Langsung ke konten utama

Aku dan Para Penjaga Bersedia


Embun pagi kali ini lebih lebat. Pekatnya menutupi pandangan di antara tinggi dataran di atas gedung-gedung menjulang rendah. Beberapa erat masuk ke sela lubang hidung yang tergenang air mata semalam. Kemudian, ada isak tangis yang masih terasa. Di luar, sedikit demi sedikit semburat kuning menelusuri celah pohon-pohon lebat berkayu sisik.

Pandanganku masih lurus ke depan, sesekali menengok ke arah spion dan membuang ke kanan-kiri semaunya. Bodo amat pada rasa dingin yang menusuk-nusuk setiap pori yang menganga. Kemudian mengusap kaca samping, demi memperjelas pandangan.

Pixel pada tipologi jalanan ibu kota menunjukkan kerekatan ganda. Masing-masing terlihat jernih dan makin ketara dengan jelas. Begitu pula bayangan dirimu di antara warna cat kuning tembok pada emper toko yang jaraknya sekitar tiga blok dari area utama.

Bayanganmu kembali lepas seperti anak panah. Kehadiranmu masih dicurigai oleh para penjaga masa lalu. Jejak langkahmu di waktu kemarin terbaca oleh mereka. Saat kau palingkan harap demi cerita indah yang berakhir nestapa.

Bodohnya aku, masih menunggumu.

Pagi ini, kamu memulai terlebih dahulu. Sapaan sederhana yang membuat aku terhenyak membacanya. Ada keinginan diri tuk melupakan apa yang terjadi, tapi jemariku berkata lain. Kata demi kata terpatri pada tuts-tuts alfabet, yang memberikan arti.

Kau mengirimku senja, ketika hari masih pagi. Seperti harap yang sengaja kau pupuskan dalam cerita remaja lugu. Kau bilang nanti saja, ketika kukirimkan sepucuk fajar. Kau tolak halus untuk saat-saat nanti, hingga semburat senja datang, kau meminta fajar. Kau bubuhkan tinggi sebuah harap, dan melayangkannya di atas potongan kertas di air tenang.

Perlahan potongan itu akan hancur dan tenggelam. Apakah semacam itu porsi yang kau berikan untuk hatiku di hatimu? Kau pikir aku tidak kesepian di dasar kolam menunggumu membaca tulisan di kertas yang kau tenggelamkan dengan sengaja. Aku terlanjur percaya.

Perahu dalam lamunanku mulai melaju, mendekap layar yang menjulang tinggi. Di atasnya tertulis kata yang tidak kan pernah ku ucapkan lagi. Perahu ini akan berlayar dalam masa yang sesuai dan bertambat pada yang tepat.

Nyalakan lagi bara yang lama telah kau padamkan, berdua kala itu. Ku rela menguak kembali tragedi lama. Asal kau bersedia berjanji di antara milyaran serpih pasir putih. Kau akan tanamkan harap yang kau genggam erat.

Senyum mulutku malu, Namun mentari siang ini  membuat hatiku mau.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Senin Malam

Tidak jauh dari jalan besar, sebuah mobil patroli polisi dengan suara dari pengerasnya melantang. Tidak ada suara lain yang membuyarkan malam selain bising-bising itu. Makin jauh makin hilang. Beberapa hewan kembali merintih kedinginan di balik kayu-kayu besar dan belukar. Sekali-dua kali rel beku kereta api menderu dan mendesis kepanasan diguyuri lokomotif dengan kecepatan penuh. Hawa dingin dari pohon-pohon berdaun lebat menyisakan banyak ruang sepi yang sengaja disiapkan untuk pagi yang silau. Lorong panjang dalam kereta yang memancarkan lampu remang berkilat berbarengan dengan deru laju. Tiba-tiba angin semilir beradu mau. Membisikkan cerita dari kota ke kota. Malam makin larut dan getir kenangan siang tadi masih nenyesakkan pipa-pipa saluran saraf ke otak. . Akan ada yang datang jika seseorang memutuskan untuk pergi.

Prof. Soepomo Poedjosoedarmo

Beliau linguis. Beliau bertempat tinggal di Jalan Kaliurang 4.5 Jogjakarta dan lahir di Wonosari, Gunungkidul. Beliau S-2 dan S-3 di Cornell, lalu menikah dengan orang New York (namanya Gloria Poedjosoedarmo) istrinya juga seorang linguis dan sempat mengajar di UGM. Beliau yang kemudian bersedia tinggal di Indonesia. Istri pertama Eyang Prof. Pomo telah meninggal ketika itu. Eyang dulu dilarang oleh Sang Ibu yang dari wonosari, yang awalnya dapat beasiswa ke Aussie, sudah ditunjukkan eyang Pomo Peta Aussie, dekat. Tetapi Sang Ibu tetap tidak mengizinkan. Kata Sang Ibu, tidak tega anak pergi jauh2 "nanti kalo gak punya uang saku bagaimana cara ibu mau kasih kamu uang". Akhirnya mbah buyut (Sang Ibu) Wonosari, tak lama setelah itu wafat. Jadi, eyang berangkatlah ke jakarta. Gak taunya, eyang dapat kabar bahwa dapat beasiswa S2-S3 di Cornell New York. Lalu eyang ambil sekalian aja ke situ, yg jauh sekalian. Tidak jadi ke Aussie. Dulu kata eyang Pomo, eyang tidak mahir bahasa Ing...

Kereta dan Roti Aroma Kopi

Pada sebuah sore, aromanya menempel di kerah-kerah baju. Benar kata salah satu kawan baru, jika tidak beli maka rasa dari roti itu akan terus terngiang-ngiang sampai besok lusa. Roti yang katanya aroma kopi meskipun di dalamnya ada pecahan keju yang lumer. Yang paling menyenangkan adalah beli dua dan mendapatkan tiga. Hari itu, lahir sebuah firasat. Seorang berkaos lengan panjang mengenakan topi baret warna hitam menenteng tas agak banyak. Biasanya berisi buku tulisannya yang akan dibagi-bagikan. Kami bertemu. Pertemuan yang tidak disengaja dan bukan seperti biasanya. Sebuah roti berbungkus warna kuning di tangan masing-masing. Bertatapan lama dan saling terbahak menertawakan firasat sore itu. Ada dua buah kereta dengan tujuan berbeda. Satu kereta menuju perjalanan biasanya dan satu lagi mengantarkan pada tugas negara. Kami berpisah di stasiun tua, stasiun yang kini kami sama-sama lupa kabarnya. Dia pergi lebih dahulu menenteng tas yang banyak jumlahnya dan masuk kereta eksklusif denga...