Langsung ke konten utama

Di Sebuah Altitud dan Gubuk Tua



Hallo, selamat pagi hey pemuja kesendirian. Tadi malam aku berada di ufuk ketakutan ku akan dirilku sendiri. Aku membayangkan diriku di antara gelap pekatnya belantara dan dikelilingi awan dingin. Rasa yang sampai saat ini masih menusuk bagian tertentu kulitku. Pagi ini, di antara embun yang berbaris rapi, di kala rintihan burung-burung perkutut di sangkar  tua, dan di antara ulu hati serta paru-paru. Aku berjanji aku akan melupakanmu.

Kemarin, aku membawamu ke hutan pohon jati saat bulan purnama. Disana, aku benar-benar merasakan kesakitan yang mendalam, penuh luka dan trauma. Kini, aku sudah merasakan kepulanganku di gubuk kecil tengah sawah dan empang berwarna hijau lumut. Apakah kau tau? Tadi malam saat kudengar suaramu di antara jajaran pohon jati, aku duduk menepi pada salah satu jati terbesar dan diam. Aku diam dalam waktu yang cukup lama.

Dan kau perlu tahu.
Aku menaruh kenangan kita di antara semak belukar dan aku memilih yang paling jauh dari jangkauan manusia pada umumnya. Bahkan jika kau minta aku untuk mengambilkannya lagi untukmu, aku sudah lupa dimana letaknya. Kenangan itu kusimpan rapat-rapat dengan beberapa di antaranya kutimbun batu besar yang penuh lumut kotor. Aku menggaruk-garuk tanah sekenanya untuk menunjukkan bahwa timbunan itu biasa saja, ku taruh dengan proporsi paling tepat.
Kini, gubuk tua di tengah sawah menjadi perhimpunan imajinasiku berikutnya. Kalau menurutmu aku gagal, kau salah! Sebenarnya aku tidak menyerah! Dan anggapku perjuangan sampai sini adalah kesuksesan besar

 Aku minta padamu untuk tidak datang kembali dengan cara apapun.
Gubuk ini tidak punya pintu apalagi jendela kaca. Ruang per dua meter dengan tiga alinea bambu rapuh yang menjadi penopangnya. Dan kau perlu tahu, gubuk ini hanya muat untukku dan kesendirian yang kutata rapi. Gubuk yang kutemukan dengan tidak sengaja ini memiliki atap genting tua beserta plastik kresek hitam rusak penambalnya. Gubuk ini tidak bisa kau singgahi meski hanya sebentar. Bagaimana jika hujan lebat turun? Mungkin aku sudah melanjutkan perjalanan. Ke tempat yang semestinya. Tidak ada kau, kebaikan kau, dan keikhlasan yang sampai sekarang belum sempat kau ajarkan.

Aku ngilu ketika pertama kali akan menulis tentang perjalanan pulangku dari hutan pohon jati. Tapi keadaanku makin parah jika aku harus tetap tinggal. Maafkan aku jika memang hatiku bukan pelabuhan yang tepat untuk perahu yang ingin kau sandarkan. Maafkan atas ketidaknyamananmu saat memutuskan untuk tinggal.

Gubuk tua ini ada di dekat sungai besar dan di altitud luas pohon pinus. Sungai itu mengalirkan air yang hijau kadang keruh. Di sisi sebelah barat ada sekumpul pohon bambu yang saling melenggok kanan kiri jika terkena angin sepoi. Di sebelahnya lagi kuburan sepi di antara bunga kamboja. Tidak jauh dari gubuk ini sering kudengar kepak sayap burung-burung besar dan diikuti cicitan tikus persawahan liar.


Jika kau ingin mencariku, aku disini. Dan aku yakin keberadaanku adalah tempat dimana kenangan kita pernah bertaut lama. Aku tidak akan membiarkanmu mencariku sendiri, biar beberapa sisa hatiku yang mengantarkanmu. Terimakasih untuk malam yang panjang, pagi yang menyambut.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Senin Malam

Tidak jauh dari jalan besar, sebuah mobil patroli polisi dengan suara dari pengerasnya melantang. Tidak ada suara lain yang membuyarkan malam selain bising-bising itu. Makin jauh makin hilang. Beberapa hewan kembali merintih kedinginan di balik kayu-kayu besar dan belukar. Sekali-dua kali rel beku kereta api menderu dan mendesis kepanasan diguyuri lokomotif dengan kecepatan penuh. Hawa dingin dari pohon-pohon berdaun lebat menyisakan banyak ruang sepi yang sengaja disiapkan untuk pagi yang silau. Lorong panjang dalam kereta yang memancarkan lampu remang berkilat berbarengan dengan deru laju. Tiba-tiba angin semilir beradu mau. Membisikkan cerita dari kota ke kota. Malam makin larut dan getir kenangan siang tadi masih nenyesakkan pipa-pipa saluran saraf ke otak. . Akan ada yang datang jika seseorang memutuskan untuk pergi.

Prof. Soepomo Poedjosoedarmo

Beliau linguis. Beliau bertempat tinggal di Jalan Kaliurang 4.5 Jogjakarta dan lahir di Wonosari, Gunungkidul. Beliau S-2 dan S-3 di Cornell, lalu menikah dengan orang New York (namanya Gloria Poedjosoedarmo) istrinya juga seorang linguis dan sempat mengajar di UGM. Beliau yang kemudian bersedia tinggal di Indonesia. Istri pertama Eyang Prof. Pomo telah meninggal ketika itu. Eyang dulu dilarang oleh Sang Ibu yang dari wonosari, yang awalnya dapat beasiswa ke Aussie, sudah ditunjukkan eyang Pomo Peta Aussie, dekat. Tetapi Sang Ibu tetap tidak mengizinkan. Kata Sang Ibu, tidak tega anak pergi jauh2 "nanti kalo gak punya uang saku bagaimana cara ibu mau kasih kamu uang". Akhirnya mbah buyut (Sang Ibu) Wonosari, tak lama setelah itu wafat. Jadi, eyang berangkatlah ke jakarta. Gak taunya, eyang dapat kabar bahwa dapat beasiswa S2-S3 di Cornell New York. Lalu eyang ambil sekalian aja ke situ, yg jauh sekalian. Tidak jadi ke Aussie. Dulu kata eyang Pomo, eyang tidak mahir bahasa Ing...

Kereta dan Roti Aroma Kopi

Pada sebuah sore, aromanya menempel di kerah-kerah baju. Benar kata salah satu kawan baru, jika tidak beli maka rasa dari roti itu akan terus terngiang-ngiang sampai besok lusa. Roti yang katanya aroma kopi meskipun di dalamnya ada pecahan keju yang lumer. Yang paling menyenangkan adalah beli dua dan mendapatkan tiga. Hari itu, lahir sebuah firasat. Seorang berkaos lengan panjang mengenakan topi baret warna hitam menenteng tas agak banyak. Biasanya berisi buku tulisannya yang akan dibagi-bagikan. Kami bertemu. Pertemuan yang tidak disengaja dan bukan seperti biasanya. Sebuah roti berbungkus warna kuning di tangan masing-masing. Bertatapan lama dan saling terbahak menertawakan firasat sore itu. Ada dua buah kereta dengan tujuan berbeda. Satu kereta menuju perjalanan biasanya dan satu lagi mengantarkan pada tugas negara. Kami berpisah di stasiun tua, stasiun yang kini kami sama-sama lupa kabarnya. Dia pergi lebih dahulu menenteng tas yang banyak jumlahnya dan masuk kereta eksklusif denga...