Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2016

FLAKON DAN POHON SEPAH PUN MENYIMPAN RAHASIA

“ Cukup ! Sudah seharusnya hening yang kita cipta mengalah di frasa terakhir alinea penutup ini.” Mungkin bebek tak lagi sedia mendekap masa-masa lalu di jajaran kenangan para bebatuan. Para bebatuan lupa membentuk perspektif. Sudut pandang kalut pada rasa yang mereka pendam di waktu yang terkata lama. Waktu bersilih, angan berganti, dan bebatuan beristighfar. .......................... Batu memiliki jiwa dalam masing-masing kesendiriannya. Kadang mereka sempat bercakap mengenai mitos dan elegi di kisah kedua sampai perbincangan berakhir di flakon-flakon kotor yang terserak di belah sisi kanan mereka. Flakon terbesar terisi air hujan, pada deras beberapa kali yang lebat. Endap tanah, lumut ringan, karat-karat kaca menjadi motif ringan para pembeda di merek yang sama. Kepergian dalam waktu yang terlalu tiba-tiba! Ia memutuskan untuk menyisakan isak dan sedikit sendu di pojok kanan jantung yang masih dibiarkan kosong untuk sementara waktu. Beberapa arteria berperan mah...

Korban Imajiku Tentang Adamu

Jogja, malam minggu, hujan, dan radio prambors. Lampu kamar mandi nyala temaram kekuningan. Jendela dibiarkan terbuka bercelah agak lebar. Minggu lalu, kecoa varian terbang bercangkang emas lolos masuk kamar melaluinya. Butuh nyali untuk membuatnya binasa! Di seberang kamar, ada yang kebingungan hendak menunaikan tugas penting sebagai diri dan pembawaan kekeluargaan. Hujan yang ia prediksi bakal menentukkan arah dan tujuan. Motor masih terparkir di luar pintu keluar. Sudah bentuk petanda, ia akan keluar lagi meski belum pasti. Biasanya ia tidur dan pada tengah malam kubangunkan demi memasukkannya. Tiba-tiba Coldplay menggitari lirik Up and Up mengindikasikan suksesnya malam yang makin sendu. Kadang malam sendu diciptakan Tuhan dengan lantaran radio prambors dan kipas angin menyala skala kecepatan 3. Apa kabarmu yang jauh di tempat sana? Di kota yang dingin dan penuh cerita. -Tempat yang susah kuraih- Oh, iya. Memang huruf A bisa menjadikan Api, Air, dan Angin. Urutan tiga unsur yang...

Opini Para Pena

Entah kapan saat pertama kali kau memutuskan untuk membuka surat ini. Setidaknya, izinkan aku mengelak, dan mengatakan bahwa bukan aku yang menulisnya. Tulisan ini memang ideku, semuanya sudah dalam barisan alfabetis dan deret ukur ketentuan di awal yang kita sepakati beberapa dekade silam. Surat ini tidak akan berbicara mengenai diksi-diksi perpisahan lawas, atau susunan kata puitis dengan sajak yang bergantung pada ritme yang ditentukan. Semua kata dalam bait ini, tertulis rapi dengan skema yang jauh lebih taktis. Jika pena dalam bait yang kutulis ini berkuasa untuk bicara dan menyampaikan kejujurannya, maka ia akan berkata lain. Mungkin ia mengaduh-mengeluh dan beropini bebas mengenai kata per kata yang kurangkai! Semua demi membuktikan para kebohongan ini benar adanya. Para pena liar menyebutkan kata per kata dalam paragraf yang jauh lebih sepi. Opini para pena! Kurang lebih begini asumsinya! ……… Hai Serangga, Kuda-kuda liar, dan Bebek yang berarak di pelipir sawah. ...

Malam Pertaruhan: Janji Tua di Lorong Peron

Persimpangan jalan aspal aus berlumur oli bekas meyakinkan masing-masing dari kita untuk melajukan kembali arah dan tujuan. Setiap sela perjalanan kau ceritakan buih-buih mesra antara perapian dan dingin yang menyergap di ruang tamu berkarpet bahan katifah lembut-halus. Karpet hijau lumut dengan aksen kuning kalem. Beberapa ruas ventilasi yang tidak tertutup apapun menjadi pintu masuk rahasia angin malam. Angin menusuk bagian tengkuk, merinding. Kaki-kaki kaku meringkuk dan masuk ke dalam selimut. Beberapa cahaya menembus bagian depan rumah melalui celah lubang kunci lawas. Di beberapa sudut ruang, menggelambirkan gorden-gorden yang senteng, kurang panjang sedikit. Topi bulat sirkus dan mantel-mantel tebal juga menggelantung mantab di rak kayu pelitur tua. Musim tropis! Saraf-saraf penyambung para sel tubuh mulai kendur di angka-angka seperti ini. Jari-jemariku mulai pegal karena dingin yang menusuk tidak karuan mainnya. Bahkan ujung para jari sampai tidak terasa utuh. B...

