Langsung ke konten utama

Malam ini, dia menggangguku.


Luasnya hati tetap tak bisa menampung satu perasaan yang di dalamnya berdiri tegak seseorang dengan ketulusan yang dimiliki. Mata kejujuran yang ia sampaikan dalam kata perkamen warna tanah.

Ia sempat berbincang masalah hati yang kemudian menyapu aroma kesepian dan keganjalan mengenai kata. Ia melanjutkan dengan nada penyesalan di akhir baris. Jika saja malam itu ada yang menepati janji untuk datang tepat waktu.

Senja berkata yang sebenarnya, ia tidak bisa membantu menemani menunggu. Padahal, di balik awan, hujan terburu turun. Masih ingat senyumnya yang masih basah di ingatan? Jika saja manusia kecil itu menyatakan lelah, maka ku akan menemaninya sampai kotanya. Jika saja manusia jujur itu memintaku menginap, aku akan berjanji dengan sepenuh hati. Bahkan, jika ia memintaku menggantikannya, aku akan melakukannya.

Ketakutan?

Bahkan aku ketakutan menanyakan kabarnya, sampai dimana dan bagaimana ia menjalani harinya. Ketika rasa ini tiba-tiba datang.

Hujan menyapu rindu, di semak-semak, di teras keramik licin, bahkan di benakmu yang penakut. Aku datang dengan angka nol sedangkan aku pulang membawa gumpalan perasaan yang kutak mampu bendung. Jika saja, dan jika saja.

Pertanyaan jika saja menjadi viral sementara hatiku terpaut jauh dari benak tentangmu. Kedatanganku, mendekatimu, menyapu kesendirianku sendiri.
Berlalu dari rasa kehilangan yang menggelayut di mimpiku, kenapa aku merelakan pintu ini diketuk olehmu.

Dulu kau sempat hadir menyapa, dan kita berlalu dengan sendiri-sendiri. Ketika rindu ini merekah sendiri, aku rasa ini lebih nyata dari hadirmu. Ku buka catatan lama kita, aku tersedu. Ngilu rasanya membaca teks yang kau kirim sewaktu kau kenalku tuk yang pertama kali. Aku nyaman dengan segala utuhmu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Senin Malam

Tidak jauh dari jalan besar, sebuah mobil patroli polisi dengan suara dari pengerasnya melantang. Tidak ada suara lain yang membuyarkan malam selain bising-bising itu. Makin jauh makin hilang. Beberapa hewan kembali merintih kedinginan di balik kayu-kayu besar dan belukar. Sekali-dua kali rel beku kereta api menderu dan mendesis kepanasan diguyuri lokomotif dengan kecepatan penuh. Hawa dingin dari pohon-pohon berdaun lebat menyisakan banyak ruang sepi yang sengaja disiapkan untuk pagi yang silau. Lorong panjang dalam kereta yang memancarkan lampu remang berkilat berbarengan dengan deru laju. Tiba-tiba angin semilir beradu mau. Membisikkan cerita dari kota ke kota. Malam makin larut dan getir kenangan siang tadi masih nenyesakkan pipa-pipa saluran saraf ke otak. . Akan ada yang datang jika seseorang memutuskan untuk pergi.

Prof. Soepomo Poedjosoedarmo

Beliau linguis. Beliau bertempat tinggal di Jalan Kaliurang 4.5 Jogjakarta dan lahir di Wonosari, Gunungkidul. Beliau S-2 dan S-3 di Cornell, lalu menikah dengan orang New York (namanya Gloria Poedjosoedarmo) istrinya juga seorang linguis dan sempat mengajar di UGM. Beliau yang kemudian bersedia tinggal di Indonesia. Istri pertama Eyang Prof. Pomo telah meninggal ketika itu. Eyang dulu dilarang oleh Sang Ibu yang dari wonosari, yang awalnya dapat beasiswa ke Aussie, sudah ditunjukkan eyang Pomo Peta Aussie, dekat. Tetapi Sang Ibu tetap tidak mengizinkan. Kata Sang Ibu, tidak tega anak pergi jauh2 "nanti kalo gak punya uang saku bagaimana cara ibu mau kasih kamu uang". Akhirnya mbah buyut (Sang Ibu) Wonosari, tak lama setelah itu wafat. Jadi, eyang berangkatlah ke jakarta. Gak taunya, eyang dapat kabar bahwa dapat beasiswa S2-S3 di Cornell New York. Lalu eyang ambil sekalian aja ke situ, yg jauh sekalian. Tidak jadi ke Aussie. Dulu kata eyang Pomo, eyang tidak mahir bahasa Ing...

Kereta dan Roti Aroma Kopi

Pada sebuah sore, aromanya menempel di kerah-kerah baju. Benar kata salah satu kawan baru, jika tidak beli maka rasa dari roti itu akan terus terngiang-ngiang sampai besok lusa. Roti yang katanya aroma kopi meskipun di dalamnya ada pecahan keju yang lumer. Yang paling menyenangkan adalah beli dua dan mendapatkan tiga. Hari itu, lahir sebuah firasat. Seorang berkaos lengan panjang mengenakan topi baret warna hitam menenteng tas agak banyak. Biasanya berisi buku tulisannya yang akan dibagi-bagikan. Kami bertemu. Pertemuan yang tidak disengaja dan bukan seperti biasanya. Sebuah roti berbungkus warna kuning di tangan masing-masing. Bertatapan lama dan saling terbahak menertawakan firasat sore itu. Ada dua buah kereta dengan tujuan berbeda. Satu kereta menuju perjalanan biasanya dan satu lagi mengantarkan pada tugas negara. Kami berpisah di stasiun tua, stasiun yang kini kami sama-sama lupa kabarnya. Dia pergi lebih dahulu menenteng tas yang banyak jumlahnya dan masuk kereta eksklusif denga...