Langsung ke konten utama

Perang di Akhir Baris Para Sondanco (Cerita dalam Strategem)

Film-film zaman dahulu tidak membicarakan perang di pantai, biasanya di hutan atau di tengah laut lepas. Mana ada sutradara yang berani menanam ranjau di putih buih pasir? Karena setiap orang memiliki cerita di pantai, si bibir laut.

Siapa yang berani memainkan kata? Selain para pemula perang dengan pedang di tangan kanan, dan sebotol racun pada ujung belati di tangan sebelah kiri. Yang semula kata-kata prolog tentang perbincangan persaudaraan masa lalu yang pasti berujung cerita sedih salah satu. Mereka mulai membahas mengenai awal dan akhir, hingga mereka menyatakan kebencian masing-masing aktor dalam dunia nyata. Kadang salah satu rela membongkar nafsu dunia demi menjunjung kebenaran diri.

Sebotol sampanye dari sari anggur terbaik dituangkan sedikit demi sedikit pada perbincangan menuju tengah malam. Apa yang terlihat selain rasa canggung dalam diri masing-masing. Perang sebelumnya belum usai, sesuai janji dalam meja prasasti yang sengaja dibeli akhir waktu masa itu. Semula bermula dari sebuah kata.

Kata apa yang muncul pertama kali ketika haus datang sebelum lapar, dan di depannya seorang serdadu perang dengan peledak sintetis di tangan menyamar sebagai seorang musafir tua? “Perhentian selanjutnya di sisi hutan sebelah kanan,” katanya. Panggung di tengah rimbun kayu tembatu di sebelah kiri digunakan untuk para kuli perang biasanya memainkan alat musik norak dengan suara tidak samar sedikit sumbang untuk memalsukan desah para hasrat di belakang pohon rindang.

Pantai bukan destinasi paling tepat untuk memulai perang karena buih pasir yang terlalu lembut jika masuk ke mata, maka para serdadu akan menderita sakit mata yang berlebih. Terutama pada zaman perang kala itu, kacamata belum diproduksi untuk kaum serdadu sebagai garda terbawah derajat sosial. Masyarakat berhalusinasi terlalu fiktif.

Akhirnya saat itu, kata membuktikan dirinya.

Ia mampu menjadi tombak perang ketika bahasa menunjukkan kekuatannya dalam membentuk pasukan berbaju sondanco pada zaman itu, komandan peleton ketentaraan Jepang. Kokoh, gagah, dan memiliki kekuatan yang tidak terkalahkan pada zamannya. Aku menunggu rangkai katamu terurai dalam satu bait lurus. Begitu perang dimulai, maka kata-kata hrus ditutup dengan daftar pustaka yang menunjukkan epilog dan pertanggungjawaban.

Perang pun harus dipertanggungjawabkan!

Strategem disusun dalam setiap perkamen (seorang sahabat mengatakan mengenai repetisinya) digulung dan ditumpuk dalam lemari yang kesemuanya berisi kertas cokelat tanah itu. Begitu pula dengan kata, ia disusun menjadi strategi unik yang dinikmati setiap penikmatnya. Ia akan menjadi kekuatan besar jika sintaksis tiap rangkai disusun dengan teori milik linguis tua. Beberapa fungsi semantis di akhir turut dipertimbangkan untuk menyatakan makna sejujurnya maupun sekenanya. Ialah sebuah kata yang menjadikannya tabu jika ditulis menjadi sebuah strategi.


Namun, strategi akhirnya menjadi sebuah strategi jika disusun melalui kenyamanan para pemikir. Jika setiap Sondanco memiliki teori yang sama dari prolog sampai epilog, maka setiap hipotesis terjawab dengan sama. Dengan begitu, ini semua menjadikan selingkung sebagai gaya, teori hanya awalan semata. Perkamen dibuka di akhir tahun selanjutnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Senin Malam

Tidak jauh dari jalan besar, sebuah mobil patroli polisi dengan suara dari pengerasnya melantang. Tidak ada suara lain yang membuyarkan malam selain bising-bising itu. Makin jauh makin hilang. Beberapa hewan kembali merintih kedinginan di balik kayu-kayu besar dan belukar. Sekali-dua kali rel beku kereta api menderu dan mendesis kepanasan diguyuri lokomotif dengan kecepatan penuh. Hawa dingin dari pohon-pohon berdaun lebat menyisakan banyak ruang sepi yang sengaja disiapkan untuk pagi yang silau. Lorong panjang dalam kereta yang memancarkan lampu remang berkilat berbarengan dengan deru laju. Tiba-tiba angin semilir beradu mau. Membisikkan cerita dari kota ke kota. Malam makin larut dan getir kenangan siang tadi masih nenyesakkan pipa-pipa saluran saraf ke otak. . Akan ada yang datang jika seseorang memutuskan untuk pergi.

Prof. Soepomo Poedjosoedarmo

Beliau linguis. Beliau bertempat tinggal di Jalan Kaliurang 4.5 Jogjakarta dan lahir di Wonosari, Gunungkidul. Beliau S-2 dan S-3 di Cornell, lalu menikah dengan orang New York (namanya Gloria Poedjosoedarmo) istrinya juga seorang linguis dan sempat mengajar di UGM. Beliau yang kemudian bersedia tinggal di Indonesia. Istri pertama Eyang Prof. Pomo telah meninggal ketika itu. Eyang dulu dilarang oleh Sang Ibu yang dari wonosari, yang awalnya dapat beasiswa ke Aussie, sudah ditunjukkan eyang Pomo Peta Aussie, dekat. Tetapi Sang Ibu tetap tidak mengizinkan. Kata Sang Ibu, tidak tega anak pergi jauh2 "nanti kalo gak punya uang saku bagaimana cara ibu mau kasih kamu uang". Akhirnya mbah buyut (Sang Ibu) Wonosari, tak lama setelah itu wafat. Jadi, eyang berangkatlah ke jakarta. Gak taunya, eyang dapat kabar bahwa dapat beasiswa S2-S3 di Cornell New York. Lalu eyang ambil sekalian aja ke situ, yg jauh sekalian. Tidak jadi ke Aussie. Dulu kata eyang Pomo, eyang tidak mahir bahasa Ing...

Kereta dan Roti Aroma Kopi

Pada sebuah sore, aromanya menempel di kerah-kerah baju. Benar kata salah satu kawan baru, jika tidak beli maka rasa dari roti itu akan terus terngiang-ngiang sampai besok lusa. Roti yang katanya aroma kopi meskipun di dalamnya ada pecahan keju yang lumer. Yang paling menyenangkan adalah beli dua dan mendapatkan tiga. Hari itu, lahir sebuah firasat. Seorang berkaos lengan panjang mengenakan topi baret warna hitam menenteng tas agak banyak. Biasanya berisi buku tulisannya yang akan dibagi-bagikan. Kami bertemu. Pertemuan yang tidak disengaja dan bukan seperti biasanya. Sebuah roti berbungkus warna kuning di tangan masing-masing. Bertatapan lama dan saling terbahak menertawakan firasat sore itu. Ada dua buah kereta dengan tujuan berbeda. Satu kereta menuju perjalanan biasanya dan satu lagi mengantarkan pada tugas negara. Kami berpisah di stasiun tua, stasiun yang kini kami sama-sama lupa kabarnya. Dia pergi lebih dahulu menenteng tas yang banyak jumlahnya dan masuk kereta eksklusif denga...