Di Sebuah Altitud dan Gubuk Tua

Hallo, selamat pagi hey pemuja kesendirian. Tadi malam aku berada di ufuk ketakutan ku akan dirilku sendiri. Aku membayangkan diriku di antara gelap pekatnya belantara dan dikelilingi awan dingin. Rasa yang sampai saat ini masih menusuk bagian tertentu kulitku. Pagi ini, di antara embun yang berbaris rapi, di kala rintihan burung-burung perkutut di sangkar  tua, dan di antara ulu hati serta paru-paru. Aku berjanji aku akan melupakanmu. Kemarin, aku membawamu ke hutan pohon jati saat bulan purnama. Disana, aku benar-benar merasakan kesakitan yang mendalam, penuh luka dan trauma. Kini, aku sudah merasakan kepulanganku di gubuk kecil tengah sawah dan empang berwarna hijau lumut. Apakah kau tau? Tadi malam saat kudengar suaramu di antara jajaran pohon jati, aku duduk menepi pada salah satu jati terbesar dan diam. Aku diam dalam waktu yang cukup lama. Dan kau perlu tahu. Aku menaruh kenangan kita di antara semak belukar dan aku memilih yang paling jauh dari jangkauan ma...

Malam Kemarau di Hutan Pohon Jati

Hari ini aku tengah giat belajar untuk melupakanmu. Dengan cara beberapa kali aku menghindari aktivitas denganmu atau bahkan tidak lagi memandang fotomu seperti penantianku kemarin sore. Hari ini aku belajar banyak dari tiap kenangan yang sebenarnya biasa saja. Kamu pun lumayan banyak online dibandingkan hari sebelumnya. Aku memandangi kontak whatsapp mu demi memastikan apa yang sedang kau lakukan. Rindu? Tentu iya. Bahkan aku menahan untuk tidak mengetik sepatah huruf pun demi menyukseskan program move-on ku dari kamu! Program move-on ini kutulis dalam deretan yang agak panjang, agar aku segera menyadari hadirmu bakal segera kulupakan. Hadirmu saja sudah membuatku berantakan, mendengar suaramu setengah berbisik apa lagi. Aku berantakan, porak poranda. Seperti pohon jati yang berguguran di musim kemarau. Rontok! Luluh! Lantak! Kering! Apakah kau tahu, bagaimana ujudnya hutan pohon jati di malam hari kala purnama? Bentuknya sangat menyeramkan! Aku akan coba untuk mendeskri...

Angin Membawamu dan Meninggalkanku.

Bagaimana bisa aku mengaku mencintai air dan goresan senja di antaranya, jika sampai saat ini aku belum bisa menggambarkan benciku pada angin. Aku membenci angin dengan bagaimana pun caranya ia beradaptasi dalam tiap gelombang elektromagnetik. Ia bahkan kedar bersama tiap halusinasi manusia di mana pun mereka berada. Di antara sisi-sisinya, angin juga melampiaskan senti demi senti mantera pertahanan kuat dalam menghalau sihir para pemilik sejarah. Aku membenci angin dengan pelbagai bentuk dan warnanya. Sering kali ia menunjukkan diri dengan kekuatan dan arogansi para pemegang elemen kehidupan manusia.  Angin menerjang, membelai sepoi, menyentuh rengkuh, bahkan memeluk sejuk. Aku membenci angin seketika Kau tidak memberiku kabar maghrib ini. Maghrib ini kembali ku sendirian ditemani para gembala perjalanan panjang. Saat ini, waktu seperti ingin menyampaikan perselingkuhan antaramu dan para bedebah. Beberapa hari yang lalu, temanku berteori tentang relativitas defi...

Aku dan Para Penjaga Bersedia

Embun pagi kali ini lebih lebat. Pekatnya menutupi pandangan di antara tinggi dataran di atas gedung-gedung menjulang rendah. Beberapa erat masuk ke sela lubang hidung yang tergenang air mata semalam. Kemudian, ada isak tangis yang masih terasa. Di luar, sedikit demi sedikit semburat kuning menelusuri celah pohon-pohon lebat berkayu sisik. Pandanganku masih lurus ke depan, sesekali menengok ke arah spion dan membuang ke kanan-kiri semaunya. Bodo amat pada rasa dingin yang menusuk-nusuk setiap pori yang menganga. Kemudian mengusap kaca samping, demi memperjelas pandangan. Pixel pada tipologi jalanan ibu kota menunjukkan kerekatan ganda. Masing-masing terlihat jernih dan makin ketara dengan jelas. Begitu pula bayangan dirimu di antara warna cat kuning tembok pada emper toko yang jaraknya sekitar tiga blok dari area utama. Bayanganmu kembali lepas seperti anak panah. Kehadiranmu masih dicurigai oleh para penjaga masa lalu. Jejak langkahmu di waktu kemarin terbaca oleh mereka. Saa...

