Kita punya
sebuah kotak ruangan yang di sisi sebelah kanan penuh dengan jendela kayu
tua. Tiap jendela memiliki aksen kotak
sempurna dengan gradasi menipis di tengahnya. Empat jendela di sisi kanan, dan
dua jendela di sisi kiri. Tidak seluas sebelah kanan, karena di sebelah kiri
ada pintu yang menjulang tinggi sampai ujung tembok depan. Pintu itu tanpa
ukiran, hanya saja dua kotak besar menjadikannya motif di antara warna abu tua
yang catnya sedikit luntur karena cuaca.
Batu ubin
dari campuran pasir, semen, dan sebagainya yang dicampur menjadi bilah-bilah
tegel per 20 cm berwarna abu kelam hitam. Ubin adem yang memberi efek gelap di
ruangan ini tidak akan memantulkan cahaya matahari meski terik. Beberapa hiasan
keramik kecil berjajar rapi dari ujung barat lemari ke pangkal satunya. Di sela-selanya
ada beberapa pigura berisi foto sepasang kasih. Bahkan boneka kecil juga
menduduki sela yang sebenarnya tidak pas, namun bisa dirasakan sebuah cerita
tiap elemennya.
Ujung ruang
besar ini berupa kerucut ke atas. Di atasnya menancap pengait listrik untuk
dialurkan ke dalam rumah. Genting-gentingnya yang mulai lengser sedikit
berwarna cokelat pudar. Beberapa sudah berupa puing. Warna yang tidak harmoni
malah membuatnya terlihat serasi.
Hingga pagi
itu, kau masih memelukku. Beberapa kali kau mencoba melepas pelukku, ku tahan. Kembali
kurengkuh dua tanganmu yang menelungkupiku. Aku mulai melepasnya ketika kau
cium kedua punggung jariku dengan perlahan.
Kapan kau
akan mulai bercerita tentangku di awal bangunmu? Bahkan melihat seringai
mentari kau memilih senyumku. Di sela jemari tanganmu, kau selingkan tanganku
dan sambil berbisik lirih mengenai nada-nada cinta pada radio di pojok kamar
yang agak melebar. Di pagi ini, kau membelai rambutku dalam angan yang kau
dendangkan pada lirik akhir sebuah lagu cinta.
Pujangga menuliskan
lirik di baris bait terakhir untuk menggambarkan sebuah kemesraan. Setiap suku
kata seperti menari di kening manis yang kau sibak perlahan. Tidak kau kecup
meski aku merasa ingin, tidak kau belai meski aku menaruh mau. Tapi kau
jentikkan perlahan tanganmu di jidatku, aku merintih pura-pura kesakitan. Kita menahan
tawa bersama.
Kapan terakhir
kau melafalkan janji cinta setelah tiap pagi? Tentu pagi selanjutnya. Kau tidak
bosan menyatakan kerinduan meski itu bukan hal baru. Di satu kalimat terakhir,
kau menatapku dalam dan kita berlabuh dalam bisu. Kita pun menyelesaikan tiap
pagi dengan cara yang sama. Apakah cinta yang menjadikannya satu, ataukah satu
yang membuat cinta makin erat? Jawabnya adalah kita.
Kau pasti ingat
oleh-oleh darimu kemarin sore. Sebuah boks berisi kelombeng (sejenis roti)
dengan vla yang dibuat dari susu, kuning telur, gula dan cokelat serta aroma
lainnya. Kau perlu tahu, aku suka rasanya, gurih dan empuk. Aku tidak yakin ini
kau beli di toko roti salemba yang selalu ku suka. Kau memang penuh kejutan. Masih kusisakan di
bagian bawah kulkas sebelah kiri untukmu jika kau mau. Inginku, agar kau bisa
ikut merasakannya.
Kau beranjak
dari sofa yang kita gunakan untuk beradu mata.
Ku genggam
tanganmu, sembari mataku meminta tuk jangan pergi. Singgahlah sebentar,
menemaniku untuk menghabiskan sedikit pagi ini. AKu ingin kau tetap bersamaku
meski mentari beranjak pergi. Namun kau menolak mata manjaku. Dan yang paling
tak bisa kulupakan adalah senyummu menyungging sedikit, bahkan aku tak ingin
membaca apapun dari mata itu. Kau memang nakal, mata itu merayuku lagi!
Apa kau
tahu? Ketika kau pergi menjauh? Aku melirik pantat manismu yang seperti
menggelinding pergi bola bakso raksasa. Maafkan aku!

Komentar
Posting Komentar