-kaca spion mobil. Jika aku bisa menuliskan kalimat awal dan akhiran semudah membalikkan tangan kiri, aku pasti sudah membisikkan tiga kalimat untuk memastikan semua dalam keadaan baik.

Tiba-tiba kau berhenti dan mengatakan sesuatu, aku tidak mendengarkan. Lamunanku tentangmu menyita perhatianku. Sedangkan kau yang nyata di sampingku tak kusimak dengan lebih nyata. Tiba-tiba matamu mencincing sebelah, menunggu jawabanku. Apa kamu tak bisa membaca mimik muka bodohku yang berkata“Aku tidak tau, apa yang kau sampaikan tadi, ulangi!”.

Kau mengeyahkan pandanganku dan fokus menatap ke depan, seraya kita setuju bahwa kita lupakan saja tema baru saja. Jika waktu bisa diundur, aku hanya ingin memintamu untuk mengulangi pertanyaanmu tadi. Namun kini terlambat, aku tidak bisa bertanya.

Pada suatu ketika, kau bercerita tentangmu, tentang dirimu, tentang masa  indahmu, dan burukmu. Aku paham betul, saat itu suasana tengah canggung dalam kebuntuan percakapan. Kau memulai cerita tentang hadirmu pada tiap awal cerita kehidupan. Kau membubuhkan cerita haru yang realistis untuk kusimak. Pada pucuk cerita, ternyata kau pangkalkan lagi pada hadirku.

Kau melanjutkan cerita tentang pekerjaanmu, kau mengutuk seorang lakon. Kau gembar-gemborkan ia dengan semua keinginannya yang tak bisa kau penuhi. Kau sampaikan mengenai peluh yang aku sendiri masih takjim tentangnya, di epilognya kau berikan aku nasihat agar ku tak sama denganmu. Sambil sesekali kau melihatku cepat.

Di akhir cerita, kau berbicara tentangku. Aku sebagai sosok yang tak kau mengerti, yang kau kenal lewat viral cerita manusia-manusia yang kita sama-sama tidak tahu. Kau tertawa geli bahkan kadang kala menatapku takjub. Sedangkan aku hanya bertugas untuk menyangkal setiap ceritamu. Aku mengangguk-angguk pelan seakan setuju, bahwa ternyata kau lah pemilik wajah sendu yang kukenal dalam mimpi baru-baru ini.


Perjalanan pulang, kau sempatkan bersenda-gurau. Kau memunculkan ku dalam benak tiap-tiap cerita yang akan kau rilis. Aku tertegun dan aku mulai salah mengartikan. Aku paham, aku jatuh cinta dengan cerita yang salah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Senin Malam

Tidak jauh dari jalan besar, sebuah mobil patroli polisi dengan suara dari pengerasnya melantang. Tidak ada suara lain yang membuyarkan malam selain bising-bising itu. Makin jauh makin hilang. Beberapa hewan kembali merintih kedinginan di balik kayu-kayu besar dan belukar. Sekali-dua kali rel beku kereta api menderu dan mendesis kepanasan diguyuri lokomotif dengan kecepatan penuh. Hawa dingin dari pohon-pohon berdaun lebat menyisakan banyak ruang sepi yang sengaja disiapkan untuk pagi yang silau. Lorong panjang dalam kereta yang memancarkan lampu remang berkilat berbarengan dengan deru laju. Tiba-tiba angin semilir beradu mau. Membisikkan cerita dari kota ke kota. Malam makin larut dan getir kenangan siang tadi masih nenyesakkan pipa-pipa saluran saraf ke otak. . Akan ada yang datang jika seseorang memutuskan untuk pergi.

Prof. Soepomo Poedjosoedarmo

Beliau linguis. Beliau bertempat tinggal di Jalan Kaliurang 4.5 Jogjakarta dan lahir di Wonosari, Gunungkidul. Beliau S-2 dan S-3 di Cornell, lalu menikah dengan orang New York (namanya Gloria Poedjosoedarmo) istrinya juga seorang linguis dan sempat mengajar di UGM. Beliau yang kemudian bersedia tinggal di Indonesia. Istri pertama Eyang Prof. Pomo telah meninggal ketika itu. Eyang dulu dilarang oleh Sang Ibu yang dari wonosari, yang awalnya dapat beasiswa ke Aussie, sudah ditunjukkan eyang Pomo Peta Aussie, dekat. Tetapi Sang Ibu tetap tidak mengizinkan. Kata Sang Ibu, tidak tega anak pergi jauh2 "nanti kalo gak punya uang saku bagaimana cara ibu mau kasih kamu uang". Akhirnya mbah buyut (Sang Ibu) Wonosari, tak lama setelah itu wafat. Jadi, eyang berangkatlah ke jakarta. Gak taunya, eyang dapat kabar bahwa dapat beasiswa S2-S3 di Cornell New York. Lalu eyang ambil sekalian aja ke situ, yg jauh sekalian. Tidak jadi ke Aussie. Dulu kata eyang Pomo, eyang tidak mahir bahasa Ing...

Kereta dan Roti Aroma Kopi

Pada sebuah sore, aromanya menempel di kerah-kerah baju. Benar kata salah satu kawan baru, jika tidak beli maka rasa dari roti itu akan terus terngiang-ngiang sampai besok lusa. Roti yang katanya aroma kopi meskipun di dalamnya ada pecahan keju yang lumer. Yang paling menyenangkan adalah beli dua dan mendapatkan tiga. Hari itu, lahir sebuah firasat. Seorang berkaos lengan panjang mengenakan topi baret warna hitam menenteng tas agak banyak. Biasanya berisi buku tulisannya yang akan dibagi-bagikan. Kami bertemu. Pertemuan yang tidak disengaja dan bukan seperti biasanya. Sebuah roti berbungkus warna kuning di tangan masing-masing. Bertatapan lama dan saling terbahak menertawakan firasat sore itu. Ada dua buah kereta dengan tujuan berbeda. Satu kereta menuju perjalanan biasanya dan satu lagi mengantarkan pada tugas negara. Kami berpisah di stasiun tua, stasiun yang kini kami sama-sama lupa kabarnya. Dia pergi lebih dahulu menenteng tas yang banyak jumlahnya dan masuk kereta eksklusif denga...