Pembuka Cerita Pagi

Kita punya sebuah kotak ruangan yang di sisi sebelah kanan penuh dengan jendela kayu tua.  Tiap jendela memiliki aksen kotak sempurna dengan gradasi menipis di tengahnya. Empat jendela di sisi kanan, dan dua jendela di sisi kiri. Tidak seluas sebelah kanan, karena di sebelah kiri ada pintu yang menjulang tinggi sampai ujung tembok depan. Pintu itu tanpa ukiran, hanya saja dua kotak besar menjadikannya motif di antara warna abu tua yang catnya sedikit luntur karena cuaca. Batu ubin dari campuran pasir, semen, dan sebagainya yang dicampur menjadi bilah-bilah tegel per 20 cm berwarna abu kelam hitam. Ubin adem yang memberi efek gelap di ruangan ini tidak akan memantulkan cahaya matahari meski terik. Beberapa hiasan keramik kecil berjajar rapi dari ujung barat lemari ke pangkal satunya. Di sela-selanya ada beberapa pigura berisi foto sepasang kasih. Bahkan boneka kecil juga menduduki sela yang sebenarnya tidak pas, namun bisa dirasakan sebuah cerita tiap elemennya. Ujung r...

Perang di Akhir Baris Para Sondanco (Cerita dalam Strategem)

Film-film zaman dahulu tidak membicarakan perang di pantai, biasanya di hutan atau di tengah laut lepas. Mana ada sutradara yang berani menanam ranjau di putih buih pasir? Karena setiap orang memiliki cerita di pantai, si bibir laut. Siapa yang berani memainkan kata? Selain para pemula perang dengan pedang di tangan kanan, dan sebotol racun pada ujung belati di tangan sebelah kiri. Yang semula kata-kata prolog tentang perbincangan persaudaraan masa lalu yang pasti berujung cerita sedih salah satu. Mereka mulai membahas mengenai awal dan akhir, hingga mereka menyatakan kebencian masing-masing aktor dalam dunia nyata. Kadang salah satu rela membongkar nafsu dunia demi menjunjung kebenaran diri. Sebotol sampanye dari sari anggur terbaik dituangkan sedikit demi sedikit pada perbincangan menuju tengah malam. Apa yang terlihat selain rasa canggung dalam diri masing-masing. Perang sebelumnya belum usai, sesuai janji dalam meja prasasti yang sengaja dibeli akhir waktu masa ...

Perjalanan Malam

Kapan kau mulai menyadari adaku? Atau hanya aku yang termangu terlalu lama, duduk termenung, lantas diam saja di benakmu. “Kamu sedang apa?” Di saat-saat terakhir perpisahan malam itu, aku sedih dan melihat ke luar kaca mobil. Aku bahkan selalu menunggumu memulai percakapan masalah perkamen tua di lorong perpustaakaan angker pojok kanan atas. Rak-rak buku menjadi saksi bisunya saat itu, aku menunggu dan kau enggan memulai. Laju kendaraan masih pelan-pelan, keluar dari pintu pajak yang semua orang rela mengantre demi keluar dari ruang tunggu searah. Sesekali aku sengaja melirikmu, menyamakan irama pandangan, dan mencoba memasuki sesuatu yang tidak aku ketahui. Perlahan kau mengambil alih perhatian dan aku salah tingkah. Kau bertanya, “Ada apa?”. Tangkasku selalu sama, “Tak apa,” jawaban ini akan aku pertahankan sampai perjalanan berakhir. Sore itu, kita sepakat untuk saling menunggu tanpa konfirmasi siapa yang memulai. Senja menyamarkan wajahmu, meski lelahmu masih terl...

Malam ini, dia menggangguku.

Luasnya hati tetap tak bisa menampung satu perasaan yang di dalamnya berdiri tegak seseorang dengan ketulusan yang dimiliki. Mata kejujuran yang ia sampaikan dalam kata perkamen warna tanah. Ia sempat berbincang masalah hati yang kemudian menyapu aroma kesepian dan keganjalan mengenai kata. Ia melanjutkan dengan nada penyesalan di akhir baris. Jika saja malam itu ada yang menepati janji untuk datang tepat waktu. Senja berkata yang sebenarnya, ia tidak bisa membantu menemani menunggu. Padahal, di balik awan, hujan terburu turun. Masih ingat senyumnya yang masih basah di ingatan? Jika saja manusia kecil itu menyatakan lelah, maka ku akan menemaninya sampai kotanya. Jika saja manusia jujur itu memintaku menginap, aku akan berjanji dengan sepenuh hati. Bahkan, jika ia memintaku menggantikannya, aku akan melakukannya. Ketakutan? Bahkan aku ketakutan menanyakan kabarnya, sampai dimana dan bagaimana ia menjalani harinya. Ketika rasa ini tiba-tiba datang. Hujan menyapu ri...

