
Luasnya hati tetap tak bisa menampung satu perasaan yang di dalamnya berdiri tegak seseorang dengan ketulusan yang dimiliki. Mata kejujuran yang ia sampaikan dalam kata perkamen warna tanah.
Ia sempat berbincang masalah hati yang kemudian menyapu aroma kesepian dan keganjalan mengenai kata. Ia melanjutkan dengan nada penyesalan di akhir baris. Jika saja malam itu ada yang menepati janji untuk datang tepat waktu.
Senja berkata yang sebenarnya, ia tidak bisa membantu menemani menunggu. Padahal, di balik awan, hujan terburu turun. Masih ingat senyumnya yang masih basah di ingatan? Jika saja manusia kecil itu menyatakan lelah, maka ku akan menemaninya sampai kotanya. Jika saja manusia jujur itu memintaku menginap, aku akan berjanji dengan sepenuh hati. Bahkan, jika ia memintaku menggantikannya, aku akan melakukannya.
Ketakutan?
Bahkan aku ketakutan menanyakan kabarnya, sampai dimana dan bagaimana ia menjalani harinya. Ketika rasa ini tiba-tiba datang.
Hujan menyapu rindu, di semak-semak, di teras keramik licin, bahkan di benakmu yang penakut. Aku datang dengan angka nol sedangkan aku pulang membawa gumpalan perasaan yang kutak mampu bendung. Jika saja, dan jika saja.
Pertanyaan jika saja menjadi viral sementara hatiku terpaut jauh dari benak tentangmu. Kedatanganku, mendekatimu, menyapu kesendirianku sendiri.
Berlalu dari rasa kehilangan yang menggelayut di mimpiku, kenapa aku merelakan pintu ini diketuk olehmu.
Dulu kau sempat hadir menyapa, dan kita berlalu dengan sendiri-sendiri. Ketika rindu ini merekah sendiri, aku rasa ini lebih nyata dari hadirmu. Ku buka catatan lama kita, aku tersedu. Ngilu rasanya membaca teks yang kau kirim sewaktu kau kenalku tuk yang pertama kali. Aku nyaman dengan segala utuhmu.
Komentar
Posting Komentar