Kapan kau
mulai menyadari adaku? Atau hanya aku yang termangu terlalu lama, duduk
termenung, lantas diam saja di benakmu. “Kamu sedang apa?”
Di saat-saat
terakhir perpisahan malam itu, aku sedih dan melihat ke luar kaca mobil. Aku
bahkan selalu menunggumu memulai percakapan masalah perkamen tua di lorong
perpustaakaan angker pojok kanan atas. Rak-rak buku menjadi saksi bisunya saat
itu, aku menunggu dan kau enggan memulai. Laju kendaraan masih pelan-pelan,
keluar dari pintu pajak yang semua orang rela mengantre demi keluar dari ruang
tunggu searah.
Sesekali aku
sengaja melirikmu, menyamakan irama pandangan, dan mencoba memasuki sesuatu
yang tidak aku ketahui. Perlahan kau mengambil alih perhatian dan aku salah
tingkah. Kau bertanya, “Ada apa?”. Tangkasku selalu sama, “Tak apa,” jawaban
ini akan aku pertahankan sampai perjalanan berakhir.
Sore itu,
kita sepakat untuk saling menunggu tanpa konfirmasi siapa yang memulai. Senja
menyamarkan wajahmu, meski lelahmu masih terlihat nyata di kaca-kaca spion
mobil. Jika aku bisa menuliskan kalimat awal dan akhiran semudah membalikkan tangan
kiri, aku pasti sudah membisikkan tiga kalimat untuk memastikan semua dalam
keadaan baik.
Tiba-tiba
kau berhenti dan mengatakan sesuatu, aku tidak mendengarkan. Lamunanku
tentangmu menyita perhatianku. Sedangkan kau yang nyata di sampingku tak kusimak
dengan lebih nyata. Tiba-tiba matamu mencincing sebelah, menunggu jawabanku.
Apa kamu tak bisa membaca mimik muka bodohku yang berkata“Aku tidak tau, apa
yang kau sampaikan tadi, ulangi!”.
Kau mengeyahkan
pandanganku dan fokus menatap ke depan, seraya kita setuju bahwa kita lupakan
saja tema baru saja. Jika waktu bisa diundur, aku hanya ingin memintamu untuk
mengulangi pertanyaanmu tadi. Namun kini terlambat, aku tidak bisa bertanya.
Pada suatu
ketika, kau bercerita tentangmu, tentang dirimu, tentang masa indahmu, dan burukmu. Aku paham betul, saat
itu suasana tengah canggung dalam kebuntuan percakapan. Kau memulai cerita
tentang hadirmu pada tiap awal cerita kehidupan. Kau membubuhkan cerita haru
yang realistis untuk kusimak. Pada pucuk cerita, ternyata kau pangkalkan lagi
pada hadirku.
Kau
melanjutkan cerita tentang pekerjaanmu, kau mengutuk seorang lakon. Kau
gembar-gemborkan ia dengan semua keinginannya yang tak bisa kau penuhi. Kau
sampaikan mengenai peluh yang aku sendiri masih takjim tentangnya, di epilognya
kau berikan aku nasihat agar ku tak sama denganmu. Sambil sesekali kau
melihatku cepat.
Di akhir
cerita, kau berbicara tentangku. Aku sebagai sosok yang tak kau mengerti, yang
kau kenal lewat viral cerita manusia-manusia yang kita sama-sama tidak tahu.
Kau tertawa geli bahkan kadang kala menatapku takjub. Sedangkan aku hanya
bertugas untuk menyangkal setiap ceritamu. Aku mengangguk-angguk pelan seakan
setuju, bahwa ternyata kau lah pemilik wajah sendu yang kukenal dalam mimpi
baru-baru ini.
Perjalanan
pulang, kau sempatkan bersenda-gurau. Kau memunculkan ku dalam benak tiap-tiap
cerita yang akan kau rilis. Aku tertegun dan aku mulai salah mengartikan. Aku
paham, aku jatuh cinta dengan cerita yang salah.

Komentar
Posting Komentar