Punya cerita tentang LGD Beasiswa LPDP?

Benar-benar tidak menyangka! Leaderless Group Discussion (a.k.a LGD) 4A Jogja bisa membawa kami pada sebuah ikatan kekeluargaan yang erat! PK 51 (Caca) PK53 (Nuvi), PK54 (Sari), PK55 (Wulan) dan PK56 (Memet), PK58 (Begi), dan PK61 (Anto) "Revisi Undang-undang KPK" merupakan tema yang kita diskusikan. Kami tidak ada yang ahli hukum atau memahami dengan mendalam mengenai KPK apalalagi aturan yang menaunginya! Simpulannya adalah perlu indepensi dan penguatan kekebalan pada badan tubuh KPK. Di sisi lain, KPK perlu memberikan keleluasaan kepada masyarakat Indonesia untuk menilai langsung kinerjanya. Aspek yang perlu ditingkatkan oleh KPK adalah beberapa prakondisi pelaksanaan, monitoring dan evaluasi pada pascapelaksanaan. Abaikan yang lain! Btw guys, kalian hebat! Sukses untuk UCL, Belanda, dan Inggris-nya kalian. Doakan aku juga berhasil disini. Tidak lupa juga salam kangen untuk Pramudya Ananta yang lagi PK61, Wulan Oktabriyantina PK 55 yang sedang di Lampung, BegiBalqis...

Apakah anda sedang mencari Ardiana Hanatan atau Ardirani Rensyta?

Ya.. mungkin mereka ada disini! males cerita panjang-panjang, sejauh yang ku tahu mereka baik.  Mengenal mereka baru kisaran Desember 2015, baru saja bukan..  Kami berdomisili di lokasi yang sama... Surakarta... Ardirani Rensyta, a.k.a RENSY adalah lulusan UGM dan melanjutkan di ANU Australia sedangkan  Ardiana Hanatan a.k.a ADIN adalah lulusan pendidikan fisika UNS Solo. Ketika mengunggah foto-foto ini sejatinya aku sambil mendengarkan lagunya Ed Sheeran yang judulnya photograph. Kenapa?  Karena Juni ini (2016) Rensy akan berangkat ke Australia, namun di saat itu pula persahabatan kami makin erat. Bagaimana kami tidak saling rindu! SHIT! Bakalan kangen banget...  Loving can hurt Loving can hurt sometimes But it's the only thing that I know When it gets hard You know it can get hard sometimes It is the only thing that makes us feel alive We keep this love in a photograph We made these memories for ou...

Syalalalalala

Ah... iseng upload foto ah.... ini adalah perjalananku ke landasan gantole WONOGIRI.... Narsis? Emang iya, ya kali umur 80 masih bisa naik kesini lagi.. pumpung masih muda, si calon doktor ini upload kebanyakan.. see you FANS!!!! hahahha

Sepenggal, jangan sampai mati

Ada kalanya merindu pada masa yang membawa perjalananku jauh lebih panjang! Tahun lalu, ketika diberi kesempatan mengajar di salah satu kampus kebidanan di Yogyakarta pada hari Selasa, Rabu, dan Jumat (pukul 13.00), sedangkan di Solo punya jam mengajar Senin, Kamis, dan Jumat pagi. Bangun di fajar hari dan memiliki rutinitas sholat subuh di Klaten -sampai saat ini masjid agung itu usai dibangun- adalah pengalaman yang menyenangkan. Capek? Iya, terutama ketika hendak memulai perjalanan. Namun ketika ujung kedua headset telah menancap erat di kedua sisi lubang telinga, ketika menghirup udara subuh yang menyejuk, dan ketika Alloh memberi kode tentang alam-alamNya yang bernuansa, seketika itu pula semua lelah luluh menyatu dalam jiwa. Menjadi pendidik, bukanlah satu-satunya keinginan yang menjadi cita. Jauh lebih tinggi mimpiku kala itu, menjadi akuntan atau ekonom di sebuah perusahaan dengan menyandang setelan jas warna hitam, sepatu mengilat, dasi rapi, dan rambut klimis. --------- Hari ...

yah.. Males upload juga

HALLO... Sekadar share foto-foto perjalanan Solo-Semarang-Kendal-Pekalongan-Pemalang-Tegal-Brebes-Cirebon-Cikampek-Bekasi-Jakarta-Tangerang-Banten-Cilegon-Bakauheni-Kalianda-Bandar Lampung-Pringsewu-Tenggamus